Tragedi Ramadan di Balanipa: 29 Rumah di Galung Tulu Rata dengan Tanah Akibat Kebakaran Hebat

Avatar photo
Kobaran api menghanguskan 29 rumah di Galung Tulu, Kecamatan Balanipa pada Sabtu, 28 Februari 2026 malam. (Foto: Anwar Wahab)

POLEWALI, MASALEMBO.ID – Suasana khusyuk ibadah salat tarawih di Dusun 1 Galung Tulu, Desa Galung Tulu, Kecamatan Balanipa, Kabupaten Polewali Mandar (Polman), berubah seketika menjadi kepanikan luar biasa. Pada Sabtu malam (28/02/2026), sebuah kebakaran besar melanda permukiman padat penduduk tersebut, menghanguskan puluhan bangunan dan harta benda warga yang tak sempat diselamatkan.

Peristiwa nahas ini dilaporkan mulai terjadi sekitar pukul 20.20 WITA. Api yang muncul secara tiba-tiba menjalar dengan sangat cepat, melahap material bangunan yang mayoritas mudah terbakar. Sebanyak 29 unit rumah dilaporkan hangus total dan rata dengan tanah, sementara 5 rumah mengalami rusak berat dan 3 rusak ringan menyisakan duka mendalam bagi para korban di tengah bulan suci Ramadan.

Upaya pemadaman berlangsung dramatis dan memakan waktu lama. Api baru benar-benar dapat dijinakkan pada Minggu dini hari (01/03/2026) sekitar pukul 02.30 WITA. Petugas Pemadam Kebakaran (Damkar) bersama warga dan pihak terkait harus berjibaku melawan kobaran api selama lebih dari enam jam.

Baca Juga  Komunitas Pencinta Lingkungan di Polman Tanam Ribuan Pohon Mangrove

Kepala Satuan Polisi Pamong Praja dan Damkar Kabupaten Polman, Arifin Halim mengatakan skala kebakaran yang besar menuntut pengerahan kekuatan penuh dari berbagai lini.

“Kami turunkan sebanyak 40 personel, didukung 7 unit mobil induk Damkar, 3 unit mobil kecamatan, serta 1 unit bantuan dari Kabupaten Majene. Semua kendaraan pemadam yang tersedia di Polman langsung diarahkan ke lokasi kejadian,” jelas Arifin Halim.

Meskipun armada telah dikerahkan secara maksimal, proses pemadaman di lapangan tidak berjalan mulus. Letak rumah di lorong sempit dan kerumunan warga yang memadati lokasi kejadian turut menjadi kendala bagi mobilitas petugas pemadam.

Selain faktor angin dan material bangunan, aksesibilitas menjadi tantangan terberat bagi tim Damkar. Jalur menuju sumber air alternatif di pinggir laut tertutup oleh banyaknya warga yang datang untuk melihat kejadian tersebut.

“Salah satu hambatan terbesar adalah jalur menuju laut yang menjadi sumber air utama terhalang oleh massa masyarakat. Jika jalan tidak terhalang, kami bisa lebih cepat menyedot air dan memadamkan api sebelum menjalar luas,” ujar salah satu anggota Damkar yang tidak ingin disebutkan namanya.

Baca Juga  5 Pekerja Proyek Jembatan Terjatuh ke Sungai, 2 Orang Masih Dalam Pencarian

Kondisi ini sangat disayangkan, mengingat ketersediaan air di laut sebenarnya bisa menjadi solusi cepat jika armada pemadam memiliki ruang gerak yang cukup untuk melakukan penyedotan (suction) secara kontinu.

Kronologi dan Penyelidikan Kepolisian

Berdasarkan hasil pantauan dan keterangan saksi di lokasi, titik api pertama kali diduga muncul dari kediaman seorang warga bernama Pua Rahim. Dari titik tersebut, api dengan cepat menyambar rumah Haji Ahmad yang berada di dekatnya, sebelum akhirnya menciptakan efek domino di kawasan permukiman yang tergolong padat tersebut.

Pihak kepolisian segera bergerak cepat untuk mengamankan lokasi dan melakukan pendataan. Kasat Reskrim Polres Polman AKP Budi Adi bersama Kasat Intel IPTU Haspar dan Kanit Binmas Polsek Tinambung IPDA Muh Saleh, terlihat memimpin langsung jalannya pemantauan di lapangan.

IPDA Aswar Anas, SH, selaku Perwira Pengawas (Pawas) Polres Polman, menjelaskan bahwa pihaknya melibatkan personel gabungan dari Reskrim, Polsek Tinambung, serta anggota TNI dari Koramil Tinambung untuk menjaga kondusivitas area bencana.

Baca Juga  Tarian Me'aju Sambut Kedatangan Pj Gubernur Sulbar di Kawasan Suku Bunggu

“Kami tengah melakukan penyelidikan mendalam dengan mengambil keterangan dari korban dan mengumpulkan bukti fisik untuk mengetahui penyebab pasti terjadinya kebakaran,” tegas Ipda Aswar Anas.

Kehilangan Harta dan Mata Pencaharian

Bagi warga Galung Tulu, kebakaran ini bukan sekadar kehilangan tempat tinggal, melainkan kehilangan seluruh aset kehidupan. Sawal, salah satu korban yang rumahnya kini tinggal puing, menceritakan betapa cepatnya musibah itu merenggut segalanya. Ia kehilangan tiga unit sepeda motor, dokumen-dokumen vital seperti Kartu Keluarga (KK), KTP, dan ijazah, hingga hewan ternak serta alat transportasi laut yang menjadi tumpuan hidupnya sebagai warga pesisir.

“Yang bisa kami selamatkan hanya pakaian yang dikenakan saat itu. Bahkan kapal dan sampan yang ada di sekitar rumah juga tidak bisa diselamatkan. Rumah kami benar-benar rata dengan tanah,” ucap Sawal dengan suara yang bergetar penuh kesedihan. (har/red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *