POLMAN.MASALEMBO.ID — Sudah sepekan pasca ambruknya Jembatan Pussepang di Desa Jambu Malea, Kecamatan Tapango, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, masyarakat hingga kini belum juga merasakan adanya jembatan darurat yang dijanjikan pemerintah daerah.
Sebelumnya, Bupati Polewali Mandar, H.Samsul Mahmud, sempat meninjau langsung lokasi jembatan yang ambruk tersebut. Dalam kunjungannya, ia berjanji akan secepatnya menyediakan jembatan darurat agar aktivitas masyarakat dapat kembali normal.
Namun hingga saat ini, janji tersebut belum juga terealisasi. Akibatnya, warga terpaksa bergotong royong membangun jembatan seadanya menggunakan batang bambu agar tetap bisa dilalui masyarakat.
Jembatan bambu tersebut kini menjadi satu-satunya akses sementara bagi warga untuk beraktivitas, mulai dari pergi ke sekolah, berkebun, hingga mencari nafkah.
Meski demikian, kondisi jembatan dinilai sangat rawan karena dapat sewaktu-waktu hanyut saat debit air sungai meningkat.
Salah seorang warga, Fitri, mengaku kecewa karena hingga kini belum ada penanganan nyata dari pemerintah daerah.
“Lihat orang tua kami, terpaksa membuat jembatan bambu secara gotong royong karena sampai sekarang belum ada jembatan darurat dari pemerintah. Anak-anak sekolah dan warga tetap harus menyeberang setiap hari,” ujar Fitri.
Hal senada disampaikan warga lainnya, Anas. Ia berharap pemerintah segera mengambil langkah cepat sebelum terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
“Kalau hujan deras dan air sungai naik, jembatan bambu ini bisa hanyut kapan saja. Apalagi jembatan bambu ini rendah, jadi kami berharap pemerintah jangan terlalu memperlambat penanganan dan segera bertindak karena masyarakat sangat membutuhkan akses yang bisa dilewati,” kata Anas.
Warga berharap pemerintah daerah segera merealisasikan pembangunan jembatan darurat agar aktivitas masyarakat kembali normal dan keselamatan warga tidak terus dipertaruhkan setiap hari.(*)












