MAMUJU, MASALEMBO.ID – Upaya mempertahankan status Sulawesi Barat sebagai lumbung pangan terus dipacu. Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (TPHP) Sulbar melalui UPTD BPTPH bergerak cepat melakukan pengawalan terhadap tanaman padi di Desa Tamemongga, Kecamatan Tommo, Mamuju, guna menangani ancaman penyakit Bercak Daun Cokelat.
Langkah ini merupakan upaya implementasi dalam mendukung Program Swasembada Pangan serta visi Panca Daya yang diusung Gubernur Sulbar Suhardi Duka (SDK) dan Wakil Gubernur Salim S Mengga (JSM).
Aksi penyelamatan ini bermula dari peringatan dini yang dilaporkan POPT Kecamatan Tommo, Thomas. Tercatat, serangan penyakit bercak daun cokelat mengancam 7 hektar lahan milik Kelompok Tani Sipatujui I, dengan tingkat intensitas serangan mencapai 22,22% dan area waspada seluas 15 hektar.
Menindaklanjuti laporan tersebut, pada Rabu (21/01/2026), tim gabungan yang terdiri dari LPHP Wilayah I Salugatta, Koordinator POPT Mamuju, PPL, serta petani setempat melakukan evaluasi pasca-Gerakan Pengendalian (Gerdal) swadaya yang telah dilaksanakan pada 14 Januari lalu menggunakan bahan aktif metil tiofanat.
Penyakit ini bukan ancaman sepele. Sukri, Penanggungjawab LPHP Wilayah I Salugatta, memaparkan bahwa tanpa pengendalian yang tepat, petani terancam kehilangan pundi-pundi rupiah yang cukup besar.
“Hasil pengamatan setelah dilakukan Gerdal OPT secara swadaya, yaitu seluas 3 Ha dinyatakan pulih atau terkendali dari 7 Ha yang terserang. Dan seluas 4 Ha yang belum terkendali sepenuhnya kembali dilakukan pengendalian dengan mengaplikasikan bahan aktif yang sama, yaitu metil tiofanat,” ungkap Sukri.
Tanpa intervensi ini, potensi kehilangan hasil diperkirakan mencapai 16,63% atau setara dengan 813 kg gabah kering panen dari rata-rata produksi normal 5-6 ton/ha.
Instruksi Pengawalan Ketat
Kepala UPTD BPTPH Sulbar, Hasdiq Ramadhan, memberikan instruksi tegas untuk memastikan pemulihan total di lapangan. Ia meminta tim di bawahnya untuk terus memantau perkembangan dalam kurun waktu 7-10 hari ke depan.
Hasdiq menekankan pentingnya kewaspadaan konstan agar surplus beras di Sulawesi Barat tidak terganggu oleh serangan OPT. “Hasil pengamatan setelah dilakukan Gerdal OPT secara swadaya, yaitu seluas 3 hektar dinyatakan pulih atau terkendali dari 7 hektar yang terserang. Dan seluas 4 hektar yang belum terkendali sepenuhnya kembali dilakukan pengendalian dengan mengaplikasikan bahan aktif yang sama, yaitu metil tiofanat,” tambah Sukri mengulangi laporan koordinasinya kepada Kepala UPTD.
Dengan pengendalian yang berkelanjutan, diharapkan produktivitas petani di Kecamatan Tommo tetap terjaga demi menyongsong swasembada pangan yang berkelanjutan. (ril/haR)












