Haul Raja-Raja Madura, Cara Sumenep Jaga Warisan Leluhur

Avatar photo
Suasana Haul Raja-raja Madura di depan Masjid Jami' Kabupaten Sumenep (Istimewa/Masalembo.id)

SUMENEP, MASALEMBO.ID – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep, menggelar Haul Raja-raja Madura dalam rangka memperingati Hari Jadi Kabupaten Hari Jadi ke-757 Kabupaten Sumenep, depan Masjid Jamik, Jumat (30/10) malam.

Bupati Achmad Fauzi Wongsojudo, dal sambutanya mengatakan haul merupakan salah satu cara untuk menjaga kesinambungan sejarah daerah sekaligus memperkuat kecintaan masyarakat terhadap warisan leluhurnya.

Dan harus menjadi momentum untuk menengok kembali perjalanan panjang para leluhur dalam membangun fondasi pemerintahan, kehidupan sosial, dan kebudayaan masyarakat Sumenep serta Madura.

Ia menilai, pembangunan boleh melaju, teknologi dapat mengubah wajah zaman, tetapi sejarah tidak boleh ditinggalkan. Sebab, di dalam sejarah tersimpan identitas, nilai perjuangan, dan jejak kebudayaan yang menjadi penanda perjalanan suatu daerah.

Penghormatan terhadap para pendahulu menjadi pengingat bahwa kemajuan tidak lahir dari ruang kosong. Ada sejarah panjang, perjuangan, dan nilai-nilai yang diwariskan lintas generasi hingga membentuk wajah Sumenep seperti sekarang.

“Haul dalam rangka memperingati Hari Jadi ke-757 Kabupaten Sumenep untuk mengenang jasa dan perjuangan para leluhur, sekaligus memperkuat kecintaan masyarakat terhadap sejarah dan budaya daerah,” katanya (30/10).

Ia menjelaskan perjalanan kepemimpinan para raja tidak semestinya dipahami sebatas pergantian kekuasaan pada masa silam. Di balik sejarah tersebut terdapat nilai perjuangan, kebijaksanaan, keteladanan, serta prinsip kehidupan yang ikut membentuk karakter masyarakat.

Baca Juga  DPRD Sumenep Seleksi 11 Calon Komisioner KI

Nilai-nilai itu, kata dia, tetap relevan untuk dijadikan pegangan dalam menghadapi tantangan masa kini. Sejarah bukan sekadar urusan masa lalu, melainkan sumber pembelajaran untuk menata masa depan dengan pijakan identitas yang kuat.

Karena itu, penghormatan terhadap leluhur perlu melampaui kegiatan seremonial. Masyarakat harus memperoleh ruang untuk memahami sejarah daerahnya, sedangkan generasi muda perlu didorong agar mengenali asal-usul dan kebudayaan yang membentuk lingkungan sosial mereka.

Pemkab Sumenep memandang peringatan hari jadi daerah sebagai kesempatan untuk membangun kesadaran bersama bahwa perjalanan pemerintahan dan pembangunan hari ini tidak dapat dilepaskan dari perjuangan generasi terdahulu.

“Kami memperingati Hari Jadi Kabupaten Sumenep tidak hanya menjadi agenda seremonial tahunan, tetapi menjadi bagian merefleksikan perjalanan panjang sejarah pemerintahan dan perjuangan para pendahulu dalam membangun daerah,” tuturnya.

Menurut Bupati Achmad Fauzi menjaga sejarah merupakan bagian penting dari upaya merawat jati diri daerah. Pembangunan yang hanya berorientasi pada pencapaian fisik berisiko mengabaikan dimensi kebudayaan yang selama ini menjadi kekuatan masyarakat.

Infrastruktur yang semakin baik, ekonomi yang berkembang, dan pelayanan publik yang meningkat memang menjadi bagian penting dari kemajuan. Namun, capaian tersebut perlu berjalan seiring dengan perlindungan terhadap tradisi, kearifan lokal, dan nilai-nilai yang tumbuh dalam kehidupan masyarakat.

Baca Juga  Membangun Generasi Berkarakter di Era Digital, Kadisdik Sumenep Tekankan Hal Ini?

Di titik inilah Haul Raja-Raja Madura memiliki makna yang lebih luas. Kegiatan tersebut bukan hanya menjadi ruang penghormatan kepada para pendahulu, melainkan juga sarana untuk menyambungkan ingatan kolektif masyarakat dengan perjalanan sejarah yang membentuk identitas daerah.

Sejarah yang terawat dapat menjadi sumber inspirasi bagi generasi muda untuk memahami bahwa identitas bukan sesuatu yang hadir dengan sendirinya. Identitas tumbuh melalui proses panjang, perjuangan, interaksi sosial, serta kebudayaan yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Sebaliknya, ketika sejarah mulai dilupakan, masyarakat berisiko kehilangan pijakan dalam menentukan arah masa depan. Kemajuan yang tidak disertai kesadaran budaya dapat membuat daerah tumbuh secara fisik, tetapi perlahan menjauh dari karakter yang menjadi pembeda dengan wilayah lain.

Menurutnya, kebudayaan dan pembangunan bukan dua kepentingan yang harus dipertentangkan. Keduanya justru perlu berjalan beriringan agar kemajuan yang dicapai tidak mengikis nilai-nilai yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat Sumenep.

“Jangan sampai kemajuan pembangunan membuat seluruh elemen pemerintah dan masyarakat melupakan akar sejarah dan budaya sendiri, tetapi menjaga dan merawat kearifan lokal sebagai identitas dan kekuatan masyarakat,” ungkapnya.

Baca Juga  RSUDMA Sumenep Perkuat Layanan Spesialistik, Bedah Digestif Kini Hadir di Madura Timur

Politisi PDI Perjuangan tersebut menilai, perjalanan Kabupaten Sumenep tidak bisa dipisahkan dari kontribusi para raja dan tokoh terdahulu. Mereka telah meletakkan dasar bagi perkembangan pemerintahan, kehidupan sosial, dan kebudayaan yang terus bertumbuh hingga saat ini.

Warisan tersebut menjadi tanggung jawab bersama untuk dijaga, bukan hanya oleh pemerintah, melainkan juga masyarakat, lembaga pendidikan, komunitas kebudayaan, dan generasi muda.

Dalam konteks itu, merawat sejarah berarti memastikan bahwa nilai-nilai luhur tidak berhenti sebagai cerita dalam buku atau ingatan kolektif. Nilai tersebut harus menemukan bentuk nyata dalam kehidupan, mulai dari semangat kebersamaan, penghormatan terhadap kearifan lokal, hingga komitmen membangun daerah secara berkelanjutan.

Haul Raja-Raja Madura pun menjadi pengingat bahwa masa lalu tidak harus menjadi beban bagi masa depan. Sebaliknya, sejarah dapat menjadi kompas untuk menentukan arah pembangunan tanpa kehilangan akar kebudayaan.

“Peringatan Hari Jadi ke-757 Kabupaten Sumenep tidak hanya menjadi refleksi perjalanan masa lalu, tetapi menjadi pijakan untuk menatap masa depan dengan semangat kebersamaan dan pembangunan berkelanjutan,” pungkasnya. (Red/TH)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *