Tantang Jurnalis Tulis Isu Lebih Kritis, AJI Mandar Gelar Workshop Liputan Mendalam

Avatar photo
Tampak Hasudungan Sirait, penguji Uji Kompetensi Jurnalis AJI Indonesia sekaligus pemimpin redaksi Parboaboa.com saat menyampaikan materi pada Workshop penulisan berita mendalam AJI Mandar di Kabupaten Mamasa, Selasa 13 Oktober 2026. (Foto: AJI Mandar/Frendy Cristian)

MAMASA, MASALEMBO.ID – Tidak semua persoalan bisa dijelaskan melalui berita singkat. Ada latar belakang yang perlu ditelusuri, suara warga yang perlu didengar, dan fakta yang harus diuji agar sebuah peristiwa dapat dipahami secara utuh. Feature dan liputan mendalam memberi ruang bagi jurnalis untuk mengungkap sisi-sisi yang kerap luput dari pemberitaan.

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Mandar berkerjasama dengan media Parboaboa.com menggelar workshop penulisan berita bergaya features dan liputan mendalam di Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat, pada 12–14 Oktober 2026. Kegiatan ini bertujuan memperkuat kemampuan jurnalis dalam mengembangkan ide, menggali informasi, dan menyajikan persoalan masyarakat secara kritis tanpa mengabaikan akurasi dan etika jurnalistik.

Workshop tersebut menghadirkan Hasudungan Sirait, penguji Uji Kompetensi Jurnalis AJI Indonesia sekaligus pemimpin redaksi Parboaboa.com, sebagai mentor.

Baca Juga  Perjuangan Warga Pulau: Berangkat untuk Berobat, Pulang dalam Kepiluan

Ketua AJI Mandar, Frendy, mengatakan kegiatan ini menjadi salah satu upaya mendorong jurnalis menghasilkan karya yang tidak sekadar menyampaikan informasi, tetapi juga menguji persoalan, menghadirkan beragam perspektif, dan mengungkap dimensi kemanusiaan.

“Tantangan jurnalis bukan hanya menemukan peristiwa yang layak diberitakan, tetapi juga mengajukan pertanyaan yang tepat dan menelusuri fakta yang kerap tersembunyi di baliknya,” ujar Frendy.

Menurut dia, penguatan keterampilan reportase dan penulisan diharapkan membuka ruang bagi cerita-cerita yang selama ini luput dari perhatian publik.

Majelis Pertimbangan Organisasi (MPO) AJI Mandar, Muh Ilham, yang mendampingi peserta selama lokakarya, menekankan bahwa liputan mendalam tidak cukup dilakukan dengan mengumpulkan pernyataan narasumber. Jurnalis perlu memeriksa data, menyusun kronologi, menguji keterangan, dan menghubungkan berbagai fakta untuk memperoleh gambaran yang lebih utuh.

Baca Juga  Sulbar Raih Peringkat Kedua Digitalisasi Sistem Pembayaran se-Sulawesi

“Proses tersebut juga membutuhkan keberanian mempertanyakan informasi yang belum terverifikasi dan mencari suara yang kerap tidak mendapat ruang,” kata Ilham.

Dalam lokakarya itu, peserta mempelajari cara mengembangkan gagasan menjadi cerita jurnalistik, mengumpulkan data dan kesaksian, serta menentukan sudut pandang yang mampu menjelaskan persoalan secara tajam.

Peserta mengikuti praktik perencanaan liputan mendalam selama tiga hari, mulai pukul 14.00–16.00 WITA. Mereka berlatih menyusun rencana reportase, mulai dari menentukan ide dan sudut pandang, mengidentifikasi kebutuhan data, memilih sumber informasi, hingga merancang tahapan peliputan.

Perencanaan menjadi bagian penting dalam proses jurnalistik. Kualitas tulisan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan bercerita, tetapi juga oleh ketajaman pertanyaan, kecukupan bukti, dan ketepatan pemilihan sumber. Tanpa itu, sebuah liputan berisiko berhenti pada permukaan persoalan.

Baca Juga  Pemdes Kenje Resmi Lantik Perangkat Desa Baru, Kadis PMD Sebut Momentum Sangat Istimewa

Peserta turut mendapat materi fotografi jurnalistik untuk mendukung penulisan feature dan liputan mendalam.

P.Hasudungan Sirait, yang menjadi mentor dalam kegiatan itu, menjelaskan bahwa berita langsung atau straight news dan features memiliki karakteristik berbeda.

“Berita langsung atau straight news umumnya menempatkan kecepatan dan informasi utama sebagai prioritas. Features menawarkan ruang yang lebih luas untuk membangun cerita melalui detail, suasana, pengalaman manusia, dan konteks. Adapun in-depth reporting menekankan kedalaman investigasi dan pengujian fakta untuk menjelaskan latar belakang, hubungan antarfakta, serta dampak suatu persoalan,” ujar P. Hasudungan.

Melalui lokakarya ini, AJI Mandar mendorong jurnalis mengembangkan kemampuan reportase dan penulisan agar mampu menghasilkan karya yang tidak hanya informatif, tetapi juga membantu publik memahami persoalan secara lebih utuh. (ril/har)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *