Tawuran di Makassar Berujung Maut, Seorang Warga 40 Tahun Tewas Terkena Senapan Angin

Avatar photo
Gambar ilustrasi tawuran antar warga di Makassar Sulawesi Selatan. (AI)

MAKASSAR, MASALEMBO.ID – Tawuran antarwarga di Kecamatan Tallo, Makassar, berakhir tragis dengan satu korban jiwa pada Selasa (18/11/2025). Nur Syam alias Sutte, seorang pria berusia 40 tahun, meninggal dunia setelah terkena tembakan senapan angin di bagian kepala dalam perkelahian yang berlangsung di areal Pekuburan Beroanging.

Konflik berdarah ini juga menyebabkan kerusakan parah pada properti warga. Sedikitnya tujuh rumah hangus terbakar dalam insiden yang diduga disebabkan oleh dendam lama antar kelompok yang telah berlangsung sejak tahun 1989. Kabid Operasi Damkarmat Makassar, Cakrawala, menjelaskan, “Kemungkinan besar ini dilakukan dengan sengaja. Karena di lokasi juga ada temuan jerigen berisikan bahan bakar, dan memang pada saat tawuran berlangsung banyak ledakan petasan juga.”

Baca Juga  Gubernur SDK: MBG Bukti Pembangunan Sulbar Selaras Visi Prabowo-Gibran

Kapolrestabes Makassar, Kombes Arya Perdana, mengungkapkan bahwa tawuran ini dipicu oleh perselisihan lama yang berlarut dan ditambah dengan dukungan warga yang menonton sehingga memperpanjang konflik. “Kalau masyarakat masih menonton yah masih mendukung terhadap mereka (pelaku) tawuran. Dengan menonton yah memberikan support, yah nggak selesai-selesai,” jelasnya.

Baca Juga  Achmad Fauzi - KH. Imam Hasyim Ditetapkan sebagai Bupati dan Wakil Bupati Sumenep 2024-2029

Meski polisi dan TNI telah melakukan upaya pengamanan di lokasi dan mengimbau warga untuk tidak terlibat, tawuran masih sering terjadi. Kapolsek Tallo AKP Syamsuardi menambahkan, “Tawurannya saling lempar menggunakan batu, busur juga. Tidak ada korban sebelumnya, tapi situasi saat ini sudah sangat memanas.”

Baca Juga  Antisipasi Peredaran Beras Oplosan, Satgas Pangan Sulbar Sidak Pasar di Mamuju

Pihak berwajib masih terus mengusut kejadian ini dan berupaya melakukan pendekatan untuk meredakan ketegangan di antara kedua kelompok. Namun, ancaman skein konflik dan kekerasan tetap membayangi warga di kawasan tersebut. (*/har)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *