Halaman Depan Sumenep Gelap Gulita

Avatar photo
Sepanjang jalan pintu gerbang masuk Kabupaten Sumenep yang gelap gulita saat malam hari (Istimewa)

SUMENEP, MASALEMBO.ID – Ketika masyarakat luas hendak mengunjungi sebuah daerah, tanah yang diinjak pertama kali adalah pintu masuk atau lumrahnya disebut gerbang selamat datang. Dari sanalah first impression setiap yang akan tertanam dalam ingatan setiap pengunjung.

Lantas apa jadinya jika area yang selama ini menjadi halaman depan wilayah justru tidak tertata dengan baik. Secara tidak langsung kondisi ini, akan membuat pelancong sudah tidak memiliki ekspektasi berlebih dan tertarik untuk mengeksplor lebih jauh tentang daerah tersebut.

Kondisi inilah yang terjadi di ujung timur Pulau Madura yaitu Kabupaten Sumenep, dimana kawasan gerbang selamat datangnya, dalam kondisi sangat memperihatinkan. Ikon sekaligus penanda masuk wilayah Kota Keris itu dilaporkan gelap gulita saat malam hari akibat lampu penerangan yang padam.

Kawasan yang berada di Desa Sendang, Kecamatan Pragaan tersebut selama ini dikenal sebagai wajah awal dan halam depan Kabupaten Sumenep. Situasi ini tidak berbanding lurus dengan promo pariwisata yang selama ini digaungkan.

Di titik itu pula berdiri monumen Tugu Keris yang kerap menjadi latar berfoto masyarakat maupun tamu dari luar daerah. Namun, dalam beberapa hari terakhir, suasana megah yang biasanya terlihat justru berubah suram ketika malam tiba.

Baca Juga  11 Pabrik Rokok Sumenep Resmi Legal, Bupati Fauzi Sebut Momentum Ekonomi Baru

Tidak hanya itu, minimnya penerangan di sepanjang gerbang masuk itu memantik keluhan warga dan para pengguna jalan. Selain mengurangi estetika kawasan, kondisi gelap dinilai membahayakan pengendara, terlebih ketika arus kendaraan meningkat pada malam hari.

“Ini kan pintu masuk kota, harusnya jadi perhatian. Kalau gelap seperti ini tentu rawan kecelakaan,” ujar Rahman, seorang warga yang melintas di kawasan itu, pada Sabtu (28/2) malam.

Keluhan tersebut mencerminkan keresahan masyarakat terhadap fasilitas publik yang seharusnya terawat dengan baik. Gerbang selamat datang bukan sekadar infrastruktur biasa, melainkan simbol representasi daerah. Terang atau gelapnya kawasan itu dianggap sebagai gambaran keseriusan pemerintah dalam merawat wajah kotanya sendiri.

Di bawah kepemimpinan Bupati Achmad Fauzi Wongsojudo, warga berharap ada respons cepat dari Pemerintah Kabupaten Sumenep. Mereka meminta instansi teknis segera melakukan pemeriksaan menyeluruh guna memastikan penyebab padamnya lampu, apakah karena kerusakan teknis, gangguan jaringan listrik, atau faktor lainnya.

Baca Juga  Sountor 2025, Langkah Nyata Sumenep Cetak Atlet Tenis Muda

Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi mengenai penyebab pasti padamnya lampu di kawasan tersebut maupun target waktu penyelesaiannya. Kondisi itu semakin menambah tanda tanya publik terkait pengelolaan dan pengawasan fasilitas penerangan di wilayah strategis.

Berdasarkan penelusuran, Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Perhubungan (Disperkimhub) Sumenep tercatat mengelola anggaran perawatan lampu penerangan jalan umum (PJU) sebesar Rp 613.264.000. Dana yang bersumber dari APBD Sumenep 2025 tersebut dialokasikan untuk pengadaan lampu LED, bahan baku bohlam, serta kebutuhan pemeliharaan PJU.

Mantan Kepala Disperkimhub Sumenep, Yayak Nurwahyudi, sebelumnya menjelaskan bahwa tidak ada lampu PJU yang mengalami gangguan di lokasi tersebut. Ia menyebut yang padam adalah lampu taman yang berjajar di sepanjang jalan kawasan gerbang.

”Kalau lampu taman, kami akui memang sudah lama mati. Tapi, kalau lampu PJU di sana tidak ada masalah,” terangnya.

Meski demikian, Yayak juga mengakui masih banyak lampu PJU di wilayah Sumenep yang memerlukan perbaikan. Ia menyebut keterbatasan personel menjadi salah satu kendala dalam percepatan penanganan. Saat ini, jumlah petugas yang menangani pemeliharaan disebut hanya 12 orang dan dibagi dalam empat tim.

Baca Juga  Membangun Generasi Berkarakter di Era Digital, Kadisdik Sumenep Tekankan Hal Ini?

”Hanya ada 12 orang, itu pun dibagi empat,” paparnya.

Pihaknya, lanjut Yayak, tetap menindaklanjuti laporan masyarakat secara bertahap, termasuk aduan yang masuk melalui layanan darurat 112.

”Yang melapor melalui call canter 112 itu memang banyak, dan pasti kami perbaiki secara bertahap,” tandasnya.

Namun bagi warga, penjelasan tersebut belum sepenuhnya menjawab persoalan utama. Mereka menilai kawasan gerbang dan Tugu Keris merupakan titik vital yang semestinya masuk prioritas perbaikan. Terlebih, lokasi itu menjadi jalur utama keluar-masuk kendaraan dari arah barat menuju pusat kota.

Kondisi gelap di pintu masuk daerah bukan hanya soal estetika, tetapi juga menyangkut aspek keselamatan dan citra daerah. Saat pemerintah mengalokasikan ratusan juta rupiah untuk perawatan PJU, publik tentu berharap implementasinya dapat dirasakan secara nyata di lapangan. (Red/TH)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *