SUMENEP, MASALEMBO.ID – Universitas Bahaudin Mudhary (UNIBA) Madura kembali menunjukkan langkah progresif dalam membangun ekosistem kewirausahaan dan mencetak wirausahawan muda khisususnya di kalangan mahasiswa, dengan meluncurkan program Inovatif Collaboration Project (ICP).
Melalui program tersebut, kampus ini tidak sekadar mengajarkan teori bisnis di ruang kelas, melainkan langsung membawa mahasiswa ke medan praktik nyata di pusat aktivitas ekonomi masyarakat.
Program ini melibatkan hampir 1.000 mahasiswa yang terbagi dalam 100 kelompok usaha. Mereka menjalankan aktivitas bisnis secara langsung di ruko lantai dua Pasar Anom Sumenep selama satu semester penuh. Skema ini menjadikan pasar tradisional sebagai laboratorium bisnis terbuka, tempat mahasiswa mengasah kemampuan menjual, membaca peluang, hingga menghadapi dinamika konsumen secara langsung.
Ketua Yayasan Qudsiyah Bahaudin Mudhary, Prof Achsanul Qosasi, menegaskan bahwa program ICP merupakan bentuk nyata komitmen kampus dalam mencetak generasi mandiri dan bermental pengusaha. Ia menekankan pentingnya keberanian dalam dunia bisnis, terutama bagi mahasiswa yang selama ini lebih akrab dengan teori.
“Hanya ada dua cara kalian menghasilkan uang dan berbisnis. Satu adalah menjual, yang kedua adalah mencipta,” tegasnya (06/04).
Menurutnya, pengalaman langsung di pasar menjadi kunci untuk membangun mental tangguh dan adaptif. Mahasiswa tidak hanya diuji dalam hal menjual produk, tetapi juga ditantang untuk menciptakan daya tarik agar konsumen mau datang dan berinteraksi.
“Tugas utama kalian adalah mendatangkan orang untuk naik ke lantai dua. Dari situlah proses bisnis dimulai,” ujarnya.
Pendekatan yang diterapkan dalam program ICP tidak berhenti pada metode konvensional. Mahasiswa juga didorong untuk mengintegrasikan strategi pemasaran digital guna memperluas jangkauan pasar. Dengan demikian, mereka tidak hanya belajar berjualan secara langsung, tetapi juga memahami pentingnya teknologi dalam mendukung keberhasilan usaha di era modern.
Kehadiran mahasiswa dengan berbagai inovasi usaha ini turut memberikan dampak terhadap geliat ekonomi di Pasar Anom. Aktivitas di lantai dua yang sebelumnya relatif sepi, kini mulai menunjukkan peningkatan kunjungan dan interaksi ekonomi.
Pemerintah Kabupaten Sumenep pun memberikan apresiasi atas langkah yang diinisiasi UNIBA Madura tersebut. Wakil Bupati Sumenep, KH Imam Hasyim, menilai program ICP sebagai terobosan yang tidak hanya berdampak pada dunia pendidikan, tetapi juga mampu menghidupkan kembali ruang ekonomi yang kurang optimal.
“Ini inovasi yang sangat bagus untuk menarik masyarakat agar mau naik ke lantai dua. Ada aktivitas, ada pergerakan ekonomi,” ungkapnya.
Ia juga menyoroti pentingnya kolaborasi antara UNIBA Madura dengan BPRS Bhakti Sumekar dalam mendukung keberlangsungan program ini. Sinergi tersebut dinilai mampu memperkuat fondasi ekosistem bisnis mahasiswa, baik dari sisi pembiayaan maupun pengembangan usaha.
Selain itu, integrasi antara pemasaran offline dan online yang dilakukan mahasiswa dinilai menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat. Pola ini mencerminkan adaptasi terhadap perkembangan zaman sekaligus membuka peluang pasar yang lebih luas.
Program ICP sendiri dirancang sebagai uji coba selama empat bulan. Pemerintah daerah berkomitmen untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap dampaknya, terutama dalam meningkatkan kunjungan serta pertumbuhan ekonomi di Pasar Anom.
Ke depan, program semacam ini diharapkan dapat terus dikembangkan dan direplikasi sebagai model pembelajaran berbasis praktik. Tidak hanya di UNIBA Madura, tetapi juga di perguruan tinggi lainnya yang ingin mencetak lulusan siap pakai di dunia usaha.
“Dengan inovasi berkelanjutan seperti ini, UNIBA Madura diharapkan tidak hanya mencetak lulusan akademis, tetapi juga melahirkan pelaku usaha muda yang siap bersaing,” pungkasnya. (Red/TH)












