MAJENE, MASALEMBO.ID – Pelayanan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Majene kembali dikeluhkan. Kali ini Seorang warga bernama Ilham menyampaikan kekecewaannya terhadap pelayanan obat di RSUD) Majene. Ia mengaku kecewa setelah dua kali diminta membeli obat di luar rumah sakit untuk orang tuanya yang sedang dirawat karena muntaber.
Menurut Ilham, dokter yang merawat orang tuanya telah memberikan resep obat, namun pihak rumah sakit menyatakan obat tersebut tidak tersedia di instalasi farmasi RSUD Majene. Akibatnya, ia harus merogoh kocek sendiri untuk membeli obat di luar rumah sakit.
“Kami sudah dua kali disuruh beli obat di luar karena katanya tidak tersedia di rumah sakit. Ini sangat mengecewakan, apalagi kami datang ke rumah sakit pemerintah karena berharap semua pelayanan bisa terpenuhi di sini,” keluh Ilham, Senin (28/7/2025).
Kekecewaan Ilham tidak hanya soal ketiadaan obat, tetapi juga terkait pernyataan dari pihak rumah sakit yang dinilainya kurang etis. Ia mengaku sempat melakukan konfirmasi kepada pihak RSUD Majene mengenai kelangkaan obat tersebut.
Namun, Direktur RSUD Majene, dr. Yupi Handayani, justru menyebut bahwa kekosongan obat merupakan hal yang lumrah terjadi. “Bahkan di rumah sakit besar pun hal demikian bisa saja terjadi,” ujarnya.
Pernyataan tersebut dinilai Ilham tidak mencerminkan pelayanan publik yang baik. “Kalau alasannya lumrah, lalu bagaimana dengan pasien-pasien lain yang tidak mampu membeli obat di luar? Harusnya rumah sakit bisa mengantisipasi hal seperti ini, bukan justru menganggapnya biasa saja,” tegasnya.
Ilham berharap pemerintah daerah dan manajemen RSUD Majene segera membenahi sistem pelayanan obat di rumah sakit tersebut agar kejadian serupa tidak terulang. Menurutnya, keberadaan obat yang memadai di rumah sakit merupakan kebutuhan mendasar untuk mendukung pelayanan kesehatan yang layak bagi masyarakat.
Direktur RSUD Majene, dr. Yupi Handayani, memberikan penjelasan lebih lanjut terkait keluhan keluarga pasien mengenai ketersediaan obat di rumah sakit yang dipimpinnya. Ia menegaskan bahwa kekosongan obat bukanlah fenomena yang hanya terjadi di RSUD Majene. “Di rumah sakit besar seperti Wahidin Sudirohusodo (WS), Primaya, atau Siloam, juga sering ditemukan obat-obat yang kosong. Bahkan ada juga obat-obatan yang memang tidak ditanggung oleh BPJS,” ujarnya.
Yupi mengaku baru menjabat selama dua bulan sebagai Direktur RSUD Majene, karenanya ia meminta masyarakat bersabar dan memberi kesempatan untuk melakukan pembenahan. “RSUD Majene sedang dalam proses perbaikan. Saya berharap semua pihak bisa bersabar dan mendukung langkah-langkah perbaikan yang sedang kami lakukan,” katanya.
Ia juga menekankan adanya perkembangan positif dalam penyediaan obat dan alat kesehatan. “Sekarang banyak obat dan bahan medis habis pakai (BMHP) yang sebelumnya kosong kini sudah tersedia kembali. Ini patut diapresiasi sebagai hasil kerja keras teman-teman di RSUD,” ungkapnya. (Har/red)












