POLEWALI, MASALEMBO.ID – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sulawesi Barat menyoroti tragedi meninggalnya seorang warga di Kabupaten Polewali Mandar akibat perselisihan yang dipicu persoalan sampah. WALHI menilai, kejadian ini menjadi alarm keras gagalnya pemerintah daerah dalam mengelola sampah dan membangun kesadaran lingkungan di tengah masyarakat.
Direktur Eksekutif WALHI Sulbar, Asnawi, mengatakan peristiwa tragis ini bukan sekadar insiden kriminal, melainkan puncak dari masalah lingkungan yang dibiarkan tanpa penyelesaian.
“Saya sangat menyesalkan sikap Pemkab Polman yang hingga kini tidak menunjukkan empati sedikit pun, termasuk tidak adanya pernyataan resmi atau belasungkawa kepada keluarga korban. Ketidakpekaan ini menandakan bahwa isu lingkungan dan dampak sosialnya tidak dianggap prioritas. Satu nyawa yang hilang adalah bukti kegagalan negara melindungi rakyatnya,” ujar Asnawi dalam rilis resminya, Senin (17/11/2025).
Ia menambahkan, pengelolaan sampah di Polman selama ini jauh dari memadai. Tumpukan sampah di banyak titik, sistem pengangkutan yang buruk, serta ketiadaan kebijakan tegas dan edukatif membuat masyarakat hidup dalam lingkungan yang kotor dan tidak sehat. Dalam situasi tersebut, konflik sosial menjadi rentan muncul.
WALHI Sulbar menegaskan Pemkab Polman memiliki tanggung jawab langsung untuk melakukan pembenahan menyeluruh terhadap sistem pengelolaan sampah, mulai dari pengurangan timbunan sampah, penegakan aturan, penyediaan fasilitas, hingga edukasi lingkungan secara berkelanjutan.
“Pemerintah harus hadir sebelum ada korban, bukan setelahnya. Krisis lingkungan adalah krisis sosial. Karena itu, penyelesaiannya harus menyeluruh dan berkeadilan,” tegas Asnawi.
Terkait hal ini WALHI Sulbar mendorong empat langkah mendesak untuk tuntutan kepada Pemkab Polman:
- Evaluasi total kebijakan dan praktik pengelolaan sampah daerah.
- Edukasi publik dan pemulihan sosial melalui pendekatan dialog dan non-represif.
- Penegakan hukum yang adil tanpa mengabaikan akar persoalan lingkungan.
- Pembangunan sistem pengelolaan sampah yang manusiawi dan berpihak pada keselamatan warga.
Asnawi menambahkan, tragedi berdarah di Wonomulyo seharusnya jadi peringatan keras. Jika pemerintah terus menutup mata, tidak menutup kemungkinan terjadinya konflik dan korban berikutnya. (ril/har)












