BRIDA Fokus Pada Arah Pengembangan Pariwisata Segitiga Emas Sumenep

Avatar photo
Kegiatan FGD yang dilaksanakan oleh BRIDA Kabupaten Sumenep (Masalembo.id)

SUMENEP, MASALEMBO.ID – Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kabupaten Sumenep, terus fokus menggodok arah pengembangan pariwisata segitiga emas Sumenep lewat Focus Group Discussion (FGD) yang merupakan kelanjutan dari pembahasan sebelumnya mengenai penguatan tata kelola pariwisata berbasis integrasi SDL untuk memperkokoh fondasi pengembangan kawasan Segitiga Emas Sumenep.

Segitiga Emas merupakan kawasan strategis yang menghubungkan tiga destinasi wisata bahari unggulan Sumenep yaitu, Gili Iyang sebagai pulau dengan kadar oksigen tinggi, Gili Labak dengan pesona snorkelingnya yang mendunia, serta Pantai Sembilan di Gili Genting yang terkenal dengan lengkungan pasir putihnya.

Ketiga destinasi ini memiliki kekuatan ekologis, nilai budaya, dan potensi ekonomi yang sangat besar, sehingga diperlukan perencanaan matang agar pengembangannya berjalan terarah dan berkelanjutan. Sekretaris BRIDA, Kahir dalam pengantar diskusi menyampaikan bahwa FGD lanjutan ini diharapkan menghasilkan rekomendasi yang lebih konkret. Menurutnya, penguatan kolaborasi lintas sektor perlu terus dipacu untuk merumuskan langkah strategis dalam membangun pariwisata yang memiliki daya saing tinggi.

Baca Juga  Bupati Anwar Sadat Berikan Bantuan Kursi Roda di Safari Subuh

“Harapannya bisa mendapatkan konklusi berupa rekomendasi-rekomendasi kepada OPD terkait sesuai dengan tupoksinya,” ujarnya.

FGD yang menggandeng tim riset Universitas Wiraraja itu memusatkan pembahasan pada pondasi kebijakan pembangunan pariwisata Segitiga Emas. Diskusi mencakup pembentukan regulasi tata kelola, penguatan peran pemerintah daerah, pelaku usaha, investor, serta partisipasi masyarakat. Topik lain yang juga mengemuka adalah kontribusi sektor pariwisata terhadap PAD hingga perumusan strategi branding serta promosi destinasi.

Dalam paparannya, perwakilan tim penelitian menegaskan bahwa potensi besar Segitiga Emas belum sepenuhnya optimal akibat sejumlah tantangan yang masih mengemuka. Ia menekankan pentingnya pembangunan berbasis data dan riset untuk memastikan setiap langkah pengembangan tidak mengorbankan kelestarian alam maupun budaya lokal.

Baca Juga  Bawaslu Majene Petakan 265 TPS Miliki Pemilih Disabilitas, Ini Daftar TPS Rawan Lainnya

“Meski ketiga wisata tersebut sangat potensial, masih banyak tantangan yang harus dituntaskan, seperti pembangunan, keterbatasan infrastruktur, kapasitas sumber daya manusia, tata kelola destinasi, dan kesinambungan lingkungan masih menjadi pekerjaan rumah bersama,” paparnya.

Sementara itu, Kabid Pariwisata Disbudporapar Sumenep, Andre Zulkarnain, menyoroti pentingnya aspek konektivitas dalam mendorong pertumbuhan Segitiga Emas. Ia menyebutkan bahwa pemerintah telah memetakan kebutuhan infrastruktur transportasi laut yang akan dihubungkan dengan Pelabuhan Jangkar di Situbondo.

“Kenapa Probolinggo? Karena hasil evaluasi Disbudporapar provinsi agar menarik destinasi asing yang dari Bromo,” tuturnya.

Dengan adanya jalur transportasi laut yang terintegrasi, wisatawan dari destinasi unggulan Jawa Timur seperti Bromo akan lebih mudah menjangkau Sumenep. Menurut Andre, skema ini dinilai dapat meningkatkan arus kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara.

Sebab penguatan Segitiga Emas bukan hanya tentang meningkatkan angka kunjungan, melainkan memperkuat daya tarik wisata Sumenep sebagai kawasan bahari unggulan yang dikelola secara profesional, berkelanjutan, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Baca Juga  Tahun 2026, Pemprov Sulbar Alokasikan 266 Rumah untuk Masyarakat Miskin Ekstrem

“Semoga dengan pemetaan translaut dapat menumbuhkan Segitiga Emas yang kita gaungkan di Kabupaten Sumenep sehingga dapat terkoneksi dan terhubung dengan kapal cepat,” harapnya.

Di tengah optimisme tersebut, Andre menekankan bahwa kesiapan infrastruktur dan pelayanan di tiga destinasi tetap menjadi faktor krusial. Kualitas sarana prasarana, kenyamanan wisatawan, keamanan transportasi, hingga kesiapan masyarakat lokal perlu dipastikan berjalan optimal.

Lewat FGD ini, Brida menegaskan komitmennya untuk terus mengawal arah pembangunan wisata Sumenep secara ilmiah, terukur dan partisipatif. Seluruh masukan dan rekomendasi yang dirumuskan akan menjadi bahan utama dalam penyusunan kebijakan tindak lanjut.

“Sehingga para wisatawan yang berkunjung, ekspektasi yang dibawanya dapat sesuai dengan harapan mereka,” tegasnya. (Red/TH)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *