Kisah Warga Panggalo, Berkemah di Hutan Demi Rintis Jalan Penghubung Dua Kabupaten

Avatar photo
Warga Panggalo Kecamatan Ulumanda berkemah di dalam hutan demi mempermudah aksi gotong royong perintisan jalan penghubung dua kabupaten. (Foto: Pemdes Panggalo/Palimbuan)

MAJENE, MASALEMBO.ID – Beginilah kisah puluhan warga di Desa Panggalo, Kecamatan Ulumanda, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat. Mereka rela berkemah di hutan demi membuka akses jalan penghubung dua kabupaten yang selama ini terisolasi dari pembangunan infrastruktur memadai. Semangat swadaya ini membawa mereka bertahan di tengah belantara demi meretas keterisolasian.

Masyarakat Desa Panggalo menunjukkan antusiasme melalui aksi gotong royong saban hari. Demi meratakan beban, warga bergilir turun ke lapangan secara bergantian dari satu dusun ke dusun lainnya. Jalur yang membentang lebih dari 10 kilometer (km) tersebut sejatinya merupakan jalan perlintasan tradisional sejak zaman dahulu, namun belum pernah tersentuh perbaikan resmi dari pihak pemerintah.

Baca Juga  KAMMI Mandar Raya Soroti Kelangkaan BBM di Polman, Sebut Ada Dugaan Pembiaran hingga Mafia Leluasa

Kepala Desa Panggalo, Palimbuan, mengungkapkan bahwa warganya bahkan rela mendirikan tenda dan menginap di dalam hutan agar kegiatan perintisan jalan berjalan lancar dan efisien tanpa perlu pulang-pergi ke permukiman.

“Warga sangat antusias, kami menggunakan alat seadanya saja, ada cangkul, skop, linggis bahkan alat dari kayu,” tutur Palimbuan, Jumat (4/9/2026).

Baca Juga  Hari ini 4 Sekolah di Sulbar, Lakukan Uji Coba Makan Bergizi Gratis

Jalur yang sedang digarap warga ini memegang peranan strategis karena menghubungkan Desa Panggalo di wilayah Kecamatan Ulumanda, Kabupaten Majene, dengan Desa Besoangin Utara di bawah administrasi Kecamatan Tu’bi Taramanu (Tutar), Kabupaten Polewali Mandar.

Melihat belum adanya kepastian proyek fisik dari pemerintah untuk menghubungkan kedua wilayah lintas kabupaten tersebut, warga memutuskan untuk tidak tinggal diam. Kerinduan akan akses transportasi yang lebih cepat dan aman memicu warga untuk mengambil langkah nyata secara mandiri.

Palimbuan menjelaskan, dorongan utama gerakan gotong royong ini adalah kebutuhan mendesak para petani. Akses baru ini diproyeksikan menjadi rute alternatif yang jauh lebih dekat untuk mengangkut hasil bumi ke pasar, sehingga mampu memangkas biaya operasional dan meningkatkan perekonomian lokal.

Baca Juga  WALHI Sulbar dan Komponen Pemuda Majene Nyatakan Tolak Tambang di Pamboang

Selain menyumbang tenaga di lapangan, masyarakat juga bergerak menghimpun donasi swadaya untuk memenuhi kebutuhan logistik warga yang bertugas dan bermalam di hutan. Gotong royong ini menjadi bukti nyata kesadaran dan kemandirian warga Panggalo dalam memperjuangkan kesejahteraan serta aksesibilitas wilayah mereka. (har/red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *