Petik Laut di Gayam: Tradisi Nelayan Syarat Makna

Avatar photo
Terlihat perahu-rahu warga Gayam, Kepulauan Sapudi saat mengikuti pelaksanaan tradisi Petik Laut (Istimewa/Masalembo.id)

SUMENEP, MASALEMBO.ID – Tradisi Petik Laut yang digelar oleh para nelayan di Kecamatan Gayam, Kepulauan Sapudi, Kabupaten Sumenep, kembali terlaksana dengan penuh kekhidmatan dan makna mendalam pada tahun 2026. Kegiatan ini menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat pesisir yang tidak hanya mempertahankan budaya, tetapi juga meneguhkan nilai-nilai kebersamaan dan spiritualitas.

Pelaksanaan tradisi tersebut berlangsung dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat. Warga tampak antusias mengikuti setiap rangkaian acara, mulai dari persiapan hingga puncak prosesi. Nuansa religius yang kental berpadu dengan semangat gotong royong, menciptakan suasana yang hangat dan penuh kebersamaan.

Tradisi Petik Laut sendiri telah lama menjadi identitas masyarakat nelayan di wilayah tersebut. Setiap tahunnya, kegiatan ini menjadi momentum untuk mengungkapkan rasa syukur atas hasil laut yang diperoleh, sekaligus sebagai doa bersama demi keselamatan dan keberkahan dalam mencari nafkah di laut.

Baca Juga  DKPP Sumenep Dorong Transformasi Digital Pertanian Lewat Aplikasi Silangtani

Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Sumenep, H. Hosnan, turut memberikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia menilai bahwa Petik Laut memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar ritual budaya tahunan.

“Selamat semuanya, barokah untuk nelayan. Senyum kalian juga bahagia kami,” katanya (14/04) sore.

Menurut Hosnan, kebahagiaan para nelayan merupakan bagian dari kebahagiaan bersama yang harus dijaga. Ia menegaskan pentingnya dukungan dari semua pihak agar tradisi Petik Laut tetap lestari dan tidak tergerus oleh perkembangan zaman.

Sebagai politisi yang berasal dari daerah kepulauan, ia memahami betul dinamika kehidupan masyarakat pesisir. Ia menyebut bahwa tradisi seperti Petik Laut mengandung nilai religius, sosial, dan budaya yang sangat kuat.

Baca Juga  Gubernur Sulbar Dukung STAIN Majene Jadi Universitas Negeri

“Ini bukan hanya soal budaya, tapi juga tentang rasa syukur dan kebersamaan. Tradisi seperti ini harus terus kita rawat sebagai identitas daerah,” tambahnya.

Lebih jauh, ia menilai bahwa tradisi ini mampu mempererat solidaritas antarwarga. Dalam pelaksanaannya, masyarakat tidak hanya berkumpul untuk menjalankan ritual, tetapi juga memperkuat hubungan sosial yang menjadi fondasi kehidupan bersama di wilayah pesisir.

Hosnan juga menyoroti potensi besar yang dimiliki tradisi Petik Laut dalam mendukung sektor pariwisata. Ia menilai, jika dikelola secara serius, kegiatan ini dapat menjadi daya tarik wisata budaya yang mampu memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat setempat.

Baca Juga  Legislator Sumenep Minta Penutupan Yayasan Darul Abrar Usai Kasus Dugaan Asusila oleh Pimpinan Lembaga

“Dengan meningkatnya minat wisatawan terhadap budaya lokal, tradisi seperti Petik Laut memiliki peluang besar untuk dikenal lebih luas. Hal ini tentu dapat membuka peluang usaha baru dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya di wilayah kepulauan,” ungkapnya.

Tradisi Petik Laut identik dengan prosesi larung sesaji ke tengah laut. Prosesi ini menjadi simbol permohonan keselamatan dan keberkahan bagi para nelayan dalam menjalankan aktivitasnya. Selain itu, kegiatan ini juga mencerminkan hubungan yang harmonis antara manusia dan alam.

Di tengah arus modernisasi, masyarakat Gayam tetap berkomitmen menjaga warisan budaya ini. Keterlibatan generasi muda dalam setiap pelaksanaan tradisi menjadi bukti bahwa nilai-nilai tersebut masih hidup dan terus diwariskan. (Red/TH)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *