Mamasa  

Kelompok Tenun Tunas Barumbun dari Desa Balla Eksis Lestarikan Warisan Budaya Mamasa

Ketua kelompok usaha tenun Barumbun Arruan Lumiling dengan sertifikat penghargaan dari Persatuan Masyarakat Toraja Indonesia (PMTI) yang diterima pada 8 Maret 2023. (Foto: Angsar/masalembo.id)

MAMASA, MASALEMBO.ID – Kelompok usaha tenun tradisional Tunas Barumbun yang beralamat di Desa Balla, Kecamatan Balla, Kabupaten Mamasa, terus eksis memproduksi sarung tenun lokal khas Mamasa meski dihadapkan dengan berbagai keterbatasan. Kelompok ini dipimpin oleh Arruan Lumiling dan telah menunjukkan eksistensi dalam melestarikan budaya lokal.

Tak hanya sarung, hasil tenun mereka juga diolah menjadi berbagai produk seperti baju tradisional, tas, taplak meja, selendang, hingga vote (hiasan kepala). Produk-produk ini diminati berbagai kalangan, tidak hanya di Mamasa, tetapi juga telah menembus pasar luar daerah hingga ke Bali, Kalimantan, Jawa, Papua, bahkan luar negeri seperti Malaysia dan Australia.

Baca Juga  Minim Fasilitas dan Akses Jalan Rusak Tak Surutkan Semangat Marthen di Sekolah Pelosok Mamasa

Prestasi kelompok ini tak diragukan lagi. Pada ajang lomba tenun tradisional se-Kabupaten Mamasa tahun 2023 yang diikuti oleh 40 peserta, mereka berhasil meraih juara pertama, dan menerima sertifikat penghargaan dari Persatuan Masyarakat Toraja Indonesia (PMTI) pada tanggal 8 Maret 2023.

Saat ini, kelompok Tunas Barumbun tetap aktif memproduksi sekitar 40 lembar sarung tenun per bulan, yang dijual secara online melalui sistem pesanan. Pemesanan dapat dilakukan melalui kontak person Arruan Lumiling (Nona) di nomor 082346415209.

Baca Juga  Wagub Sulbar dan PC PMII Mamasa Bahas Strategi Pengembangan Pariwisata

Namun demikian, kendala utama yang dihadapi kelompok ini adalah keterbatasan modal usaha untuk pembelian benang dan prasarana produksi seperti mesin jahit. Selama ini, kegiatan produksi dijalankan secara mandiri di rumah masing-masing anggota karena belum memiliki sanggar tenun tetap. Dengan jumlah anggota 15 orang, mereka mengandalkan modal pribadi untuk menggerakkan usaha.

Modal yang dibutuhkan untuk satu paket sarung tenun mencapai Rp1.000.000, sedangkan harga jual sarung berkisar antara Rp350.000 hingga Rp1.000.000 tergantung pada motif dan ukuran. Dalam waktu satu bulan, seorang penenun mampu menyelesaikan sekitar tiga sarung.

Baca Juga  Miliaran Dana DAK APBN Pendidikan Tahun 2024 di Mamasa Dipertanyakan

“Saat ini produksi kami sangat terbatas karena kekurangan modal,” ungkap Arruan Lumiling saat ditemui di kediamannya.

Ia pun berharap Pemerintah Daerah khususnya di bawah kepemimpinan Welem Sambolangi dan H. Sudirman dapat memberikan perhatian berupa bantuan modal usaha agar kelompok ini bisa terus berkarya dan mengangkat budaya lokal ke kancah nasional maupun internasional. (*)

Pewarta: Angsar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *