Citra UNIBA Madura Terpuruk: Pendiri Tersangkut Korupsi BTS 4G, Hingga Skandal Pelecehan Seksual Mahasiswanya

Kampus UNIBA tampak depan (Foto: Thofu)

SUMENEP, MASALEMBO.ID- Universitas Bahaudin Mudhary (UNIBA) Madura kembali menjadi pembicaraan hangat. Kampus yang pernah digadang-gadang sebagai pusat pendidikan unggul di Madura kini dirundung sejumlah masalah yang merusak reputasinya.

Setelah kasus korupsi yang melibatkan pendiri kampus, Achsanul Qosasi, kini muncul kabar yang tak kalah memprihatinkan. Dugaan pelecehan seksual dan keterlibatan dua mahasiswa dalam peredaran pil ekstasi turut menyeret nama UNIBA ke dalam sorotan publik.

Pendiri Kampus Terlibat Kasus Korupsi

Achsanul Qosasi, tokoh di balik pendirian UNIBA Madura, menjadi perhatian publik usai divonis 2,5 tahun penjara dalam kasus suap proyek Base Transceiver Station (BTS) 4G Kementerian Komunikasi dan Informatika.

Dalam sidang pada 20 Juni 2024, Achsanul terbukti menerima suap sebesar Rp 40 miliar untuk memuluskan laporan proyek tersebut agar mendapat opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP). Kendati divonis bersalah, hukuman yang dijatuhkan lebih ringan dibanding tuntutan jaksa, yakni lima tahun penjara.

Baca Juga  Gabungan Organisasi Mahasiswa Sulbar di Makassar Gelar Diskusi, Bahas Soal Tambang

Kasus ini bermula dari transaksi yang melibatkan Direktur Multimedia Berdikari Sejahtera, Windi Purnama, atas perintah Anang Achmad Latif dari Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI). Meski uang suap telah dikembalikan, kasus ini mencoreng nama Achsanul dan institusi yang ia dirikan.

Mahasiswi Lapor Dugaan Pelecehan Seksual

Belum selesai dengan isu pendirinya, UNIBA kembali menjadi berita setelah seorang mahasiswi, LL, melaporkan seniornya, YP, ke Polres Sumenep atas dugaan pelecehan seksual.

Menurut laporan, peristiwa ini terjadi pada 23 Agustus 2024 saat YP mengajak LL ke Taman Tajamara untuk membahas kegiatan organisasi. Namun, YP kemudian membujuk LL ke kosnya di Desa Babalan, Kecamatan Batuan, dengan dalih mengambil barang. Di tempat tersebut, YP diduga melakukan tindakan tidak senonoh, termasuk mencium kening LL tanpa izin.

“Saya merasa trauma dan ingin pelaku dihukum sesuai hukum yang berlaku,” ujar LL, Selasa, 17 Desember 2024. Hingga kini, pihak kepolisian masih menyelidiki laporan tersebut.

Baca Juga  Sumenep Unjuk Gigi di Ajang Porprov Jatim IX 2025, Renang dan Judo Sumbang Medali Bergengsi

Dua Mahasiswa Diduga Edarkan Pil Ekstasi

Di waktu yang berdekatan, dua mahasiswa UNIBA juga diamankan aparat kepolisian terkait dugaan peredaran pil ekstasi. Humas Polres Sumenep, AKP Widiarti S, membenarkan penangkapan ini meski identitas kedua mahasiswa tersebut masih dirahasiakan.

“Kami menangkap dua mahasiswa yang diduga terlibat peredaran pil ekstasi. Kasus ini sedang dalam tahap pengembangan,” ujar AKP Widiarti, Senin, 22 Desember 2024.

Kasus ini menambah panjang daftar masalah yang menghantui UNIBA Madura, sekaligus mencoreng nama baik institusi yang dulunya menjadi kebanggaan masyarakat Madura.

Respons Pihak Kampus

Di tengah berbagai persoalan ini, Rektor UNIBA Madura, Rahmad Hidayat, memilih untuk tidak banyak berkomentar. Menurutnya, kasus-kasus tersebut sudah masuk ranah hukum dan tidak berhubungan langsung dengan institusi.

Baca Juga  Kabupaten Sumenep Perkuat Identitas Kota Keris di Hari Jadi ke-756

“Kita serahkan kepada pihak berwenang. Kampus tidak bertanggung jawab atas tindakan individu mahasiswa di luar lingkungan akademik,” ujarnya singkat.

Namun, masyarakat mulai meragukan komitmen kampus dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan bebas dari praktik-praktik tercela. Berbagai pihak mendesak adanya reformasi di internal kampus untuk memulihkan citra UNIBA yang sudah terlanjur rusak.

Citra Kampus di Ujung Tanduk

Masalah demi masalah yang muncul membuat UNIBA Madura menghadapi tantangan besar dalam membangun kembali kepercayaan masyarakat. Polemik ini menjadi pengingat pentingnya tata kelola yang baik serta pengawasan ketat terhadap mahasiswa maupun staf.

Dengan banyaknya sorotan negatif, langkah konkret diperlukan agar UNIBA bisa kembali menjadi institusi pendidikan yang membanggakan bagi masyarakat Madura. Tanpa reformasi menyeluruh, sulit rasanya bagi kampus ini untuk keluar dari bayang-bayang kontroversi yang terus menghantuinya. (TH)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *