Pakar Hadis Tarbawi Hadir, Halalbihalal Ungkap Sejarah Awal Persyarikatan Muhammadiyah di Mandar

Avatar photo
Kegiatan Halalbihalal Muhammadiyah Sulbar di gedung BPMP Sulawesi Barat di Rangas, Kabupaten Majene, Ahad 5 April 2026. (Muhammadiyah Sulbar/dok)

MAJENE, MASALEMBO.ID – Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) dan Pimpinan Wilayah Aisyiyah (PWA) Sulawesi Barat menggelar Halalbihalal 1447 H dengan nuansa yang istimewa.

Tak sekadar silaturahmi, pertemuan yang berlangsung di Aula BPMP Sulbar, Majene, Ahad (5/4/2026) ini juga menjadi momen refleksi sejarah masuknya Muhammadiyah ke tanah Mandar.

Acara ini dihadiri lebih dari 500 warga, simpatisan, serta tokoh penting. Tampak hadir Sekda Provinsi Sulbar, Junda Maulana mewakili Gubernur, Ketua PWM Sulbar KH Wahyun Mawardi, Ketua PWA Sulbar Hj Sunarti Marlianti, Kepala BPMP Sulbar Haksan Darmawan, Rektor Unimaju Muhammad Tahir, serta Rektor ITBM Nursahdi Saleh.

Pesan Silaturahmi dari Pakar Hadis Tarbawi

Baca Juga  Komunitas Sanguyun Takbu Gelar Gotong Royong di Desa Malabo

Hadir sebagai penceramah utama, Guru Besar bidang Ilmu Hadis Tarbawi, Prof Dr KH Mahsyar Idris, M Ag. Dalam tausiyahnya, ia menekankan bahwa merawat silaturahmi adalah fondasi utama kebaikan umat.

“Silaturahmi dalam bentuk tradisi Halalbihalal atau Syawalan adalah hal penting dan merupakan tradisi yang sangat baik untuk menjaga kohesi umat,” tutur Mahsyar.

Meski dalam kondisi fisik yang kurang fit sehingga harus menyampaikan ceramah sambil duduk, semangat guru besar IAIN Parepare itu tetap terpancar kuat saat memberikan siraman rohani kepada ratusan jamaah yang memadati ruangan.

Menelusuri Jejak Sejarah di Tahun 1928

Hal menarik terungkap saat Ketua Panitia, Farhanuddin, menyampaikan laporannya. Ia memaparkan perspektif historis yang memberi makna mendalam bagi keberadaan Muhammadiyah di Bumi Malaqbiq.

Baca Juga  JK Dorong Muhammadiyah Kuatkan Semangat Entrepreneur di Milad ke-113

Berdasarkan riset ilmiah, termasuk artikel karya Ridwan Alimuddin dengan sub-judul “Muhammadiyah di Mandar: Sebuah Revolusi Keagamaan”, terungkap bahwa persyarikatan ini telah hadir di Mandar sejak era sebelum kemerdekaan.

Dalam artiket Ridwan itu, dituliskan bahwa di tahun 1928: Muhammadiyah pertama kali berdiri di Mandar, tepatnya di Majene, kemudian di tahun 1932 Menyusul kemudian pendirian cabang di Tinambung.

“Halalbihalal kali ini memiliki nilai historis yang kuat. Mengingat Muhammadiyah sudah ada di Majene sejak 1928, fakta ini harus menjadi motivasi untuk terus memajukan kualitas keumatan, terutama di bidang pendidikan dan sosial,” tegas Farhanuddin.

Baca Juga  Verifikasi Calon Penerima Bantuan, Perkimtan Sulbar Ajak Fasilitator dan Pokmas Susun Anggaran Rehab Rumah

Aksi Nyata Pendidikan dan Aset

Sebagai bentuk komitmen nyata dalam memajukan pendidikan, PWM Sulbar menyerahkan bantuan sebesar Rp 10 juta kepada Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Majene. Bantuan tersebut diperuntukkan bagi dukungan pembangunan SD Muhammadiyah Unggulan yang berfokus pada bidang sains dan tahfidz.

Penyerahan dilakukan oleh KH Wahyun Mawardi kepada Ketua PDM Majene, Darmawan Hafid. Bantuan juga disampaikan LazisMU Sulbar.

Acara juga diisi dengan penyerahan sertifikat aset tanah Muhammadiyah oleh perwakilan BPN Polman dan BPN Majene kepada Ketua PWM Sulbar, sebagai langkah penting dalam tertib administrasi dan pengamanan aset persyarikatan di Sulawesi Barat. (ril/har)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *