Mengapa Palu dan Sulawesi Tengah Langganan Gempa? Ini Penjelasan Geologisnya

Ilustrasi catatan gempa. (Net)

​PALU, MASALEMBO.ID – Rentetan gempa bumi yang kembali mengguncang wilayah Sulawesi Tengah, termasuk gempa magnitudo 6,7 pada Selasa (16/6/2026), memicu pertanyaan di kalangan masyarakat: mengapa wilayah ini seolah menjadi “langganan” bencana gempa?

​Berdasarkan data geologi dan seismologi, Sulawesi Tengah memang berada di kawasan dengan aktivitas tektonik paling aktif di Indonesia. Para ahli menyebut ada beberapa faktor utama yang menjadikan wilayah ini memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap guncangan bumi.

​1. Pertemuan Tiga Lempeng Tektonik
​Sulawesi Tengah berada di titik pertemuan kompleks dari tiga lempeng tektonik utama, yakni Lempeng Indo-Australia, Lempeng Pasifik, dan Lempeng Eurasia. Interaksi dan tubrukan antar-lempeng ini menciptakan tekanan tektonik yang sangat besar di kerak bumi, yang secara berkala harus dilepaskan melalui gempa bumi.

Baca Juga  Dua Dekade Lebih Bumi Kondosapata: Visi ‘Mamasa Mamase’ Menggema di HUT ke-24

​2. Jalur Sesar Palu-Koro yang Sangat Aktif
​Faktor yang paling dominan adalah keberadaan Sesar Palu-Koro. Ini merupakan salah satu sesar darat paling aktif dan tercepat pergerakannya di Indonesia. Sesar ini membelah daratan Sulawesi dari arah Teluk Bone hingga ke Selat Makassar, tepat melintasi Kota Palu. Karena posisinya yang berada di daratan dan dekat dengan pemukiman, pelepasan energi pada sesar ini cenderung terasa sangat kuat dan dangkal.

​3. Jaringan Sesar Lokal
​Selain Sesar Palu-Koro, wilayah Sulawesi Tengah juga memiliki jaringan sesar aktif lainnya. Peristiwa gempa M 6,7 pada 16 Juni 2026 kemarin, misalnya, diidentifikasi oleh para ahli seismologi berkaitan dengan aktivitas Sesar Sausu dan Sesar Tokararu. Kehadiran sesar-sesar lokal ini memperbanyak titik-titik pusat gempa di luar jalur utama Palu-Koro.

Baca Juga  Pemkab Mateng Lepas 229 CJH ke Makassar, Terbagi Dua Kloter

​4. Struktur Tanah dan Amplifikasi Guncangan
​Kondisi topografi dan struktur tanah di beberapa wilayah Sulawesi Tengah, termasuk Palu yang berada di lembah dengan sedimen tanah lunak, turut memperburuk dampak guncangan. Tanah lunak ini memiliki efek amplifikasi—guncangan yang merambat dari pusat gempa akan terasa jauh lebih kuat dan merusak saat mencapai permukaan.

Baca Juga  Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi Salurkan Bantuan Pemulihan Infrastruktur Pasca Gempa di Bitung

​Imbauan Mitigasi

​Mengingat posisi geologisnya yang tidak berubah, masyarakat diimbau untuk selalu meningkatkan kesiapsiagaan:
​Kenali Lingkungan: Hindari menempati bangunan yang tidak memenuhi standar tahan gempa.

​Pahami Jalur Evakuasi: Pastikan keluarga mengetahui titik kumpul yang aman.
​Informasi Resmi: Selalu pantau informasi melalui kanal resmi BMKG untuk menghindari kepanikan akibat berita bohong (hoax).

​Pemerintah daerah bersama BPBD terus didorong untuk memperkuat edukasi mitigasi berkelanjutan, agar masyarakat tidak hanya sekadar waspada, tetapi juga mampu merespons dengan cepat dan tepat saat terjadi bencana. (*)


Sumber: BMKG & BPBDSulteng

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *