HDDAP Salah Satu Strategi Pertanian Untuk Lahan Kering di Sumenep

Avatar photo
Wabup Sumenep KH Imam Hasyim (Istimewa/Masalembo.id)

SUMENEP, MASALEMBO.ID – Upaya Pemerintah Kabupaten Sumenep dalam mendorong transformasi sektor pertanian terus diperkuat melalui implementasi Program Horticulture Development in Dryland Areas Project (HDDAP). Program ini menjadi salah satu strategi utama dalam mengoptimalkan potensi lahan kering agar lebih produktif sekaligus mampu meningkatkan kesejahteraan petani secara berkelanjutan.

Dalam pelaksanaan rapat koordinasi HDDAP yang berlangsung di Kantor Bupati Sumenep pada Kamis (16/04/2026), Wakil Bupati Sumenep KH. Imam Hasyim menegaskan bahwa program ini memiliki peran penting dalam membangun sistem pertanian yang lebih adaptif terhadap kondisi lingkungan yang kerap menjadi tantangan di wilayah lahan kering.

“HDDAP merupakan program yang memiliki peran strategis, dalam mendorong pengembangan sektor hortikultura yang adaptif terhadap kondisi lingkungan, sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani,” katanya (16/04).

Program HDDAP tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi pertanian semata, tetapi juga mengusung pendekatan yang menyeluruh. Mulai dari penguatan kapasitas petani melalui pelatihan, peningkatan kelembagaan kelompok tani, pemanfaatan teknologi tepat guna, hingga pengembangan rantai nilai produk hortikultura agar memiliki daya saing lebih tinggi di pasar.

Baca Juga  Kasat Reskrim Polres Polman Turun Langsung Olah TKP, 37 Rumah Terdampak Kebakaran Hebat di Balanipa

“Kami berharap, HDDAP memberikan kontribusi nyata melalui penerapan teknologi pertanian, sehingga menghasilkan produk hortikultura yang berkualitas,” ujarnya.

Sumenep menjadi salah satu dari 13 kabupaten di Indonesia yang dipercaya untuk menjalankan program ini. Penunjukan tersebut tidak lepas dari potensi besar yang dimiliki daerah, khususnya dalam pengembangan komoditas hortikultura di kawasan lahan kering yang selama ini belum dimaksimalkan secara optimal.

Dalam implementasinya, HDDAP memprioritaskan tiga komoditas unggulan, yakni pisang, bawang merah, dan cabai. Ketiga komoditas tersebut dipilih karena memiliki nilai ekonomi tinggi serta peluang pasar yang terus berkembang.

“Komoditas itu tersebar di 5 Kecamatan, yaitu Batuputih komoditas pisang, Ambunten dan Rubaru komoditas cabai serta Guluk-Guluk dan Pasongsongan untuk komoditas bawang merah,” terangnya.

Baca Juga  Camat Wonomulyo Geram, Pemilik Anjing Tak Hadir Rapat: “Berkeliaran, Kami Anggap Liar dan Siap Dimusnahkan”

Pengembangan komoditas dilakukan dengan pendekatan klaster guna meningkatkan efektivitas pengelolaan dan pendampingan. Untuk komoditas pisang, terbentuk dua klaster di Kecamatan Batuputih dengan luas lahan mencapai 32,53 hektare. Sementara itu, komoditas bawang merah dikembangkan melalui empat klaster di Kecamatan Guluk-Guluk dengan luas 49,77 hektare dan tujuh klaster di Kecamatan Pasongsongan dengan luas 53,940 hektare.

Di sisi lain, komoditas cabai rawit menunjukkan perkembangan yang cukup signifikan. Terdapat dua klaster di Kecamatan Ambunten dengan luas lahan 62,87 hektare serta 16 klaster di Kecamatan Rubaru dengan total luas mencapai 112,28 hektare. Skema klaster ini dinilai mampu meningkatkan efisiensi produksi sekaligus memperkuat posisi tawar petani dalam rantai distribusi.

“Kami ingin para petani bisa bertransformasi dari pola tradisional menuju pertanian yang lebih modern, produktif, dan berorientasi pasar,” jelasnya.

Baca Juga  DKPP Sumenep Genjot Produktivitas Tanam Padi, Target 25 Ribu Hektare Diproyeksi Tercapai

Lebih dari sekadar peningkatan hasil panen, keberhasilan HDDAP juga diukur dari sejauh mana program ini mampu menciptakan sistem pertanian yang berkelanjutan dan ramah lingkungan. Hal ini penting untuk memastikan bahwa sektor pertanian tetap mampu bertahan di tengah tantangan perubahan iklim dan keterbatasan sumber daya.

Pemerintah daerah juga menekankan pentingnya kolaborasi antara berbagai pihak, mulai dari pemerintah, petani, hingga stakeholder terkait lainnya. Sinergi ini menjadi kunci agar setiap program yang dijalankan benar-benar sesuai dengan kebutuhan di lapangan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Karena itu, semua pihak bersinergi dan berkolaborasi agar setiap program yang dirancang benar-benar sesuai dengan kebutuhan, supaya hasilnya memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

“Program ini harus menjadi ruang kolaborasi yang efektif, agar petani menjadi subjek utama dalam menjaga keberlanjutan program, untuk membangunan pertanian di Kabupaten Sumenep,” pungkasnya (Red/TH)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *