Peringati Hari Ikan Nasional 2025, DPD KNTI Mamuju Lakukan Survey Kondisi Sosial-Ekonomi Nelayan

Avatar photo

MAMUJU, MASALEMBO.ID – Peringati Hari Ikan Nasional (Harkannas) pada Jumat, 21 November 2025. DPD Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Mamuju Sulawesi Barat melakukan survey kondisi Sosial-ekonomi, Kelembagaan, Operasional dan Nilai Tukar Nelayan (NTN).

Rahman pembina DPD KNTI Mamuju dalam catatannya mengungkapkan bahwa, kendala yang dihadapi nelayan tradisional maupun modern di Sulbar khususnya di Indonesia dalam meningkatkan hasil tangkapan ada beberapa faktor yakni:

1. Cuaca dan Kondisi Alam

Cuaca ekstrem seperti badai, ombak besar, dan angin kencang dapat membahayakan keselamatan nelayan di laut dan merusak peralatan penangkapan mereka.

Minimnya peralatan tangkap yang memadai. Sehingga nelayan tradisional sering menggunakan peralatan sederhana yang kurang efisien, sementara nelayan modern mungkin menghadapi biaya perawatan dan perbaikan yang biayanya sangat tinggi.

Baca Juga  AKD DPRD Sulbar Resmi Terbentuk, Berikut Susunan Lengkapnya

Belum lagi, masalah keterbatasan akses bahan bakar, suku cadang, dan teknologi bagi nelayan kecil atau nelayan tradisional.

Perubahan musim dan pola cuaca tidak terduga seperti musim angin, hujan, atau kekeringan dapat mempengaruhi ketersediaan ikan dan akses ke lokasi penangkapan.

2. Keterbatasan Sumber Daya dan Peralatan

Kerusakan ekosistem laut seperti polusi, perusakan terumbu karang, dan perubahan lingkungan laut dapat mengurangi habitat ikan dan keberlanjutan sumber daya laut.

3. Pemasaran dan Harga

Fluktuasi harga ikan yang tidak stabil dan sering kali rendah membuat nelayan kesulitan mendapatkan pendapatan yang memadai.
Ketergantungan pada tengkulak (middle man). Nelayan terpaksa menjual hasil tangkapan kepada tengkulak dengan harga yang tidak menguntungkan, karena kurangnya akses menjual hasil tangkapan langsung ke pasar.

Baca Juga  Upaya Progresif Dinkes Sumenep Atasi Kasus KEK pada Ibu Hamil Lewat Monitoring

Bukan hanya itu, sering kali nelayan yang bekerja secara informal, tidak memiliki akses ke asuransi kesehatan atau kompensasi yang memadai jika terjadi kecelakaan.

4. Perubahan Iklim dan Dampak Lingkungan

Perubahan suhu laut dan pola migrasi ikan. Perubahan iklim mempengaruhi distribusi dan ketersediaan ikan, sehingga nelayan harus menyesuaikan strategi penangkapan.
Polusi laut dan sampah plastik, polusi merusak ekosistem laut dan mengurangi hasil tangkapan.

5. Keterampilan dan Pendidikan

Keterampilan terbatas untuk adaptasi teknologi, dimana nelayan tradisional tidak memiliki keterampilan yang cukup untuk mengadaptasi teknologi penangkapan modern, sehingga mengurangi efisiensi dan hasil tangkapan.

Pendidikan dan akses informasi terbatas bagi nelayan sering memiliki akses terbatas ke informasi pasar, prakiraan cuaca, atau teknik penangkapan yang lebih baik.

Baca Juga  TRCPPA Indonesia Sebut Satgas PPKS UNIBA Madura Gagal Menjalankan Tugasnya

6. Pendanaan dan Akses ke Pembiayaan

Nelayan kecil sering kesulitan mendapatkan akses ke pembiayaan atau pinjaman modal dengan bunga yang wajar untuk meningkatkan usaha mereka.

Maka itu, Rahman berharap untuk mengatasi kendala-kendala ini, nelayan membutuhkan dukungan pemerintah dalam bentuk subsidi, pelatihan, dan regulasi yang mendukung keberlanjutan.

Juga akses ke teknologi dan pembiayaan yang lebih baik untuk meningkatkan efisiensi dan keselamatan. Pengelolaan sumber daya laut yang berkelanjutan untuk memastikan ketersediaan ikan di masa depan. Dan Peningkatan akses ke pasar dan sistem pemasaran yang lebih adil untuk meningkatkan pendapatan nelayan.

“Harapan-harapan ini sering kali memerlukan kerja sama antara nelayan, pemerintah, dan masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang mendukung dan berkelanjutan bagi nelayan,” pungkasnya. (Rls/Dion).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *