MAMUJU, MASALEMBO.ID — Atas arahan Gubernur Sulbar Suhardi Duka, Perayaan Hari Jadi Sulbar ke-22 tahun ini akan digelar secara sederhana. Setiap peserta upacara akan mengenakan bajut adat. Selain itu, pelaksaan upacara diperluas dengan melibatkan seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) secara daring.
Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik dan Persandian (KominfoSS) Sulbar Muhammad Ridwan Djafar mengatakan, untuk menjamin kelancaran akses jaringan, Kominfo bakal memfasilitasi kebutuhan teknis yang diperlukan untuk agenda tersebut.
“Kami tentu ikut terlibat untuk memastikan kegiatan ini bisa berjalan, terutama dari sisi konektivitas. OPD dan UPTD akan tetap terhubung meskipun mengikuti dari tempat masing-masing,” kata Ridwan melalui keterangan tertulisnya, Sabtu (5/9/2026).
Ia mengatakan, koordinasi dengan OPD dan UPTD dilakukan untuk memastikan jaringan yang digunakan saat kegiatan berlangsung bisa berjalan dengan baik.
Selain upacara dan ramah tamah, rangkaian hari jadi juga diisi dengan kegiatan sosial dan bakti sosial. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari peringatan hari jadi di tengah kondisi daerah yang masih memiliki keterbatasan anggaran.
Sekedar untuk diketahui, Provinsi Sulawesi Barat memperingati hari jadinya setiap tanggal 22 September. Provinsi ke-33 di Indonesia ini resmi berdiri berdasarkan Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2004, setelah memekarkan diri dari provinsi induknya, Sulawesi Selatan. Beribu kota di Mamuju, wilayah yang terbentang di pesisir barat Pulau Sulawesi dan berhadapan langsung dengan Selat Makassar ini menyimpan kekayaan alam serta warisan budaya yang amat memikat.
Dikenal dengan julukan Bumi Manakarra, Sulawesi Barat dihuni oleh mayoritas suku Mandar bersama beberapa suku pendamping seperti Toraja, Bugis, Jawa, dan Makassar. Kehidupan bermasyarakat di daerah ini dipandu oleh falsafah Malaqbiq, yakni prinsip hidup yang menjunjung tinggi keanggunan budi pekerti, kesantunan, kehormatan, serta keadilan. Nilai-nilai luhur tersebut berpadu harmonis dengan ketangguhan tradisi bahari masyarakat pesisir yang telah mengarungi lautan selama berabad-abad.
Salah satu identitas kebanggaan yang paling menonjol dari wilayah ini adalah perahu Sandeq, perahu cadik tradisional khas suku Mandar yang diakui sebagai salah satu perahu layar kesenian bahari tercepat di dunia. Selain perahu Sandeq, Sulawesi Barat juga kaya akan khazanah tradisi lisan, musik perkasih, kain tenun sa’be, sekomandi, serta peninggalan sejarah yang terus dirawat oleh masyarakatnya.
Dari segi perekonomian, posisi geografisnya yang strategis menjadikan Sulawesi Barat kaya akan potensi agraris dan kelautan. Sektor perkebunan menjadi tulang punggung komoditas utama, terutama hasil kakao dan kelapa sawit yang menyuplai kebutuhan nasional hingga mancanegara. Dipadu dengan potensi perikanan Selat Makassar yang melimpah, Provinsi Sulawesi Barat terus berkembang menjadi kawasan yang mandiri tanpa menanggalkan akar budaya dan jati diri kearifan lokatnya. (ril/har)














