SUMENEP, MASALEMBO.ID – Rumah Sakit Umum Daerah dr. H. Moh. Anwar (RSUDMA) Sumenep terus menegaskan arah barunya sebagai rumah sakit daerah yang adaptif terhadap perkembangan teknologi kesehatan modern.
Tidak sekadar memperluas bangunan atau menambah alat medis, RSUD milik Pemerintah Kabupaten Sumenep ini memilih jalur transformasi menyeluruh untuk mempercepat pembenahan sistem pelayanan, mempercepat akses pasien, dan menghadirkan inovasi yang selama ini identik dengan rumah sakit besar di kota-kota metropolitan.
Di bawah kepemimpinan Direktur RSUDMA, dr. Erliyati, perubahan tersebut dijalankan secara terukur dan berkelanjutan. Fokus utama manajemen bukan hanya mengejar kemajuan teknologi, tetapi memastikan bahwa setiap pembaruan benar-benar berdampak langsung pada kualitas layanan dan pengalaman pasien. Rumah sakit, dalam pandangan manajemen saat ini, tidak boleh menjadi tempat yang rumit dan melelahkan bagi masyarakat yang sedang membutuhkan pertolongan medis.
Salah satu terobosan penting yang menjadi sorotan adalah penerapan teknologi Radio Frequency Ablation (RFA) untuk penanganan tumor tiroid jinak. Metode ini memungkinkan pasien mendapatkan tindakan medis tanpa harus menjalani operasi besar. Prosedur dilakukan dengan teknik minimal invasif, hanya melalui tusukan kecil, tanpa rawat inap berkepanjangan. Pasien bahkan bisa kembali ke rumah pada hari yang sama setelah tindakan.
“RFA menjadi solusi yang lebih aman dan efisien bagi pasien. Ini menunjukkan bahwa pelayanan kesehatan di daerah juga mampu menghadirkan teknologi setara rumah sakit besar di kota,” kata Direktu RSUDMA dr. Erliyati, Jumat (6/2).
Penerapan teknologi tersebut sekaligus menjadi penanda bahwa RSUDMA tidak ingin tertinggal dalam peta layanan kesehatan nasional. Kehadiran RFA memberi alternatif pengobatan yang lebih manusiawi, mengurangi rasa takut pasien terhadap tindakan bedah, serta menekan biaya dan waktu perawatan.
Selain penguatan layanan medis, RSUDMA juga mendorong percepatan layanan melalui digitalisasi.
Pendaftaran poliklinik kini dapat dilakukan secara daring. Pasien tidak lagi harus datang pagi-pagi hanya untuk mengambil nomor antrean. Sistem antrean elektronik memungkinkan masyarakat memantau giliran secara real time, sementara pembayaran layanan dapat dilakukan melalui virtual account.
“Langkah ini kami ambil agar masyarakat tidak perlu antre lama. Cukup daftar secara online dan datang sesuai jadwal yang tertera di sistem,” jelasnya.
Digitalisasi ini bukan sekadar mengikuti tren, melainkan jawaban atas kebutuhan masyarakat akan pelayanan yang cepat, transparan, dan efisien. Di tengah tuntutan publik terhadap layanan kesehatan yang semakin responsif, RSUDMA berupaya memangkas birokrasi berbelit yang kerap menjadi keluhan pasien.
Transformasi juga tampak jelas pada sisi infrastruktur. Peresmian Gedung Poli Terpadu menjadi tonggak penting dalam perjalanan modernisasi RSUDMA. Gedung ini dirancang untuk menghadirkan layanan yang terintegrasi, nyaman, dan ramah pasien. Sejumlah layanan baru kini tersedia, mulai dari Poli Nyeri, layanan kemoterapi, hingga patologi anatomi yang sangat krusial dalam penegakan diagnosis penyakit.
Di bidang diagnostik, RSUDMA menambah kapasitas dengan menghadirkan CT Scan tambahan serta fasilitas MRI. Langkah ini memperkuat peran rumah sakit sebagai pusat rujukan utama di wilayah timur Madura, sekaligus mengurangi ketergantungan masyarakat pada rumah sakit di luar daerah.
Tidak berhenti pada aspek medis dan infrastruktur, RSUDMA juga menegaskan komitmen sosialnya melalui program “La Sehat”. Program ini dirancang untuk membantu pasien pascaperawatan, termasuk memfasilitasi kepulangan mereka ke rumah dengan aman dan layak. Pendekatan ini menunjukkan bahwa pelayanan kesehatan tidak berhenti di ruang perawatan, tetapi berlanjut hingga pasien benar-benar kembali ke lingkungan keluarga.
“Bagi kami, inovasi tidak hanya soal teknologi, tetapi juga soal kepedulian. Kami ingin setiap pasien merasa diperhatikan, mulai dari masuk hingga kembali ke rumah dalam keadaan lebih baik,” imbuhnya. (Red/TH)












