MAJENE, MASALEMBO.ID – Pihak keluarga korban pembunuhan sadis di Kelurahan Baruga, Kecamatan Banggae Timur, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, akhirnya angkat bicara. Melalui rilis pers resmi, keluarga menyatakan kekecewaan mendalam atas jalannya proses penyidikan dan menuntut transparansi penuh dari pihak Kepolisian Resor (Polres) Majene.
Peristiwa berdarah yang merenggut nyawa korban berinisial NS (65) tersebut terjadi pada Selasa, 5 Mei 2026 lalu, sekitar pukul 16.00 WITA. Namun, sepuluh hari pasca-kejadian, pihak keluarga menilai ada beberapa kejanggalan dan fakta yang seolah kabur ke publik.
Salah satu poin krusial yang disorot tajam oleh keluarga adalah ketidaksesuaian informasi mengenai penyebab kematian korban yang disampaikan polisi saat konferensi pers pada Senin, 11 Mei 2026. Kala itu, penyidik menyebut luka korban murni akibat hantaman benda tumpul, yaitu ulekan. Fakta ini dibantah keras oleh pihak keluarga yang mengantongi hasil visum berbeda.
“Berdasarkan hasil visum yang diketahui pihak keluarga, ditemukan luka pada tubuh korban, yang di mana di antaranya merupakan luka akibat senjata tajam (tusukan). Perbedaan keterangan ini menimbulkan kekecewaan mendalam bagi kami,” tegas Najib, perwakilan resmi keluarga korban dalam pernyataan sikapnya.
Keluarga mendesak tim penyidik Polres Majene untuk lebih jujur, terbuka, dan akurat dalam membeberkan fakta-fakta penyidikan di lapangan tanpa ada yang ditutup-tutupi.
Motif Perampokan? Satu Tas Berisi Emas Masih Raib
Tak hanya persoalan luka fisik korban, pihak keluarga juga membeberkan fakta mengejutkan mengenai adanya harta benda korban yang lenyap saat peristiwa pembunuhan terjadi. Hingga saat ini, barang berharga tersebut masih belum ditemukan.
“Kami mengonfirmasi bahwa masih ada harta benda milik korban yang belum ditemukan, yaitu satu tas yang berisi emas. Kami berharap hal ini menjadi atensi serius bagi pihak kepolisian dalam mendalami motif dan kronologi kejadian secara utuh,” lanjut Najib.
Hilangnya tas berisi emas ini mengindikasikan adanya potensi motif perampokan berencana di balik hilangnya nyawa korban, yang diharapkan dapat diusut tuntas oleh aparat penegak hukum.
Keluarga Minta Netizen Jaga Empati
Di tengah duka yang masih menyelimuti, pihak keluarga juga mengaku tertekan dengan berbagai opini liar yang beredar di jagat maya. Mereka memohon dengan sangat agar pengguna media sosial bisa lebih bijak dan menjaga perasaan keluarga yang ditinggalkan.
Keluarga meminta netizen berhenti mengeluarkan spekulasi tanpa dasar hukum, serta menyetop penyebaran narasi-narasi negatif yang menyudutkan pribadi almarhumah.
Meskipun melayangkan kritik keras, Najib menegaskan bahwa pihak keluarga pada dasarnya tetap mendukung penuh kinerja kepolisian. Namun, keadilan yang seadil-adilnya hanya bisa dicapai jika profesionalisme ditegakkan.
“Kami mendukung penuh kinerja kepolisian, namun kami menuntut profesionalisme dan transparansi yang tinggi. Kami hanya menginginkan keadilan yang seadil-adilnya bagi almarhumah dan kebenaran yang tidak ditutup-tupi,” pungkasnya. (ril/har)













