Opini  

Tinambung, Satu Mobil, dan Kabar yang Terus Bergerak

Avatar photo
Syaharuddin Rasyid, guru SMA Tinambung sedang memandu acara penyambutan anggota DPR RI yang berkunjung ke Mandar dalam rangka pembentukan Provinsi Sulawesi Barat. (Koleksi Foto: Farid Wajdi)

Oleh: Muhammad Ridwan Alimuddin, penulis Buku Putih Perjuangan Pembentukan Provinsi Sulawesi Barat

HAIDIR Jamal menghadapi masalah yang sangat konkret: terlalu banyak orang ingin berangkat, tetapi kendaraan terlalu sedikit.

Ia berada di Tinambung. Ada rencana menuju Makassar untuk mengikuti demonstrasi. Menurut ingatannya, semangat orang-orang di Tinambung besar. Masalahnya bukan mencari orang.

Masalahnya adalah membawa mereka. “Saat itu kemampuan kami di Tinambung sangat terbatas,” demikian inti kesaksiannya. Haidir kemudian menemui Haji Asri Kaduppa di Wonomulyo.

Ia menyampaikan kebutuhan itu terus terang: “Teman-teman di Tinambung siap berangkat, Haji, kalau memang dibantu secara finansial.” Asri Kaduppa menyanggupi. Sebuah kendaraan disiapkan. Dalam ingatan Haidir, kendaraan pertama itu disebut mobil Sumber Tani. Rombongan pun berangkat.

Belum jauh, persoalan baru datang. Mobil rusak. Di Wonomulyo mereka berganti kendaraan, yang diingat Haidir sebagai mobil Karya Tani. Saya menyukai detail ini bukan karena kerusakan mobil merupakan peristiwa besar, melainkan karena ia mengubah cara kita melihat Tinambung dalam perjuangan pembentukan Sulawesi Barat.

Kota kecil itu bukan hanya nama yang muncul pada deklarasi atau daftar eksponen. Ia dapat dibaca sebagai terminal politik: tempat orang dikumpulkan, berita dibicarakan, orang dipilih untuk berangkat, kendaraan dicari, koran dikerjakan dan keputusan dari luar diterima. Tetapi kapasitas terminal itu tidak tak terbatas.

Haidir mengatakan hampir semua orang ingin ikut. Karena ongkos dan kendaraan terbatas, ia harus memilih sebagian saja. Dalam ingatannya, seandainya kemampuan tersedia, Tinambung mungkin dapat mengirim banyak kendaraan. Yang tersedia saat itu hanya satu.

Keterbatasan seperti ini jarang terlihat bila sejarah hanya dibaca dari foto demonstrasi. Foto memperlihatkan massa yang sudah tiba. Ia tidak memperlihatkan orang-orang yang ingin berangkat tetapi tidak mendapat tempat di kendaraan.

Baca Juga  Sebanyak 6 Desa di Sulbar Dijadikan Kandidat Percontohan Antikorupsi

Tinambung juga tidak berdiri sendiri. Wonomulyo muncul sebagai tempat mendapatkan bantuan. Makassar adalah tujuan demonstrasi. Sesudah aksi, Haidir membawa rombongan Tinambung ke rumah seorang keluarga atau teman di daerah Pengayoman, Panakkukang, untuk beristirahat. Mereka belum sempat benar-benar beristirahat.

Sebuah telepon datang dari salah seorang pelaku perjuangan. Pesannya: mereka sebaiknya segera meninggalkan Makassar karena ada kemungkinan polisi bergerak setelah keributan di kantor gubernur.

Haidir mengingat kawan-kawannya bahkan belum mandi. Ia segera membawa mereka pulang ke Mandar. Satu kendaraan membawa orang keluar dari Tinambung. Satu telepon kemudian membuat kendaraan itu membawa mereka kembali. Pada waktu hampir bersamaan, ada sesuatu yang lain bergerak keluar dari Tinambung: berita.

Mandar Pos merupakan bagian penting dari lingkungan ini. Tetapi untuk memahami kedudukannya, saya sengaja tidak memulai dari sejarah pendirian media tersebut. Hal itu sudah mempunyai cerita tersendiri.

Yang lebih menarik untuk tulisan ini adalah jalur fisiknya.

Rahmat Azis mengingat berita dikerjakan di rumah Hamzah Ismail di Tinambung. Bahan yang terkumpul kemudian dibawa ke Makassar, diedit oleh Armin Toputiri, lalu dibawa ke Fajar untuk dicetak. Setelah selesai dicetak, koran ditunggu agar dapat ikut pengiriman sampai Parepare dan dari sana diteruskan kembali ke Polman.

Dalam satu kesaksian yang sangat sederhana, seorang pengelola menceritakan dirinya pernah naik truk karena tidak mempunyai uang. Bayangkan rutenya. Tinambung → Makassar → percetakan → Parepare → kembali ke Polman.

Berita yang berasal dari sebuah kota kecil justru harus menempuh perjalanan panjang sebelum kembali dibaca di wilayah asalnya. Itulah dunia komunikasi sebelum file dapat dikirim dalam beberapa detik.

Baca Juga  Adaq Tuho dan Adaq Mate: Falsafah Hukum yang Menjaga Harmoni dan Martabat

Mandar Pos memang memiliki fungsi politik. Sejumlah pengelolanya secara terbuka memandang media itu sebagai bagian dari perjuangan. Junaedi Latief bahkan menceritakan bagaimana redaksi menggunakan media untuk membentuk opini mengenai Sulawesi Barat.

Tetapi bila pusat cerita hanya dipindahkan kepada koran, kita kehilangan sesuatu yang lebih besar: Tinambung mempunyai beberapa cara sekaligus untuk mengirimkan dirinya keluar. Ia mengirim orang dengan kendaraan. Ia mengirim berita melalui koran. Ia menerima kabar melalui telepon.

Ia menghubungkan diri dengan tokoh di Wonomulyo, jaringan di Makassar, orang-orang di Polewali dan daerah lain.

Dalam arsip koleksi Syahrir Hamdani, Tinambung juga muncul bukan hanya sebagai latar geografis. Berita acara KAPP-SULBAR Pokja Polmas mencatat rapat di Tinambung pada 2 Oktober 1999. Dokumen semacam itu memberi sisi yang berbeda dari ingatan Haidir: ketika kesaksian lisan menceritakan kendaraan, kekurangan biaya dan orang-orang yang ingin berangkat, arsip memperlihatkan adanya struktur organisasi dan keputusan yang dikerjakan dari daerah yang sama.

Dua jenis sumber tersebut membuat gambaran Tinambung lebih lengkap. Satu memperlihatkan rapat. Yang lain memperlihatkan bagaimana keputusan rapat menjadi perjalanan. Dan perjalanan itu ternyata tidak otomatis terjadi hanya karena semua orang sepakat. Perlu mobil, perlu uang, perlu orang yang bersedia meminta bantuan, perlu orang yang memberi kendaraan, perlu orang yang membawa kabar, dan perlu media yang dapat mengubah percakapan lokal menjadi isu yang dibaca di tempat lain.

Ada pula kesaksian mengenai keinginan menghadirkan tim yang datang ke Mandar agar singgah di Tinambung setelah kegiatan di Palippis. Bagi saya, detail itu menunjukkan keinginan masyarakat setempat agar Tinambung tidak hanya menjadi penonton dari peristiwa yang berlangsung di tempat lain. Mereka hendak membawa peristiwa itu mendekat.

Baca Juga  Tragedi Kebudayaan dan Arah Apresiasi yang Terbalik

Mungkin inilah salah satu cara memahami geografi perjuangan Sulawesi Barat. Kota-kota kecil tidak harus menjadi ibu kota gerakan untuk mempunyai fungsi penting. Sebagian bekerja sebagai simpul: menerima orang, mengirim orang, menyebarkan informasi, mengumpulkan bantuan dan menjaga agar pembicaraan tidak berhenti.

Dalam konteks Tinambung, media dan mobilitas bahkan saling berimpit. Berita Mandar Pos harus dibawa secara fisik ke Makassar. Orang yang hendak berdemonstrasi harus dibawa secara fisik ke Makassar. Keduanya membutuhkan kendaraan. Keduanya membutuhkan biaya. Keduanya menghadapi jalan yang sama.

Itulah sebabnya saya lebih tertarik melihat Mandar Pos dalam tulisan ini bukan terutama sebagai institusi pers, tetapi sebagai salah satu benda yang bergerak di dalam jaringan Tinambung. Ada orang yang membawa berita. Ada orang yang membawa koran. Ada orang yang membawa demonstran.

Dan ada orang yang membawa pulang rombongan ketika sebuah telepon mengatakan keadaan di Makassar sudah tidak aman. Haidir Jamal tidak mengingat berapa persis orang yang ikut dalam kendaraannya. Ia justru ingat keterbatasannya. Hanya satu mobil yang tersedia. Mobil pertama bahkan rusak.

Dari keterbatasan itu lahirlah sebuah gambaran yang lebih manusiawi mengenai gerakan politik: keinginan dapat jauh lebih besar daripada kapasitas angkutnya. Tetapi satu kendaraan tetap berangkat.

Dan, bersama kendaraan, koran, telepon dan orang-orang yang bolak-balik di jalan itu, Tinambung terus mengirim kabar bahwa di pesisir Mandar ada sebuah daerah yang sedang membicarakan masa depannya sendiri. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *