MAMUJU, MASALEMBO.ID — Hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang SD dan SMP di Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) dilaporkan terpuruk di urutan ke-35 dari 38 provinsi di Indonesia, sebuah capaian yang memicu sorotan tajam dari Ikatan Guru Matematika (IGM) bahwa ada yang perlu diperbaiki dalam proses pembelajaran di dalam kelas.
TKA sendiri merupakan instrumen asesmen nasional yang dirancang khusus untuk mengukur capaian akademik siswa dalam bidang literasi dan numerasi.
Dalam pelaksanaannya, terdapat dua mata pelajaran utama yang diujikan kepada para peserta didik, yaitu Bahasa Indonesia dan Matematika. Kondisi capaian pendidikan di bumi Malaqbi ini terbilang memprihatinkan karena posisi TKA SD dan SMP Sulbar secara akumulatif hanya berada di atas Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Papua Pegunungan, Papua Selatan, dan Maluku Utara.
Berdasarkan data yang dirilis Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, rata-rata nilai TKA untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Matematika pada jenjang SMP, nilai pelajar Sulbar hanya menyentuh angka 44,17. Angka ini tertinggal sangat jauh jika dibandingkan dengan Daerah Istimewa Yogyakarta yang bertengger di peringkat pertama nasional dengan raihan nilai rata-rata 65,54. Posisi kedua Provinsi DKI Jakarta dengan nilai rata-rata 59,83 dan urutan ketiga Kepulauan Riau dengan nilai 56,25.
Keterpurukan ini semakin terlihat jelas jika dibedah per jenjang. Untuk tingkat SD, posisi Sulbar bahkan melorot ke urutan 36, di mana rata-rata nilai Bahasa Indonesia hanya sebesar 50,01, sedangkan untuk mata pelajaran Matematika lebih anjlok lagi di angka 37,52. Pada jenjang sekolah dasar ini, posisi Sulbar hanya mampu berada di atas Papua Selatan, NTT, dan Maluku Utara.
Menanggapi rapor merah tersebut, Pengurus Pusat Ikatan Guru Matematika (IGM) asal Sulbar, Sutikno, mengaku sangat prihatin atas hasil evaluasi yang menempatkan wilayahnya di papan bawah nasional. Secara khusus, perhatiannya tertuju pada nilai matematika siswa SD yang tidak mencapai angka 40.
“Hasil TKA ini sebagai cerminan bahwa ada yang perlu diperbaiki dalam kelas matematika,” ujar Sutikno, Minggu (31/5/2026).
Namun, Ia tak ingin sekadar meratapi hasil tersebut, Sutikno mengajak seluruh elemen pendidik untuk berbenah mengubah keadaan. Menurutnya, nilai TKA di bidang matematika yang berada di kisaran angka 37 ini harus dijadikan pelecut semangat dan motivasi bagi para guru untuk duduk bersama mengevaluasi serta mendiskusikan kembali metode pengajaran mereka. Langkah untuk membenahi persoalan ini pun diklaim sudah mulai berjalan. Sutikno membeberkan bahwa organisasi profesi yang menaunginya telah menggalang sinergi lintas sektor guna mendongkrak kompetensi para tenaga pengajar di daerah.
“Kami Ikatan Guru Matematika Pusat dan Ikatan Guru Matematika Provinsi (IGMP) wilayah Sulbar telah bekerja sama dengan Gernastastaka Indonesia. Kami melatih sekitar 40 guru SD, berkolaborasi dengan anggota DPR RI Bapak Zulfikar, dengan Diknas Provinsi Sulbar, dan Diknas Kabupaten Mamuju, bagaimana guru mengajar matematika dengan bernalar dan kontekstual,” jelas Sutikno.
Sutikno menambahkan bahwa program pelatihan tersebut memang belum memberikan dampak langsung pada hasil TKA kali ini lantaran keterbatasan waktu dalam penerapannya. Kendati demikian, ia optimistis gerakan perubahan ini akan segera menyentuh akar rumput di masa mendatang.
“Kemarin waktunya mepet sehingga belum terimplementasi ke kelas. Insya Allah di bulan Juli ini sudah bisa terimplementasi di kelas. Kami Ikatan Guru Matematika Indonesia siap berkolaborasi dengan pemerintah,” pungkasnya via pesan elektronik. (har/red)












