POLEWALI, MASALEMBO.ID – Memasuki musim kemarau, dampak kekeringan mulai melanda Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat, yang mengakibatkan masyarakat di sejumlah desa mengalami krisis air bersih. Guna mengantisipasi krisis yang semakin meluas, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Polman siapkan mobil tangki berkapasitas 4.000 liter untuk menyalurkan bantuan air bersih ke warga yang membutuhkan melalui Pemerintah Desa setempat.
Berdasarkan data BPBD Polman, tercatat sekitar 16 desa terdampak kekeringan yang tersebar di lima kecamatan, yakni Mapilli, Wonomulyo, Campalagian, Balanipa, dan Binuang. Beberapa desa yang telah merasakan krisis air bersih di antaranya Desa Rea, Desa Buku, Desa Galeso, dan Desa Sumarrang.
Kepala BPBD Polman, Andi Chandra Sigit, mengungkapkan bahwa sejauh ini baru satu desa yang resmi mengajukan permohonan bantuan distribusi air bersih, yaitu Desa Buku di Kecamatan Mapilli. Pihaknya menegaskan agar pemerintah desa yang wilayahnya terdampak segera mengajukan surat permohonan resmi agar bantuan armada air bersih dapat segera dikirimkan.
“Pemerintah desa silahkan menyurat ke BPBD Insya Allah pasti kami akan tindaklanjuti,” katanya Rabu (12/8/20226)
Langkah cepat penanganan krisis air bersih ini juga dipastikan berjalan sejalan dengan instruksi pimpinan daerah. Pihak BPBD Polman menegaskan kesiapan armada tangki 4.000 liter untuk langsung bergerak begitu laporan resmi dari pihak desa diterima.
“Kami sampaikan ke masyarakat, agar bermohon ke pak desanya untuk menyurat kepada kami karena ini sudah ada juga perintah dari Bupati untuk segera mendistribusikan air bersih ke masyarakat yang terdampak,” pungkas Chandra.
Sebelumnya, fenomena penurunan curah hujan di wilayah Sulawesi Barat ini telah diprediksi oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Tampa Padang Mamuju sebagaimana diberitakan media masalembo.id. BMKG mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kekeringan selama puncak musim kemarau.
BMKG Stasiun Tampa Padang Mamuju dalam keterangannya menjelaskan bahwa berkurangnya intensitas hujan berdampak langsung pada menurunnya debit sumber air baku di beberapa titik wilayah Sulawesi Barat, termasuk di Kabupaten Polewali Mandar. Pihak BMKG mengingatkan perlunya manajemen pengelolaan air yang bijak serta koordinasi antarinstansi untuk mengantisipasi dampak kekeringan yang lebih luas terhadap kebutuhan harian warga maupun sektor pertanian.
Berdasarkan hasil analisis data BMKG Stasiun Tampa Padang Mamuju, potensi musim kemarau di wilayah Polewali Mandar diprakirakan bertahan cukup panjang, yakni antara 7 hingga 12 dasarian, atau diperkirakan berlangsung hingga Oktober 2026 mendatang. Wilayah ini sendiri tercatat telah memasuki masa kemarau sejak pertengahan hingga akhir bulan Juni lalu. (ant/har)












