Sejak 2013, pemuda asal Polewali Mandar ini memilih jalan sunyi menjaga pesisir. Sekitar 30 hektare mangrove telah ditanamnya di Mampie, Manding, dan Binuang. Ia juga mendirikan Rumah Penyu Mampie sebagai ruang edukasi dan konservasi.
PAGI di pesisir Mampie selalu menyimpan cerita. Di antara hamparan pasir, suara ombak, dan rimbunnya vegetasi pantai, kehidupan berjalan dalam ritme yang kadang luput dari perhatian. Di tempat seperti inilah Yusri menemukan panggilan pengabdiannya.
Lebih dari satu dekade lalu, tepatnya sejak 2013, Yusri mulai aktif menanam mangrove. Ia bukan sekadar datang membawa bibit, menancapkannya ke tanah, lalu pergi. Baginya, menanam adalah awal dari pekerjaan panjang: merawat, mengawasi, mengedukasi masyarakat, dan memastikan tanaman yang telah tumbuh tetap menjadi bagian dari ekosistem pesisir. Dari satu titik ke titik lainnya, aktivitas itu terus dilakukan. Hingga kini, kawasan mangrove yang telah ditanam Yusri bersama masyarakat mencapai sekitar 30 hektare, tersebar di wilayah pesisir Mampie, Manding, dan Binuang, Kabupaten Polewali Mandar.
Pekerjaan yang dilakukan selama bertahun-tahun itu kemudian membawa Yusri memperoleh penghargaan Wahana dari Kementerian Lingkungan Hidup. Namun, penghargaan tersebut bukanlah akhir dari perjalanannya, justru dari pesisir Mampie, Yusri terus memperluas kerja konservasinya. Ia kemudian mendirikan Rumah Penyu Mampie, sebuah ruang yang menjadi bagian dari upayanya mengenalkan pentingnya perlindungan penyu dan ekosistem pesisir kepada masyarakat, terutama generasi muda.
Bagi Yusri, mangrove dan penyu bukan dua cerita yang berdiri sendiri. Keduanya adalah bagian dari ekosistem pesisir yang saling berhubungan dan membutuhkan perlindungan bersama.
Dari Bibit Mangrove hingga Gerakan Lingkungan
Ketika pertama kali memulai kegiatan penanaman mangrove pada 2013, mungkin tidak banyak yang membayangkan bahwa kegiatan tersebut akan menjadi perjalanan panjang. Menanam pohon membutuhkan kesabaran apalagi menanam di kawasan pesisir. Bibit yang ditanam tidak selalu tumbuh. Sebagian bisa rusak karena kondisi lingkungan, gelombang, atau aktivitas manusia. Bibit yang bertahan pun membutuhkan waktu untuk berkembang menjadi vegetasi yang mampu memberikan manfaat ekologis. Namun, kondisi tersebut tidak membuat Yusri berhenti. Ia terus menanam dan mengajak masyarakat untuk terlibat.
Dari kegiatan penanaman tersebut, tumbuh sebuah kesadaran bahwa menjaga pesisir tidak dapat dilakukan seorang diri. Masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan harus menjadi bagian dari proses.Yusri kemudian tidak hanya membawa bibit mangrove, tetapi juga membawa pengetahuan. Ia mengedukasi masyarakat mengenai fungsi mangrove dan pentingnya menjaga kawasan pesisir. Menurut cara pandangnya, keberhasilan sebuah gerakan lingkungan bukan hanya diukur dari banyaknya pohon yang ditanam, melainkan dari kemampuan masyarakat mempertahankan dan merawatnya karena itu, aktivitas Yusri berlangsung dalam dua jalur sekaligus: aksi dan edukasi. Aksi dilakukan melalui penanaman dan perawatan mangrove. Edukasi dilakukan melalui komunikasi dengan masyarakat, terutama mereka yang hidup dan beraktivitas di kawasan pesisir. Dua hal tersebut kemudian menjadi fondasi dari perjalanan Yusri sebagai pegiat lingkungan.
30 Hektare yang Menjadi Jejak Pengabdian
Sekitar 30 hektare kawasan mangrove yang telah ditanam merupakan angka yang menggambarkan perjalanan panjang kawasan tersebut tersebar di Mampie, Manding, dan Binuang. Jika dilihat sekilas, angka 30 hektare mungkin hanya terlihat sebagai data. Tetapi di balik angka tersebut terdapat proses panjang yang tidak selalu terlihat ada bibit yang harus disiapkan, ada lokasi yang harus dipilih. Ada proses penanaman, ada bibit yang harus diganti ketika tidak tumbuh, ada tanaman yang harus dipantau dan ada masyarakat yang harus terus diyakinkan bahwa menjaga mangrove merupakan kepentingan bersama.
Mangrove memiliki posisi penting dalam ekosistem pesisir. Vegetasi ini berperan sebagai salah satu benteng alami kawasan pantai, menyediakan habitat bagi berbagai organisme, serta menjadi bagian dari rantai kehidupan masyarakat pesisir karena itu, ketika Yusri menanam mangrove, sesungguhnya ia tidak hanya menanam pohon ia sedang berusaha memperkuat ruang hidup ia menanam untuk kawasan pesisir yang lebih terlindungi. Ia menanam untuk keberlanjutan ekosistem dan ia menanam agar generasi berikutnya masih dapat menikmati lingkungan pesisir yang sehat.
Pekerjaan semacam ini sering kali tidak menghasilkan sesuatu yang dapat langsung dilihat dalam waktu singkat, mangrove membutuhkan waktu untuk tumbuh. Namun, justru di situlah nilai dari kerja Yusri ia memilih melakukan sesuatu yang manfaat besarnya mungkin baru akan dirasakan bertahun-tahun kemudian.
Rumah Penyu Mampie, Rumah untuk Belajar tentang Konservasi
Perjalanan Yusri tidak berhenti pada mangrove di Mampie, ia juga dikenal sebagai founder Rumah Penyu Mampie. Dia memperluas aktivitas konservasi yang selama ini dilakukan. Jika mangrove menjadi salah satu fokus utama perjuangannya dalam menjaga vegetasi pesisir, penyu menjadi bagian lain dari upaya menjaga keanekaragaman hayati di kawasan tersebut. Rumah Penyu Mampie menjadi ruang untuk memperkenalkan isu konservasi kepada masyarakat di tempat ini. Pesan mengenai lingkungan dapat disampaikan dengan cara yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat. Bagi Yusri, penyu bukan sekadar satwa yang hidup di laut. Kehadirannya menjadi salah satu penanda pentingnya menjaga ekosistem pesisir dan laut. Karena itu keberadaan Rumah Penyu Mampie memiliki arti lebih luas daripada sekadar tempat konservasi. Ia dapat menjadi ruang belajar bagi masyarakat untuk memahami bahwa perlindungan satwa dan perlindungan lingkungan merupakan dua hal yang saling berkaitan bagi anak-anak dan generasi muda. Ruang semacam ini juga dapat menjadi pintu masuk untuk mengenal lingkungan mereka sendiri, mereka tidak harus pergi jauh untuk belajar mengenai konservasi. Mereka dapat belajar dari pantai yang ada di sekitar tempat tinggal. Mereka dapat melihat bagaimana mangrove tumbuh. Mereka dapat mengenal penyu dan dari sana, tumbuh pertanyaan sederhana: apa yang bisa dilakukan untuk menjaga semua itu? Pertanyaan tersebut menjadi penting karena masa depan lingkungan pada akhirnya bergantung pada generasi yang tumbuh dengan kesadaran ekologis.
Menjaga Pesisir dengan Melibatkan Masyarakat
Bagi Yusri, lingkungan tidak dapat diselamatkan hanya melalui kegiatan yang dilakukan oleh segelintir orang, masyarakat harus dilibatkan, pendekatan inilah yang menjadi bagian penting dari perjalanan aktivitasnya. selama lebih dari satu dekade bergerak di bidang lingkungan, Yusri memahami bahwa masyarakat pesisir memiliki hubungan yang sangat dekat dengan alam.Kehidupan sehari-hari masyarakat bersinggungan dengan laut dan kawasan pantai. Karena itu, konservasi tidak seharusnya ditempatkan sebagai sesuatu yang jauh dari kehidupan masyarakat. Sebaliknya, konservasi harus menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Masyarakat perlu memahami bahwa menjaga mangrove bukan berarti sekadar menjaga pohon. Menjaga mangrove juga berarti menjaga kawasan pantai, habitat berbagai organisme, serta keberlanjutan ekosistem yang menopang kehidupan. Begitu pula dengan penyu, ketika masyarakat memahami nilai ekologis dan pentingnya keberadaan penyu, akan tumbuh kesadaran untuk melindunginya. Inilah yang coba dibangun Yusri melalui aktivitasnya: menjadikan konservasi sebagai gerakan bersama.
Penghargaan Bukan Tujuan Akhir
Dedikasi Yusri kemudian mendapatkan pengakuan melalui penghargaan Wahana dari Kementerian Lingkungan Hidup. Sebelum meraih penghargaan dari Kementrian Lingkungan Hidup, Yusri juga meraih penghargaan Kalpataru. Penghargaan tersebut menjadi bentuk apresiasi terhadap kerja lingkungan yang telah dilakukannya. Tetapi, bagi seorang pegiat lingkungan, penghargaan tidak otomatis mengakhiri pekerjaan, pohon-pohon yang telah ditanam tetap harus dirawat. Kawasan mangrove tetap membutuhkan perhatian, penyu tetap membutuhkan perlindungan. Dan masyarakat tetap membutuhkan edukasi dengan kata lain, setelah penghargaan diberikan, pekerjaan sebenarnya masih terus berjalan, Yusri memilih tetap berada di lapangan. Sebab, baginya, ukuran keberhasilan bukan hanya penghargaan yang terpajang, melainkan lingkungan yang tetap terjaga. Barangkali tidak banyak orang yang mengetahui siapa yang pertama menanam satu per satu bibit mangrove di sebuah kawasan pesisir. Tidak banyak pula yang mengetahui siapa yang berulang kali mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya menjaga lingkungan. Namun, kerja lingkungan memang sering seperti itu ia tidak selalu membutuhkan sorotan. Pohon yang tumbuh tidak pernah menyebut siapa yang menanamnya. Penyu yang kembali ke laut tidak pernah tahu siapa yang berusaha menjaganya.
Pemuda yang Memilih Bertahan
Lebih dari sepuluh tahun bukanlah waktu yang pendek. Sejak 2013, dunia telah berubah. Teknologi berkembang, gaya hidup masyarakat berubah, dan berbagai persoalan lingkungan semakin kompleks di tengah perubahan tersebut. Yusri memilih tetap berada di jalur yang sama. Menanam, merawat, mengedukasi dan mengajak masyarakat. Pilihan tersebut memperlihatkan bahwa gerakan lingkungan tidak selalu membutuhkan seseorang dengan jabatan besar atau sumber daya yang luar biasa. Kadang, gerakan itu justru dimulai dari seseorang yang melihat persoalan di sekitarnya dan memilih untuk tidak berpaling. Yusri melihat pesisir. Ia melihat mangrove yang harus dijaga. Ia melihat penyu yang membutuhkan perlindungan. Ia melihat masyarakat yang perlu mendapatkan pengetahuan, kemudian ia memilih bergerak.
Dari langkah sederhana itulah lahir perjalanan panjang yang kini meninggalkan jejak sekitar 30 hektare kawasan mangrove di pesisir Polewali Mandar dan sebuah ruang konservasi bernama Rumah Penyu Mampie menanam untuk generasi yang belum lahir di pesisir, di waktu yang berbeda. Satu pohon mangrove itu tidak tumbuh dalam sehari. Kawasan pesisir yang hijau tidak tercipta dalam semalam. Kesadaran masyarakat juga tidak terbentuk hanya melalui satu kali kegiatan sosialisasi. Semuanya membutuhkan proses, dan Yusri memilih menjalani proses tersebut. Ia menanam hari ini untuk sesuatu yang mungkin baru akan dirasakan generasi mendatang. Mampie, Manding, dan Binuang, jejak itu terus tumbuh. Pohon-pohon yang dahulu masih berupa bibit perlahan menjadi bagian dari lanskap pesisir. di Mampie. Rumah Penyu menjadi ruang lain untuk menjaga pesan yang sama: bahwa alam bukan sekadar tempat yang bisa dimanfaatkan, tetapi juga harus dirawat, mangrove dan penyu menjadi dua simbol dari perjuangan Yusri. Mangrove mengajarkan tentang kesabaran. Penyu mengajarkan tentang perjalanan dan keberlangsungan hidup. Keduanya seolah menggambarkan perjalanan Yusri sendiri; pelan, panjang, tetapi terus bergerak. Pada akhirnya, kisah Yusri bukan hanya tentang seorang pemuda yang menanam mangrove.
Ini adalah kisah tentang seseorang yang memilih mengabdikan sebagian hidupnya untuk lingkungan. Ia menanam pohon yang mungkin belum sempat ia lihat menjadi besar. Ia menjaga ekosistem yang manfaatnya dinikmati banyak orang. Ia mendirikan Rumah Penyu untuk menanamkan kesadaran konservasi. Dan ia mengajak masyarakat percaya bahwa menjaga alam bukan pekerjaan satu orang, melainkan tanggung jawab bersama.
Dari pesisir Polewali Mandar, Yusri menanam sebuah pesan sederhana: “apa yang kita tanam hari ini mungkin bukan untuk kita nikmati sendiri, tetapi untuk memastikan generasi setelah kita masih memiliki pesisir yang layak untuk diwariskan.”
Tantangan dalam Upaya Pelestarian Lingkungan
Dalam upaya pelestarian lingkungan di Polewali Mandar, Yusri menghadapi tantangan yang tidak ringan, terutama dalam membangun kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga kelestarian alam. Masih adanya kebiasaan dan aktivitas masyarakat yang berpotensi menimbulkan kerusakan lingkungan membuat upaya konservasi membutuhkan pendekatan yang sabar dan berkelanjutan. Bagi Yusri, mengubah cara pandang dan perilaku masyarakat tidak dapat dilakukan hanya melalui sosialisasi, tetapi membutuhkan keteladanan, pendampingan, serta keterlibatan langsung masyarakat dalam berbagai kegiatan lingkungan.
Tantangan lain yang dihadapi adalah keterbatasan sumber daya. Baik berupa pendanaan, sarana, maupun dukungan dalam menjalankan kegiatan konservasi. Berbagai program pelestarian membutuhkan tenaga, waktu, dan kolaborasi dengan banyak pihak agar dapat berjalan secara konsisten. Di tengah kondisi tersebut, Yusri dituntut untuk tetap kreatif dalam mencari solusi, membangun jejaring, dan mengajak berbagai elemen masyarakat, khususnya generasi muda, untuk ikut mengambil peran dalam menjaga lingkungan.
Di sisi lain, Yusri juga berhadapan dengan persoalan lingkungan yang terus berkembang dan membutuhkan perhatian jangka panjang. Kerusakan ekosistem, tekanan terhadap kawasan alam, serta perubahan pola pemanfaatan sumber daya membuat kerja konservasi tidak bisa berhenti pada satu kegiatan atau program. Tantangan terbesar adalah menjaga konsistensi gerakan agar kepedulian terhadap lingkungan tidak hanya muncul sesaat, tetapi menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Karena itu, Yusri terus mendorong kolaborasi antara masyarakat, komunitas, pemerintah, dan generasi muda sebagai langkah penting untuk memastikan upaya pelestarian lingkungan di Polewali Mandar dapat berlangsung secara berkelanjutan.
Profil Singkat Muhammad Yusri (Yusri Mampie)
Muhammad Yusri, yang akrab disapa Yusri Mampie, pegiat konservasi dan lingkungan asal Mampie, Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat. Ia dikenal luas melalui kiprahnya dalam pelestarian penyu dan ekosistem pesisir, khususnya di Pantai Mampie, Desa Galeso, Kecamatan Wonomulyo. Kepedulian Yusri terhadap penyu telah dirintis sejak awal 2000-an. Ia kemudian mengembangkan konservasi hingga terbentuk Komunitas Sahabat Penyu pada 2016. Salah satu pendekatan yang dikembangkan “adopsi telur penyu”, yakni menyelamatkan telur dari perdagangan dan ancaman di alam, menetaskannya secara semi-alami, kemudian melepaskan tukik ke laut. Pemerintah juga mencatat kiprahnya sebagai sosok yang aktif menjaga penyu di Pantai Mampie.
Selain konservasi penyu, Yusri juga aktif dalam rehabilitasi dan pelestarian mangrove. Bersama masyarakat pesisir Mampie, ia melakukan penanaman, pemeliharaan mangrove serta edukasi lingkungan untuk menghadapi abrasi dan menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir. Pada 2026, kiprah tersebut mendapat pengakuan di Nasional. Yusri juga menjadi penggerak berbagai kegiatan edukasi dan kampanye lingkungan, termasuk Festival Penyu Mampie, yang menjadikan konservasi bukan hanya sebagai kegiatan pelestarian alam, tetapi juga sebagai sarana edukasi dan pemberdayaan masyarakat pesisir.
Penghargaan yang Pernah Diterima
- Kalpataru 2021 – Kategori Perintis/Pelopor Lingkungan
Diberikan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) atas dedikasinya dalam pelestarian penyu di Polewali Mandar. Penghargaan tersebut diserahkan pada 14 Oktober 2021 di Jakarta. - Coastal Award 2021 – Peringkat III
Yusri Mampie meraih peringkat ketiga Coastal Award pada Konferensi Nasional (Konas) Pesisir ke-10 tahun 2021, kategori kelompok masyarakat. Penghargaan diberikan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) sebagai apresiasi atas kontribusi nyata dalam pengelolaan laut, pesisir, dan pulau-pulau kecil. - Penghargaan Wana Lestari Tingkat Nasional 2026 – Kategori Pegiat Mangrove.
Pada 13 Agustus 2026, Yusri menerima penghargaan Wana Lestari tingkat nasional kategori Pegiat Mangrove dari Kementerian Kehutanan RI. Penghargaan diserahkan langsung oleh Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni di Manggala Wanabakti, Jakarta, sebagai apresiasi atas konsistensinya menjaga dan memulihkan ekosistem mangrove di pesisir Mampie. (*)
Penulis: Rahmayani













