Pameran Batik SMA DDI Masalembu, Upaya Merawat Kebudayaan

Avatar photo
Siswa SMA DDI Masalembu berfoto bersama karya batiknya dalam pameran (Masalembo.id)

SUMENEP, MASALEMBO.ID – Semangat merawat warisan budaya kembali menyala di Pulau Masalembu. SMA DDI Masalembu resmi menggelar pameran batik pelajar yang berlangsung pada 1-2 Juni 2026. Kegiatan ini menghadirkan beragam karya batik hasil tangan kreatif siswa yang tergabung dalam ekstrakurikuler GARIS, sekaligus menjadi ruang ekspresi sekaligus refleksi budaya bagi generasi muda.

Pameran ini tidak sekadar menampilkan karya seni, tetapi juga menjadi simbol kesinambungan nilai-nilai tradisi yang diwariskan dari masa lalu kepada generasi masa kini. Kepala Sekolah SMA DDI Masalembu, Syaiful Islam, menegaskan bahwa kegiatan ini memiliki makna lebih dalam daripada sekadar seremoni melainkan upaya untuk merawat tradisi dan kebudayaan.

Menurutnya, batik adalah medium yang sarat makna, bukan hanya sebagai produk estetika, melainkan juga sebagai identitas budaya yang menyimpan jejak sejarah panjang peradaban. Oleh karena itu, pengenalan batik kepada pelajar menjadi langkah penting agar nilai-nilai tersebut tetap hidup di tengah arus perubahan zaman yang semakin cepat.

Baca Juga  Dua Pelajar Luka Serius dalam Kecelakaan di Palippis

“Batik bukan sekadar kain. Ia adalah identitas, ia adalah sejarah yang ditulis tanpa huruf. Melalui pameran ini, kami ingin anak-anak memahami bahwa budaya bukan hanya untuk dikenang, tetapi untuk dihidupkan, secara terus-menerus di masa depan,” ujarnya (01/06) malam.

Lebih jauh, ia menekankan bahwa sekolah memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk karakter siswa yang berakar pada nilai-nilai budaya. Pendidikan tidak hanya berbicara tentang ilmu pengetahuan, tetapi juga tentang pembentukan kepribadian yang memahami dan mencintai warisan leluhur.

Dalam konteks tersebut, batik menjadi salah satu sarana penting untuk menanamkan kesadaran budaya. Melalui proses kreatif membatik, siswa tidak hanya belajar teknik, tetapi juga memahami filosofi yang terkandung di dalamnya. Hal ini diharapkan dapat melahirkan generasi yang tidak hanya kreatif, tetapi juga adaptif terhadap perkembangan zaman tanpa kehilangan jati diri.

Baca Juga  Lanjutan Sidang Demonstran Majene, Restoratif Justice Macet

Pameran batik ini sekaligus menjadi bukti bahwa tradisi tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya menunggu untuk disentuh dan dihidupkan kembali oleh tangan-tangan muda yang penuh semangat dan harapan.

“Anak-anak ini adalah harapan. Kalau mereka mau belajar dan mencintai batik, maka tradisi ini tidak akan hilang. Batik akan terus hidup, bahkan mungkin berkembang lebih indah dari sebelumnya,” katanya.

Pada penyelenggaraan tahun ini, pameran mengusung tema “Hitam dan Putih”. Tema tersebut dipilih bukan tanpa alasan. Ia merepresentasikan makna filosofis tentang dualitas kehidupan, tentang kontras yang saling melengkapi dan menghadirkan keseimbangan.

Syaiful Islam menjelaskan bahwa hitam dan putih bukan sekadar pilihan warna, melainkan simbol perjalanan pengetahuan manusia. Dari ketidaktahuan menuju pemahaman, dari kekosongan menuju makna.

“Hitam putih itu melambangkan pasangan yang saling melengkapi, putih memberikan nafas dari kekosongan. Sebuah proses pengetahuan manusia dari ketidak tahuan menjadi tahu. Sementara hitam sebuah langkah awal dari proses pengetahuan,” ungkapnya.

Baca Juga  MK Tidak Dapat Menerima Permohonan PHPU Paslon Ali Fikri- Unais di Pilkada Sumenep

Tidak hanya batik, pameran ini juga menampilkan berbagai karya seni lainnya hasil kreativitas siswa, seperti patung, lukisan, hingga littering. Keberagaman karya tersebut menunjukkan bahwa potensi seni pelajar di Masalembu terus berkembang dan layak mendapatkan ruang apresiasi.

Kegiatan ini diharapkan mampu memberikan dampak positif bagi perkembangan seni dan budaya lokal, khususnya di wilayah Kepulauan Masalembu. Dengan adanya pameran semacam ini, produk budaya lokal memiliki peluang lebih besar untuk dikenal, diapresiasi, dan dilestarikan.

Di tengah gempuran modernisasi, upaya menjaga identitas budaya menjadi semakin penting. Pameran ini menjadi salah satu langkah nyata untuk memastikan bahwa batik khas Masalembu tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang dan menemukan tempatnya di masa depan.

“Batik khas Masalembu ini harus terus ditampilkan agar dikenali, khsusunya masyarakat di Kepulauan Masalembu,” tandasnya. (Red/TH)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *