RSUD Sumenep: Cahaya Harapan di Tengah Derita

Direktur RSUD dr. H. Moh. Anwar dr. Erliyati (Foto: Istimewa)
Direktur RSUD dr. H. Moh. Anwar dr. Erliyati (Foto: Istimewa)

SUMENEP, MASALEMBO.ID – Dibalik dinding dingin dan koridor sunyi sebuah rumah sakit berbalut wajah penuh harap dari keluarga pasien, pada momen ini terkadang bukan kesembuhan yang datang secara tiba-tiba. Melainkan penenang jika keluarganya sedang sakit sudah berada pada tangan yang tepat.

Sebab sejatinya manusia sangat dalam memahami makna, jika kesembuhan bukan otoritas dirinya. Akan tetapi satu-satunya hal yang dapat dilakukan ialah upaya maksimal dibantu dengan oleh kepanjangan tangan semesta bernama rumah sakit dan dokter.

Ditengah derita dan ketidakpastian itulah RSUD dr. H. Moh Anwar datang sebagai cahaya penenang, guna mengembalikan lagi wajah-wajah yang memancarkan cahaya dan tawa yang sempat hilang, bukan karena penyakit telah pergi, tetapi karena pelayanan yang manusiawi telah hadir. Tempat rasa sakit tak hanya diobati, tapi juga dipeluk dengan empati.

Baca Juga  EDC Dianggap Tak Bisa Dibobol, Kuasa Hukum Bang Alief Tantang Penyidik Tunjukkan Bukti

Di penghujung Juli 2025 menjadi saksi bisu perubahan besar yang menyentuh hati. Suara-suara pasien dan keluarga kini tak lagi dipenuhi keluhan, melainkan syukur dan rasa terharu atas pelayanan yang jauh lebih baik, cepat, ramah, dan penuh perhatian.

Cerita Hafidah, Pasien yang Merasa Dihargai

Hafidah (50), warga Kecamatan Dungkek, yang tengah berjuang melawan tumor jinak, menuturkan dengan mata berkaca, “Saya pikir saya akan diperlakukan seadanya, karena saya hanya pasien BPJS. Tapi saya keliru. Di RSUD ini, kami semua dianggap manusia, tanpa perbedaan.”

Proses pendaftaran yang kini jauh lebih mudah lewat mobile JKN, serta antrean yang tertata rapi, membuat Hafidah merasa tenang di tengah kecemasan yang menyelimuti penyakitnya.

Kisah Jamik, Penjaga Setia Suami di Ruang Inap

Jamik (40), tak bisa menyembunyikan haru saat berbicara tentang suaminya yang dirawat. “Perawatnya datang dengan senyum, dokter rutin kontrol. Bukan cuma tubuh suami saya yang mereka rawat, tapi juga hati kami sekeluarga. Kami merasa… dihormati.”

Baca Juga  Dinas Perkimtan Sulbar Siap Rehab 8 Rumah Korban Banjir di Bebanga

Empat hari berlalu, dan suaminya diperbolehkan pulang dengan kondisi membaik. “Terima kasih RSUD Sumenep. Di sini, kami menemukan harapan,” ucap Jamik, suaranya bergetar oleh rasa haru.

Sosok di Balik Perubahan

Di balik transformasi ini berdiri teguh seorang pemimpin yang tak kenal lelah, bernama dr. Erliyati, M.Kes. Dengan visi bahwa rumah sakit bukan sekadar tempat pengobatan, tetapi rumah kedua bagi mereka yang terluka, ia memimpin pembenahan total dari pelatihan etika, sistem monitoring 24 jam, hingga penambahan tenaga medis.

“Kami melayani dengan hati. Pasien bukan hanya butuh obat, tapi juga butuh rasa dimanusiakan,” ujarnya, dengan nada tulus dan mata yang berbinar.

Baca Juga  Wagub Sulbar dan PC PMII Mamasa Bahas Strategi Pengembangan Pariwisata

Dukungan Penuh

Bupati Sumenep, Achmad Fauzi Wongsojudo, ikut memberi makna pada perubahan ini. Seberat apapun ujian dalam sakit, harapan harus tetap dirawat begitulah sejatinya manusia yang digariskan sebagai makhluk sempurna.

Lewat pelayanan prima dan optimal itulah, jiwa sepi karena ujian itulah akan menjadi faktor yang dapat menumbuhkan energi, menebalkan kembali sebuah harapan yang mulai menipis karena ujian.

“Rumah sakit adalah tempat harapan. Jika pelayanannya buruk, maka harapan itu turut mati. Saya ingin RSUD menjadi wajah kemanusiaan pemerintah.”

Kini, RSUD Sumenep tidak lagi sekadar ruang perawatan, melainkan simbol dari pelayanan publik yang berjiwa. Ia tak hanya menyembuhkan penyakit tapi juga memulihkan kepercayaan, menyentuh nurani, dan memberi makna pada kata “peduli,”. (Red/TH)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *