Tercatat 1.084 Hektar Sawah di Polman Kering, Petani Terancam Gulung Tikar

Avatar photo
Salah seorang petani di Polewali Mandar, Hadi, memperlihatkan kondisi padi dan sawah miliknya yang kering usai dilanda kemarau berkepanjangan, Selasa 11 Agustus 2026. (ASRIANTO/masalembo.id)

POLEWALI, MASALEMBO.ID — Dampak musim kemarau berkepanjangan kian memprihatinkan, Dinas Pertanian Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat, mencatat sebanyak 1.084 hektar sawah tanaman padi di wilayah tersebut mengalami kekeringan parah.

Wilayah terdampak tersebar di sejumlah titik strategis, di antaranya Kecamatan Binuang, Matakali, Mapilli, hingga Tapango.

Ancaman krisis air ini diprediksi masih akan berlangsung lama. Berdasarkan hasil analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Tampa Padang Mamuju, potensi musim kemarau di wilayah Polewali Mandar diprakirakan bertahan cukup panjang, yakni antara 7 hingga 12 dasarian, atau diperkirakan berlangsung hingga Oktober 2026 mendatang. Wilayah ini sendiri tercatat telah memasuki masa kemarau sejak pertengahan hingga akhir bulan Juni lalu.

Baca Juga  Bapperida Sulbar Percepat Pengembangan Kawasan Industri dan Pelabuhan, Perkuat Konektivitas Logistik

Kondisi paling parah salah satunya melanda Dusun Pakkandoang, Desa Kuajang, Kecamatan Binuang. Di lokasi ini, sekitar 50 hektar sawah milik warga dipastikan gagal panen total (puso).

Hamparan sawah yang tadinya hijau kini berubah menjadi tanah retak-retak dengan tanaman padi yang mati mengering tanpa sisa.
Hadi, salah seorang petani setempat, menuturkan bahwa bencana kekeringan ini sudah melanda sejak dua bulan terakhir, tepat setelah para petani menyelesaikan masa tanam. Padi yang kini berusia dua bulan dan seharusnya mulai berbuah, justru mati kekeringan karena ketiadaan pasokan air.

Baca Juga  Tabrakan Maut di Desa Limbua Majene: Truk, Pick Up, dan Motor Terlibat, 2 Orang Meninggal Dunia

“Pas selesai turun sawah dan ditanam, langsung masuk musim kemarau. Ini sudah tidak bisa diselamatkan lagi, sudah pasti gagal panen,” keluh Hadi saat ditemui di areal persawahannya, Selasa (11/8/2026)

Area persawahan di Dusun Pakkandoang selama ini memang sangat menggantungkan nasib pada curah hujan. Selain sebagai sawah tadah hujan, petani sebenarnya berharap pada pasokan air dari waduk di Desa Kuajang. Namun, sejak kemarau melanda, debit air waduk menyusut drastis hingga tak sanggup lagi mengalir sampai ke persawahan Pakkandoang.

Petani lain bernama Manji mengaku hanya bisa pasrah melihat lahan garapannya yang kering kerontang. Ia menyebut kerugian yang ditanggung para petani sangat besar karena seluruh modal awal penanaman telah habis terbuang.

Baca Juga  Perkuat Arah Kebijakan, Bappeda Sumenep Gandeng BPS Jatim Kembangkan Perencanaan Pembangunan Berbasis Data

“Rugi besar kami para petani, pak. Kami sudah keluar biaya untuk sewa traktor, mesin dompeng, biaya tanam, pupuk, dan operasional lainnya,” ungkap Manji dengan nada kecewa.

Akibat musibah ini, setiap petani dipastikan menderita kerugian hingga jutaan rupiah. Demi menyambung asa dan mencegah bencana serupa terulang di masa depan, para petani sangat berharap Pemerintah Kabupaten Polewali Mandar segera turun tangan memberikan solusi konkret, seperti pembuatan sumur bor dan pembangunan saluran irigasi yang memadai. (ant/har)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *