MATAHARI terasa lebih terik dari biasanya. Tanah yang sebelumnya menyimpan kelembapan perlahan berubah keras dan retak. Di sejumlah titik, sumber air yang menjadi tumpuan warga Mamuju mulai menyusut. Kekeringan tidak lagi sekadar persoalan cuaca, tetapi telah menjadi bagian dari keseharian masyarakat yang harus berhadapan dengan keterbatasan air.
Di tengah kondisi itu, lokasi seluas 23.000 hektar untuk mineral kritis terbesar di Indonesia Logam Tanah Jarang (LTJ) akan memasuki tahap eksplorasi oleh PT Pemsimas, anak Perusahaan PT Timah. Perusahaan tersebut saat ini juga beroperasi di Provinsi Bangka Belitung.
Direktur Pascasarjana Unversitas Tomakaka Mamuju Dr Rahmat Idrus menaruh perhatian terhadap rencana aktivitas tersebut, dan menurutnya ketika LTJ dipaksakan masuk maka sebagian masyarakat menghadapi persoalan air dan perubahan kondisi lingkungan yang terasa semakin nyata, tak hanya di wilayah perkotaan.
Bagi warga sekitar, air bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Air juga menjadi penopang kebun, sawah, ternak, dan berbagai aktivitas ekonomi. Ketika sumber air berkurang, dampaknya merambat ke banyak sisi kehidupan. Seperti yang selama ini diketahui lokasi rencana logam tanah jarang berada di wilayah pegunungan Kabupaten Mamuju yang merupakan sumber air.
Pagi hari yang biasanya dimulai dengan aktivitas di kebun kini harus disiasati. Warga harus mencari sumber air yang masih tersedia. Sebagian bahkan harus menghemat penggunaan air untuk kebutuhan sehari-hari.
“Kalau air berkurang, semua ikut terdampak. Bukan hanya untuk minum, tetapi juga untuk kebun dan kebutuhan lainnya,” demikian Gambaran hasil penelitian yang disampaikan Dr Rahmat Idrus belum lama ini.
Ancaman kekeringan juga berpotensi mengubah wajah lahan. Rumput yang biasanya tumbuh menghijau berubah kecokelatan. Tanah menjadi lebih keras, sementara tanaman membutuhkan perhatian lebih agar tetap bertahan hidup.
Dalam situasi seperti ini, pekerjaan yang berkaitan dengan lingkungan dan pemanfaatan lahan membutuhkan perhatian terhadap kondisi masyarakat sekitar. Setiap aktivitas di lapangan idealnya tidak hanya melihat aspek pekerjaan, tetapi juga bagaimana keberadaannya berhubungan dengan air, tanah, dan kehidupan warga.
Rahmat Idrus menjadi salah satu sosok yang berada dalam rangkaian pekerjaan LTJ tersebut. Kehadirannya di Mamuju membawa perhatian pada bagaimana sebuah pekerjaan dapat berjalan di tengah kondisi alam yang sedang menghadapi tekanan. Persoalannya bukan semata-mata apakah kekeringan terjadi karena satu aktivitas tertentu. Kekeringan merupakan persoalan yang dapat dipengaruhi banyak faktor, mulai dari curah hujan, kondisi daerah aliran sungai, perubahan tutupan lahan, hingga pengelolaan sumber daya air.
Namun, bagi masyarakat yang merasakan langsung dampaknya, perdebatan mengenai penyebab bukanlah satu-satunya hal yang penting. Yang lebih mendesak adalah bagaimana air tetap tersedia dan lingkungan tetap mampu menopang kehidupan mereka.
Di sebuah wilayah yang sedang menghadapi kekeringan, satu sumber air bisa berarti sangat banyak. Ia berarti kehidupan keluarga, keberlangsungan tanaman, keselamatan ternak, sekaligus harapan agar aktivitas ekonomi tetap berjalan.
Karena itu, setiap pekerjaan di lapangan membutuhkan perhatian terhadap keberlanjutan lingkungan. Pemetaan sumber air, pengawasan kondisi tanah, pengelolaan limpasan air, serta komunikasi dengan masyarakat menjadi bagian penting agar kegiatan tidak menambah beban bagi warga yang sudah menghadapi musim kering.
Kekeringan pada akhirnya bukan hanya cerita tentang tanah yang kehilangan air. Ia adalah cerita tentang manusia yang harus beradaptasi ketika alam tidak lagi memberikan apa yang biasanya mereka dapatkan.
Di Mamuju, ketika pekerjaan LTJ berlangsung, cerita itu menemukan ruangnya sendiri. Di satu sisi ada pekerjaan dan pengetahuan yang terus bergerak. Di sisi lain, ada warga yang menunggu hujan, menjaga sumber air, dan berharap tanah kembali basah sebab ketika hujan tak kunjung datang, yang mengering bukan hanya tanah, tapi kehidupan masyarakat juga kian terancam karena air merupakan sumber kehidupan bagi semua masyarakat. (*)
Penulis: Rahmayani














