MAJENE, MASALEMBO.ID — Aksi Kamisan Majene kembali digelar sebagai ruang merawat ingatan publik atas isu hak asasi manusia (HAM) dan kebebasan berekspresi. Kegiatan diisi dengan pemutaran film dokumenter karya Koreksi.org bertajuk Semakin Ditekan Semakin Melawan, dilanjutkan diskusi publik di Cafe Neo Alternatif, Kelurahan Lembang, Kecamatan Banggae Timur, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, Kamis (3/9/2026) malam.
Pembicara diskusi, Gilang, menyampaikan bahwa peristiwa yang terekam dalam film tersebut merefleksikan dinamika unjuk rasa di Majene saat gelombang protes nasional pada Agustus 2025.
“Saat gerakan pecah di tingkat nasional, kami di Majene merespons situasi tersebut. Namun, aksi unjuk rasa diwarnai penangkapan massa. Di Majene sendiri, ada empat orang yang ditangkap dan harus menjalani proses hukum yang panjang,” kata Gilang.
Pembicara lainnya, Irfan, menilai pemicu awal gelombang gerakan pada Agustus 2025 adalah kekecewaan masyarakat Kabupaten Pati atas lonjakan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) hingga 300 persen. Isu lokal tersebut berkembang menjadi eskalasi protes di berbagai daerah di Indonesia.
Dari perspektif pers dan mitigasi gerakan, Rahmayani mengingatkan pentingnya kalkulasi risiko sebelum aksi turun ke jalan digelar.
“Hal mendasar yang perlu dipersiapkan kawan-kawan mahasiswa sebelum berdemonstrasi adalah mitigasi. Dengan persiapan matang, dinamika di luar dugaan dapat diantisipasi lebih awal,” ujar Rahma yg juga sekertaris AJI Kota Mandar.
Kegiatan ini dihadiri perwakilan sejumlah organisasi sipil dan komunitas, seperti AJI Kota Mandar, SAKRAL, SPMM, SUAKA Sulbar, dan Kolektifkotatua. Pemutaran film dan diskusi ini menjadi bentuk solidaritas atas berbagai kasus kekerasan terhadap warga dan peserta aksi pasca gelombang protes tahun lalu, termasuk wafatnya Affan serta Pak Bambang, seorang pengrajin cermin yang menjadi korban pengeroyokan.
Koordinator Aksi Kamisan Majene, Yungbuh, berharap forum ini terus memperkuat solidaritas masyarakat terhadap penegakan hukum dan perlindungan HAM.
“Kami berharap tidak ada lagi korban jiwa. Kami tidak ingin pers dibungkam, ruang berekspresi seniman dibatasi, atau mahasiswa diadu domba dengan warga. Kami mendesak pemerataan pendidikan dan penyelesaian konflik agraria secara adil,” tegas Yungbuh.
Ke depan, kata dia, Aksi Kamisan Majene merencanakan konsistensi gerakan melalui agenda kolaboratif, seperti pembentukan perpustakaan jalanan dan pentas seni ruang publik, guna mengedukasi masyarakat mengenai kebebasan berekspresi dan penegakan HAM di Indonesia. (rah/har)














