SUMENEP, MASALEMBO.ID – Penguatan budaya literasi di Kabupaten Sumenep terus digalakkan. Dewan Pendidikan dan Kebudayaan Sumenep (DPKS) menggelar Pelatihan Menulis Karya Ilmiah bagi guru SD dan SMP sebagai bagian dari upaya mendorong lahirnya pendidik yang tidak hanya mengajar, tetapi juga produktif berkarya.
Sehingga dapat menjadi motor penggerak literasi di akar rumput. Kegiatan yang berlangsung di Gedung Ki Hajar Dewantara pada Senin (2/6/2026) ini menjadi wadah pengembangan kapasitas guru dalam bidang akademik, khususnya penulisan karya ilmiah.
Mengusung tema Pendidikan Digital, Pendidikan Bahasa Madura, dan Pendidikan Ramah Anak, pelatihan tersebut diikuti oleh puluhan guru dari berbagai kecamatan di Kabupaten Sumenep.
Acara ini secara resmi dibuka oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sumenep, Mon. Iksan, Kehadirannya menandai dukungan penuh pemerintah daerah terhadap peningkatan kompetensi guru sebagai bagian dari strategi pembangunan pendidikan berbasis literasi.
Di tengah realitas rendahnya minat baca yang masih menjadi tantangan di Indonesia, guru dipandang sebagai aktor kunci yang dapat menggerakkan guna terciptanya ekosistem literasi. Guru diharapkan tidak hanya sebagai penyampai materi, guru juga dituntut menjadi inspirator yang mampu menumbuhkan kecintaan terhadap membaca dan menulis di kalangan peserta didik.
Ketua DPKS Sumenep, Mulyadi, menegaskan bahwa gerakan literasi harus berakar dari para pendidik. Ia menyampaikan bahwa kemampuan menulis tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan melalui proses panjang yang dimulai dari kebiasaan membaca.
“Kita tidak bisa menutup mata terhadap kondisi literasi membaca peserta didik Indonesia saat ini. Masih banyak pekerjaan rumah yang harus kita selesaikan bersama agar budaya membaca semakin tumbuh dan berkembang di lingkungan pendidikan,” ujarnya (02/06).
Menurutnya, rendahnya minat baca akan berdampak langsung pada kualitas karya tulis yang dihasilkan seseorang. Oleh karena itu, upaya meningkatkan literasi harus dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan.
“Menulis lahir dari konsistensi membaca. Karena itu, jika ingin melahirkan karya-karya yang baik, maka budaya membaca harus terus diperkuat. Saya berharap peserta yang mengikuti pelatihan ini nantinya menjadi pelopor literasi di kecamatan masing-masing dan terus istiqamah dalam berkarya serta menulis,” tegasnya.
Lebih lanjut, Mulyadi menekankan bahwa literasi tidak boleh berhenti pada seremoni kegiatan semata. Guru diharapkan mampu mengambil peran strategis sebagai agen perubahan yang menghadirkan budaya menulis di lingkungan sekolah dan masyarakat.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sumenep, Moh. Iksan memberikan apresiasi atas inisiatif DPKS dalam menyelenggarakan pelatihan tersebut. Ia menilai kegiatan ini sebagai bagian penting dalam meningkatkan profesionalisme guru.
“Kegiatan menulis karya ilmiah seperti ini sangat menunjang tugas utama guru SD maupun SMP. Pengalaman, inovasi, dan praktik baik yang selama ini dilakukan di sekolah dapat dituangkan menjadi tulisan yang bermanfaat bagi dunia pendidikan,” katanya.
Ia juga menekankan bahwa kemampuan menulis merupakan bentuk refleksi intelektual seorang guru dalam mengembangkan pembelajaran yang lebih berkualitas. Lewat budaya menulis secara tidak langsung, kultur membaca juga akan menyertainya.
“Kegiatan ini memberikan ruang bagi bapak dan ibu guru untuk mengeksplorasi pengalaman-pengalaman selama mengajar, kemudian mengolahnya menjadi karya tulis yang memiliki nilai edukatif dan ilmiah,” ujarnya.
Pelatihan ini tidak hanya menjadi sarana peningkatan keterampilan, tetapi juga momentum untuk membangun kepercayaan diri guru dalam menuangkan ide secara sistematis dan akademis. Dengan demikian, praktik-praktik baik yang selama ini terjadi di ruang kelas dapat terdokumentasi dan memberi manfaat lebih luas.
Iksan pun berharap seluruh peserta mengikuti kegiatan ini dengan penuh keseriusan agar hasil yang diperoleh dapat diterapkan secara nyata di lingkungan sekolah.
“Saya sangat mengapresiasi kegiatan ini. Semoga dapat menambah jam terbang para guru dalam dunia tulis-menulis. Ikutilah seluruh rangkaian pelatihan hingga selesai agar ilmu dan pengalaman yang diperoleh benar-benar maksimal dan bisa diterapkan di lingkungan sekolah masing-masing,” tandasnya (Red/TH)













