JAKARTA, MASALEMBO.ID – Influencer dan aktivis milenial, Sherly Annavita Rahmi, melaporkan serangkaian tindakan teror fisik dan digital yang menimpa dirinya dalam beberapa waktu terakhir.
Aksi intimidasi ini mencuat ke publik setelah Sherly vokal menyuarakan kritik tajam terkait penanganan bencana alam yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera, mulai dari Aceh, Sumatera Utara, hingga Sumatera Barat.
Melalui unggahan di akun media sosial pribadinya, Sherly membagikan bukti-bukti teror yang menunjukkan bahwa pribadinya kini tengah dalam gangguan. Ketidak nyamanan itu disampaikan Sherly di instagram dan kanal medsos lain.
“SHERLY ……………………..
!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
JGN KAU MAANFAATKAN BENCANA
DI ACEH UNTUK MENCARI
POPULARITAS MURAHAN DAN
UNTUK MENAMBAH CUAN BUAT
KAMU PRIBADI JGN KAMU
MENGIRING OPINI SESAT”
Ini adalah salah satu teror yang diterima Sherly lewat surat kaleng yang dikirim ke kediaman pribadinya. Di bagian bawah tulisan tersebut terdapat ilustrasi gambar bibir yang disilang (dilakban) sebagai simbol pembungkaman atau berhenti bicara.
Teror fisik yang dialami Sherly menyasar langsung ke kediaman dan harta bendanya. Ia mengungkapkan bahwa orang tidak dikenal telah melempari tempat tinggalnya dengan sekantong telur busuk yang disertai dengan surat kaleng berisi pesan ancaman. Tidak hanya itu, kendaraan pribadi milik Sherly juga menjadi sasaran vandalisme setelah ditemukan dalam kondisi dicoret-coret menggunakan cat semprot (pilox) oleh pihak yang hingga kini belum teridentifikasi.
Aksi ini diduga kuat sebagai bentuk intimidasi langsung untuk memberikan tekanan psikologis kepada sang aktivis agar menghentikan kritik-kritiknya di ruang publik.
Selain serangan fisik di dunia nyata, Sherly juga menghadapi gelombang serangan digital yang sangat masif dan terorganisir. Ia mengunggah tangkapan layar berisi pesan singkat dari nomor-nomor anonim yang melakukan tindakan doxing dengan menyebarkan nomor telepon pribadinya.
Dalam salah satu pesan yang diterima, seorang oknum menggunakan foto profil topeng babi yang menyeramkan sembari melontarkan kalimat provokatif dan ancaman untuk melakukan konfrontasi fisik secara langsung. Sherly menyebut bahwa pesan-pesan bernada ancaman tersebut dikirimkan secara serempak oleh akun-akun yang diduga palsu atau “akun bodong”.
Menanggapi kejadian beruntun ini, Sherly mensinyalir adanya keterlibatan pihak-pihak tertentu yang menggerakkan aksi tersebut secara sistematis. Ia menegaskan bahwa pola serangan yang terjadi secara bersamaan di media sosial dan nomor pribadinya menunjukkan adanya upaya yang “diorkestrasi” atau diperintahkan oleh pihak tertentu.
Situasi ini pun memicu gelombang dukungan luas dari warganet yang mendesak pihak kepolisian untuk segera mengusut tuntas para pelaku teror tersebut, mengingat tindakan ini merupakan ancaman serius terhadap iklim demokrasi dan kebebasan berpendapat di Indonesia. (*)












