SUMENEP, MASALEMBO.ID – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kembali mengingatkan nelayan di wilayah perairan utara Kabupaten Sumenep untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi perubahan cuaca laut secara cepat dalam beberapa hari ke depan. Peringatan ini disampaikan BMKG Stasiun Trunojoyo Sumenep, yang mencermati adanya dinamika atmosfer di kawasan Laut Jawa bagian timur.
Peringatan berlaku sejak Kamis, 06 November 2025 hingga tiga hari ke depan. Berdasarkan hasil pemantauan, kondisi laut saat ini masih cenderung tenang dengan gelombang di bawah satu meter. Namun, BMKG menilai sistem cuaca lokal yang berkembang dapat memicu perubahan kondisi secara mendadak sehingga perlu diantisipasi nelayan dan pelaku aktivitas pelayaran skala kecil.
Kepala BMKG Stasiun Trunojoyo, Ari Widjajanto, mengatakan bahwa observasi atmosfer menunjukkan adanya potensi pembentukan awan dan peningkatan kelembapan yang dapat berdampak pada kondisi laut. Meskipun permukaan air tampak kondusif, ia menegaskan agar nelayan tidak lengah.
“Kondisi laut secara umum masih tergolong tenang dengan tinggi gelombang di bawah satu meter. Namun, masyarakat, khususnya nelayan, tetap perlu mewaspadai perubahan mendadak yang bisa terjadi akibat sistem cuaca lokal,” ujarnya (06/11).
BMKG memaparkan detail prakiraan waktu yang perlu diperhatikan. Pada Kamis pagi pukul 06.00–07.00 WIB, diperkirakan akan terjadi hujan ringan dengan kelembapan mencapai 83–85 persen. Gelombang laut sekitar 0,7 meter, dengan arus timur berkecepatan 66–78 sentimeter per detik. Angin dari arah utara berembus sekitar 3 knot, namun arah dan intensitasnya dapat berubah sewaktu-waktu.
Sementara itu, memasuki siang hari pukul 10.00–13.00 WIB, kondisi langit diprediksi berawan tebal. Kelembapan sedikit menurun pada kisaran 78–79 persen, dengan gelombang laut di angka 0,6–0,7 meter. Arus laut bergerak dari timur ke barat dengan kecepatan 54–72 sentimeter per detik, dan angin diperkirakan bergeser dari arah utara–timur dengan kekuatan 3–5 knot.
Ari menjelaskan bahwa fokus utama kewaspadaan terletak pada perubahan arah angin yang dapat memicu arus silang. Kondisi seperti ini berpotensi mengganggu stabilitas perahu kecil dan kapal nelayan tradisional.
“Perubahan arah angin dari utara ke timur bisa menimbulkan arus silang yang berpotensi memengaruhi stabilitas perahu kecil. Kami minta para nelayan lebih berhati-hati, terutama saat berangkat pada pagi hingga siang hari,” ungkapnya.
Menurut BMKG, kondisi atmosfer saat ini dipengaruhi oleh pertemuan massa udara lembap di wilayah Laut Jawa, yang berpotensi memicu pembentukan awan lokal dan hujan singkat. Fenomena tersebut dapat menurunkan jarak pandang di laut serta memicu gangguan gelombang secara tiba-tiba.
Ari menegaskan pentingnya pemantauan informasi cuaca secara berkala sebagai bagian dari mitigasi risiko aktivitas kelautan. Ia menuturkan, BMKG terus memperbarui informasi setiap enam jam sekali untuk memastikan masyarakat pesisir menerima informasi terbaru secara cepat.
“Cuaca laut dapat berubah dalam hitungan jam. Kami terus memperbarui data setiap enam jam sekali agar masyarakat dapat merencanakan aktivitas dengan aman,” ujarnya (Red/KH)












