Ketupat Jadi Mesin Penggerak Ekonomi Sumenep

Avatar photo
Terlihat Asisten Administrasi Umum Sekretariat Daerah Kabupaten Sumenep, Ferdiansyah Tetrajaya di acara Festival Ketupat (Masalembo.id/Istimewa)

SUMENEP, MASALEMBO.ID – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep kian menegaskan arah pembangunan berbasis potensi lokal dengan menjadikan budaya sebagai pilar utama. Salah satu langkah konkret yang kini diperkuat adalah penyelenggaraan Festival Ketupat, yang tidak hanya diposisikan sebagai tradisi tahunan, tetapi juga sebagai instrumen strategis dalam menggerakkan sektor ekonomi dan pariwisata daerah.

Festival ini hadir sebagai representasi nyata bahwa kekuatan budaya mampu bertransformasi menjadi energi pembangunan. Di tengah tantangan modernisasi, Sumenep justru memilih mengakar pada tradisi sebagai fondasi untuk melangkah maju. Ketupat, yang selama ini identik dengan perayaan pasca Hari Raya Idulfitri, kini diangkat menjadi simbol pergerakan ekonomi berbasis kearifan lokal.

Pemerintah Daerah (Pemda) memandang bahwa tradisi lebaran ketupat tidak hanya memiliki nilai simbolik, tetapi juga menyimpan potensi ekonomi yang besar jika dikelola secara serius dan berkelanjutan. Hal ini ditegaskan oleh Asisten Administrasi Umum Sekretariat Daerah Kabupaten Sumenep, Ferdiansyah Tetrajaya.

Baca Juga  Menteri Transmigrasi Kunjungi Sulbar, Fokus Bangun Kawasan dan Pengembangan Komoditi Unggulan

Ia menyampaikan bahwa Festival Ketupat bukan sekadar agenda seremonial, melainkan ruang yang mengandung nilai filosofis, sosial, dan ekonomi yang saling terhubung. Tradisi ini mencerminkan semangat kebersamaan, rasa syukur, sekaligus menjadi sarana mempererat hubungan sosial antarwarga.

“Festival Ketupat harus kita jadikan sebagai event yang memiliki daya tarik wisata, sekaligus mampu memberikan dampak nyata bagi perekonomian masyarakat, khususnya pelaku UMKM,” katanya (2603).

Pernyataan tersebut menjadi penegas bahwa Festival Ketupat diarahkan untuk memberikan manfaat konkret, terutama bagi pelaku usaha kecil dan menengah. Kehadiran festival diharapkan mampu membuka peluang usaha, meningkatkan transaksi ekonomi, serta memperluas jaringan pasar bagi produk lokal.

Tidak hanya itu, festival ini juga diharapkan menjadi magnet bagi wisatawan. Dengan kekayaan budaya yang dimiliki, Sumenep memiliki posisi strategis untuk menarik perhatian wisatawan domestik maupun mancanegara. Festival Ketupat menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan identitas budaya daerah kepada khalayak luas.

Baca Juga  Legislator Sulbar Minta Pengawasan Ketat Terhadap PJ Kepala Desa Jelang Pilkada Majene

Namun, pemerintah daerah tidak ingin berhenti pada rutinitas tahunan. Upaya pengembangan terus didorong agar Festival Ketupat tampil lebih inovatif dan relevan dengan perkembangan zaman. Kreativitas dalam pengemasan acara menjadi kunci agar festival mampu bersaing dengan berbagai agenda wisata lainnya.

“Kami mendukung pelestarian budaya lokal sebagai bagian dari pembangunan daerah yang berkelanjutan demi menjaga jati diri dan nilai-nilai budaya yang menjadi fondasi kehidupan masyarakat,” terangnya.

Komitmen tersebut menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian integral dari strategi pembangunan jangka panjang. Budaya ditempatkan sebagai identitas sekaligus kekuatan ekonomi yang harus dijaga dan dikembangkan.

Di sisi lain, Festival Ketupat juga memiliki peran penting dalam membangun kesadaran generasi muda terhadap warisan budaya. Di tengah arus globalisasi yang semakin deras, generasi muda dituntut untuk tetap mengenali dan mencintai tradisi daerahnya.

Festival ini menjadi ruang edukasi yang efektif untuk menanamkan nilai-nilai budaya sejak dini. Dengan keterlibatan aktif generasi muda, keberlanjutan tradisi dapat terjaga, sekaligus mencegah lunturnya identitas lokal.

Baca Juga  Kades Jengen Raya Ucapkan Terima kasih Kepada Wagub Sulbar

Lebih jauh, keberhasilan Festival Ketupat sangat bergantung pada kolaborasi berbagai pihak. Pemerintah daerah menekankan pentingnya sinergi antara seluruh elemen masyarakat, mulai dari perangkat daerah, komunitas budaya, pelaku usaha, hingga generasi muda.
Partisipasi kolektif ini menjadi kekuatan utama dalam memastikan bahwa setiap kegiatan budaya tidak hanya sukses secara penyelenggaraan, tetapi juga memberikan dampak luas bagi masyarakat.

“Melalui Festival Ketupat yang dikemas secara profesional dan berkelanjutan, mampu meningkatkan daya saing di sektor pariwisata, serta mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis budaya,” pungkasnya.

Dengan strategi yang terarah dan dukungan seluruh elemen masyarakat, Festival Ketupat berpotensi menjadi ikon unggulan Sumenep. Lebih dari sekadar perayaan tradisi, festival ini menjelma menjadi simbol perlawanan terhadap homogenisasi budaya, sekaligus bukti bahwa kearifan lokal mampu menjadi kekuatan utama dalam membangun daerah. (Red/TH)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *