Perahu Sandeq Mandar Berlayar ke Negeri Gajah, Ekspedisi “Gila” Pertahankan Budaya Maritim Nusantara

Perahu Sandeq Mandar saat berada di pantai Pagatan Tanabumbu Kalimantan Selatan, Selasa (19/8/2025). Perahu bercadik tanpa mesin itu akan berlayar jauh ke Thailand dalam ekspedisi akademik Korps Pencinta Alam (KORPALA) Universitas Hasanuddin Makassar. (Foto: Muhammad Ridwan Alimuddin)

MAJENE, MASALEMBO.ID – Laut Nusantara kembali menjadi panggung keberanian anak-anak muda Sulawesi. Enam pemuda dari tim Korps Pencinta Alam (KORPALA) Universitas Hasanuddin (Unhas) kini sedang melayarkan perahu sandeq Mandar menuju Negeri Gajah, Thailand. Sebuah ekspedisi yang mereka sebut akademik, namun tak sedikit orang menyebutnya “gila”.

Perjalanan itu direncanakan menempuh waktu 66 hari dengan melewati 65 titik persinggahan. Kini, di hari ke-16, sandeq Mandar telah menepi di bumi Borneo, tepatnya di Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan. Para kru sandar di pantai Pagatan, sebuah wilayah yang dihuni banyak orang Bugis.

Muhammad Ridwan Alimuddin mengabarkan hal itu via pesan elektronik, Selasa (19/8/2025), mesti tak ikut berlayar.

“Saya gabung-gabung saja di darat di beberapa titik tertentu. Kali ini di Pagatan,” kata Ridwan “Iwan” Alimuddin, penulis dan pemerhati budaya Mandar yang mengikuti ekspedisi ini dari darat.

Baca Juga  Anggota Polres Majene Mendadak Tes Urine, Terkait Peredaran Narkoba di Internal Petugas?

Dari Pagatan, perahu tradisional yang menjadi ikon suku Mandar itu akan bergerak ke arah barat menyusuri pantai selatan Kalimantan, ke Bangka Belitung lalu masuk ke selat Malaka untuk melanjutkan perjalanan panjang ke Thailand.

Ekspedisi Akademik, Bukan Sekadar Petualangan

Mukhlis Tri Puspayaka, salah satu kru dari KORPALA Unhas, menegaskan ekspedisi ini bukan hanya tentang menantang laut dengan perahu kecil tak bermesin. Mereka membawa misi besar: riset ilmiah tentang komunitas maritim Nusantara.

“Ada 65 titik persinggahan selama 66 hari perjalanan, nah di 65 titik persinggahan itu ada berbagai komunitas-komunitas yang tergabung di suku laut atau orang laut, itu yang akan kami ambil datanya, jadi bukan hanya sekedar jalan-jalan semata,” ujar Tri, sapaan karib Mukhlis Tri Puspayaka, dalam sebuah wawancara yang ditayangkan di kanal Youtube TVRI Sulawesi Barat.

Baca Juga  Anggota DPRD Majene Nyatakan Dukungan Penuh Perjuangan DOB Tomatappa

Hasil ekspedisi ini nantinya diharapkan melahirkan seminar, buku, dan karya ilmiah lain yang memperkuat kampanye sandeq sebagai warisan budaya maritim dunia dari tanah Mandar.

Menurut Tri, perjalanan panjang ini bukan kali pertama. KORPALA Unhas sudah dua kali mengarungi lautan dengan sandeq: pada 1996 menuju Brunei-Malaysia, dan pada 2011 berlayar hingga ke Pantai Utara Darwin, Australia. Kendati demikian tetap saja sulit membayangkan bagaimana enam anak muda KORPALA Unhas akan bertahan di laut berhari-hari, diterpa hujan dan badai hanya dengan perahu tradisional tanpa mesin.

Tapi menurut Tri, mereka sudah menyiapkan segala antisipasi walau terbatas. Tenda sederhana bakal menjadi pelindung saat cuaca buruk, sementara aplikasi cuaca dan navigasi dimanfaatkan untuk memantau kondisi laut. “Kami sudah latihan, simulasi, bahkan belajar tentang sandeq berbulan-bulan. Semua untuk memastikan perjalanan ini aman,” ungkapnya.

Baca Juga  Resmi Nahkodai HMKM 2024-2025, Romeo Fandi Shah: Sebagai Wadah Aktualisasi Ide

Menariknya, Tri bukanlah orang Mandar. Pemuda kelahiran Wajo, Sulawesi Selatan, ini justru tertarik mempelajari sandeq karena melihat keunikan dan nilai historisnya. Ia menyebut, meski Indonesia kaya akan tradisi maritim, hanya sandeq yang masih bisa digunakan berlayar jarak jauh.

“Salah satu alasannya karena tidak ada lagi perahu tradisional yang bisa digunakan berlayar jarak jauh selain sandeq, tidak ada lagi,” tegas mahasiswa S2 Unhas itu.

Bagi masyarakat Mandar, sandeq adalah kebanggaan. Ia bukan hanya perahu, tetapi simbol kecerdikan dan ketangguhan orang pesisir. Dengan ekspedisi lintas negara ini, sandeq kembali membuktikan bahwa ia bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan warisan yang hidup, berlayar, dan mendunia. (har/red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *