Penulis: Cici Cahyani
(Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia, Falkultas Bahasa dan Sastra, Universitas Negeri Makassar)
BURUNG-BURUNG Migran merupakan salah satu buku yang paling jujur tentang perempuan TKI, menampar kita yang terbiasa hidup dengan kebutaan sosial. Miranda Harlan meramu perjalanan hidup Sutik A.S bukan hanya sebagai kisah yang rapi dan mulus. Kisah ini kotor, berantakan, dan dipenuhi luka yang belum selesai. Namun, justru di situlah letak kekuatan cerita ini yang mengungkap bagaimana perempuan-perempuan TKI selama ini menanggung kebengisan negara, beban keluarga, dan budaya tanpa pernah diberi ruang yang layak untuk bersuara.
Ada bagian pada sebuah bab yang menjadi hantaman keras terhadap struktur yang diam-diam berjalan:
Jadi, siapa yang sesungguhnya membawa profesi pembantu rumah tangga kepada dunia? Bukankah tugas-tugas domestik yang dikerjakan babu pada hakikatnya adalah tugas perempuan, tugas seorang istri? Lantas, karena istri tak bisa berada di rumah, mereka mempekerjakan satu atau beberapa perempuan lain untuk menggantikan fungsi-fungsi yang kosong itu. Memasak, mencuci baju, mencuci piring, bersih-bersih, menyetrika, mengurus anak, merawat tanaman, menyikat bak dan lantai kamar mandi. Mereka membayar orang lain untuk bertanggung jawab terhadap kelangsungan hal-hal kerumahtanggaan mereka. Pada saat yang sama, perempuan-perempuan yang menyanggupi pekerjaan itu, yang bersedia dibayar untuk memikul beban itu, barangkali adalah istri-istri dalam rumah tangga-rumah tangga yang lain. Mereka meninggalkan rumah tangga mereka untuk mengurus perihal rumah tangga orang lain.
Ketika Sutik mengatakan, “Siapa yang sesungguhnya membawa profesi pembantu rumah tangga kepada dunia?” Pertanyaan yang terlihat sepele ini justru membongkar sebuah kenyataan bahwa pekerjaan domestik adalah pekerjaan seorang perempuan. Akan tetapi, masyarakat melimpahkannya ke perempuan lain ketika perempuan pertama ingin mencapai kebebasannya sendiri tanpa mempertimbangkan kebebasan perempuan yang lain.
Perempuan meninggalkan rumah demi mengurus rumah perempuan lain.
Perempuan meninggalkan anak demi mengurus anak perempuan lain. Seorang istri meninggalkan perannya untuk menjaga rumah tangga keluarga lain. Sebuah rantai kehidupan yang sama sekali tidak ada sisi heroik dan Sutik menuturkannya tanpa sensor. Inilah yang membuat buku ini sulit dilupakan oleh para pembacanya, sebab ia memberi ruang bagi perempuan untuk berfilosofi tentang struktur sosial yang menindas mereka, dan bukan sekadar meratapinya.
Keunggulan buku ini juga terdapat pada gaya penulisan yang sangat khas. Miranda tidak menghaluskan bahasa Sutik, tapi juga tidak menulis hal-hal dewasa secara eksplisit. Dengan menggunakan sudut pandang orang pertama, penarasian Sutik dikemas seperti bercerita kepada suaminya—Yamin–kadang dibuat getir, kadang pahit, dan kadang terkesan melawan, dipertahankan apa adanya oleh sang penulis, membuat pembaca merasa bukan sedang membaca novel, tapi juga mendengar pengakuan yang diucapkan secara langsung.
Gaya penulisan Miranda juga cukup aneh dalam artian positif. Miranda tidak menulis sebagai pengarang omniscient, tapi ia masuk lewat celah lisan, yakni dengan curhatan, gumaman, pengulangan trauma, dan bahasa yang apa adanya meskipun tidak dikemas dengan dialog, tapi bisa terbayangkan lewat penarasian. Bahkan repitisi yang muncul dalam cerita bukanlah sebuah kebetulan, itu merupakan salah satu cara otak bekerja disaat dihadapkan dengan hal yang membangkitkan traumanya. Acap kali Sutik mengulang cerita tetang masa kecilnya yang penuh dengan kekerasan dan pelecehan seksual, rasanya bukan seperti membaca bab yang membingungkan karena tiba-tiba ada lompatan ke masa lalu, tapi kita dibuat merasa seperti duduk mendengarkan seseorang yang mengingat sesuatu yang terlalu lama ia pendam.
Teknik penulisan inilah yang membawa kita pada konteks kelisanan dan keaksaraan. Dalam kelisanan, repitisi bukanlah sebuah kesalahan, melainkan sebuah cara untuk menguatkan makna, memastikan pendengar tidak akan lupa, dan menegaskan bahwasanya luka itu nyata.
Sebab itulah ini menjadi pertemuan paling menarik antara kisah lisan yang lahir dari mulut seorang perempuan yang melalui banyak hal berat di hidupnya, diproses menjadi teks tulisan yang mampu menampar dan menjadi bahan kesadaran publik.
Hal menarik lain yang patut disorot di buku ini ada di momen akhir novel, ketika Sutik bertemu para tamu dari Jakarta yang salah satunya adalah Miranda sendiri (meskipun nama Miranda tidak disebutkan), ada kesan bahwa jarak antara penulis dan tokoh dibuat sangat tipis. Ada dialog antara Sutik dan seorang gadis yang menjadi titik terang dari seluruh gagasan besar isi novel yang di mana kisah sebelumnya hanya hidup dalam kelisanan, akhirnya menemukan rumahnya untuk diaksarakan atau dituliskan.
Seorang gadis yang turut dalam rombongan tersenyum lebar.
“Saya juga suka nulis buku harian, Bu,” ujarnya bersemangat. “Tapi saya malu kalau itu dibaca orang lain,” dia tersipu.
“Halah, kamu kan masih muda? Kalau buku harian Ibu, baca saja. Nggak apa-apa. Ibu kan sudah tua. Itu isinya yang sudah lewat-lewat. Cerita cinta zaman dulu, sebelum ketemu Abah, nggak ada yang rahasia,” kami tertawa.
Husen bilang, gadis itu yang akan menulis tentang aku.
Miranda yang hadir sebagai karakter bukan tanpa alasan, hal itu justru untuk menegaskan bahwa ia tidak datang sebagai seorang “ahli”, tapi sebagai seorang “pendengar”, dan pendengar yang baik adalah penulis yang tahu kapan ia harus membiarkan suara asli tetap memimpin.
Inilah jembatan antara kelisanan dan keaksaraan. Kelisanan menampilkan pengakuan, cerita yang sempat dituangkan di dalam buku harian kemudian diceritakan sebagai pengalaman di lingkungan sehari-hari, dan keaksaraan memberikan catatan, dokumentasi dan tulisan yang abadi. (*)












