SUMENEP, MASALEMBO.ID – Komitmen menjaga kualitas tembakau kembali disuarakan kalangan pelaku industri rokok di Kabupaten Sumenep. Salah satunya datang dari pengusaha tembakau HM Group, H. Mukmin, yang menekankan pentingnya standar mutu bahan baku sebagai fondasi utama keberlangsungan industri tembakau di Madura.
Menurutnya, kualitas tembakau bukan sekadar faktor teknis dalam proses produksi, melainkan menjadi penentu utama daya saing produk rokok di pasar nasional. Dalam kondisi persaingan yang semakin ketat, hanya produk dengan bahan baku unggul yang mampu bertahan dan diminati konsumen.
H. Mukmin menilai, peran petani tembakau sangat krusial dalam menjaga kualitas tersebut. Oleh sebab itu, ia mengingatkan agar para petani lebih disiplin dan tidak terburu-buru melakukan panen sebelum tanaman benar-benar mencapai tingkat kematangan optimal.
“Kami berharap petani benar-benar memperhatikan standar mutu dan kualitas. Jangan panen saat masih belum mengembang, harus disiplin waktu panen,” ujarnya (04/08).
Ia menjelaskan, kebiasaan panen lebih awal justru menjadi salah satu penyebab turunnya kualitas tembakau. Daun yang belum matang sempurna akan menghasilkan bahan baku dengan karakter kurang baik, baik dari segi aroma, warna, maupun tekstur. Kondisi ini tentu akan berdampak pada harga jual di tingkat pabrikan.
Lebih jauh, H. Mukmin menegaskan bahwa kekhawatiran petani terhadap harga seharusnya tidak menjadi alasan untuk mempercepat panen. Ia memastikan bahwa selama kualitas tembakau tetap terjaga, peluang mendapatkan harga yang layak tetap terbuka lebar.
Dalam pandangannya, hubungan antara petani dan industri harus dibangun di atas komitmen bersama untuk menjaga mutu. Industri membutuhkan bahan baku berkualitas, sementara petani memerlukan kepastian pasar dan harga yang stabil. Keseimbangan inilah yang diharapkan mampu menciptakan ekosistem tembakau yang sehat di Sumenep.
Selain persoalan waktu panen, ia juga menyoroti pentingnya kesabaran petani dalam menunggu momentum pembelian dari pihak gudang. Saat ini, menurutnya, belum seluruh gudang melakukan aktivitas pembelian, sehingga petani diimbau tidak tergesa-gesa menjual hasil panennya.
“Tolong petani harus bersabar menunggu sampai tembakau layak panen. Apalagi saat ini gudang belum melakukan pembelian,” jelasnya.
Di sisi lain, tantangan yang dihadapi petani tembakau tidak hanya datang dari aspek teknis budidaya, tetapi juga faktor eksternal seperti perubahan iklim. Ketidakpastian cuaca dalam beberapa waktu terakhir dinilai berpotensi memengaruhi pola tanam hingga kualitas hasil panen.
H. Mukmin mengajak para petani untuk lebih waspada terhadap dinamika tersebut. Adaptasi terhadap perubahan cuaca menjadi langkah penting agar produksi tembakau tetap optimal dan tidak mengalami penurunan kualitas.
“Mari sama-sama berdoa agar kondisi cuaca seperti yang diharapkan bersama,” tandasnya. (Red/TH)













