Peran Strategis Kampus Ciptakan Teknologi untuk Sejahterakan Petani Garam Madura

Tangkapan layar acara 'Bincang Kita' Kompas TV yang menghadirkan pembicara Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Prof. Dr. Fauzan, M.Pd dan Pakar SEVIMA Wahyudi Agustiono, Ph.D. (Foto: Masalembo.id)
Tangkapan layar acara 'Bincang Kita' Kompas TV yang menghadirkan pembicara Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Prof. Dr. Fauzan, M.Pd dan Pakar SEVIMA Wahyudi Agustiono, Ph.D. (Foto: Masalembo.id)

BANGKALAN, MASALEMBO.ID – Dalam acara “Bincang Kita” yang tayang di televisi nasional Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Prof. Dr. Fauzan, M.Pd menyinggung perasan strategis kampus dalam melahirkan inovasi dan menciptakan teknologi yang dapat mendongkrak produksi garam di Pulau Madura sehingga dapat meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat setempat.

Mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang ini menegaskan, komitmen pemerintah dalam memaksimalkan peranan perguruan tinggi lewat program Kampus Berdampak merupakan inisiatif dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) yang mendorong kampus untuk tidak sekadar menjadi tempat belajar, tetapi juga menjadi pusat inovasi yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat.

“Harapan besarnya adalah kita ingin merevitalisasi bagaimana kampus-kampus ini membagi peran strategis yang dapat memberikan kontribusi pada kepentingan atau persoalan yang dihadapi oleh bangsa ini,” katanya dalam acara tersebut (21/07).

Baca Juga  Pesan Penting KH Humaidi untuk Achmad Fauzi Saat Silaturahmi ke Pesantren Al-Jalaly

Sementara itu Pakar SEVIMA sekaligus dosen Universitas Trunojoyo Madura, Wahyudi Agustiono, Ph.D membahas soal proyek inovatif Harvesting Hope yang dikembangkan di Madura merupakan hasil kerja sama antara Indonesia dan Australia dalam program riset KONEKSI. Di bawah kepemimpinan Assoc. Prof. Wahyudi Agustiono, proyek ini memperkenalkan teknologi poligenerasi yang mampu menjawab berbagai tantangan sekaligus dalam satu area lahan.

Menurut Wahyudi, sistem poligenerasi memungkinkan petani menghasilkan garam, membudidayakan rumput laut, serta mengubah air laut menjadi air bersih melalui proses desalinasi. Tidak hanya itu, sistem ini juga dilengkapi dengan panel surya dan teknologi Rankine Cycle yang dapat mengubah panas menjadi energi listrik, sehingga menyediakan pasokan listrik mandiri bagi masyarakat sekitar.

“Dengan teknologi ini, masyarakat tidak hanya mendapat air bersih, tapi juga energi murah dan hasil tambahan dari garam serta rumput laut,” terangnya.

Baca Juga  Kejaksaan Tahan Kadis Dukcapil Sulbar, Gubernur SDK: Jabatan akan Dilepas Jika Terdakwa

Dalam skema prototipe yang sudah diuji coba, sistem ini dapat beroperasi selama 8 jam dan menghasilkan air bersih yang dijual dengan harga sekitar Rp500 ribu lebih murah dibanding air kemasan. Nilai tambah juga datang dari peningkatan pendapatan petani karena diversifikasi hasil produksi.

Mahasiswa Turun Tangan

Yang menarik dari proyek ini adalah keterlibatan aktif para mahasiswa. Mereka tidak sekadar belajar di ruang kelas, tapi terjun langsung ke lapangan. Dari sana, lahir berbagai ide inovatif, salah satunya adalah sistem pintu air otomatis untuk budidaya rumput laut. Solusi teknis ini muncul dari pengamatan langsung di lokasi, bukan sekadar teori yang diajarkan dosen.

“Mahasiswa tidak hanya belajar, tapi berinovasi dan berkontribusi langsung terhadap masalah nyata,” ujarnya.

Kolaborasi Internasional

Pendekatan yang digunakan dalam proyek Harvesting Hope mengusung prinsip locally rooted, globally impacted. Artinya, meski berangkat dari persoalan lokal, solusi yang ditawarkan mampu menjangkau dan menarik perhatian dunia. Hal ini terbukti dari kolaborasi yang berhasil dijalin dengan dua universitas ternama: Newcastle University dan MIT University Melbourne.

Baca Juga  Achmad Fauzi Diberi Gelar Panglima Santri Milenial oleh Komunitas Santri Sumenep

Kolaborasi ini tidak hanya memperluas jangkauan proyek, tetapi juga membuka akses terhadap sumber daya global dan pertukaran ilmu pengetahuan yang lebih luas.

Riset yang Berdampak Nyata

Prof. Fauzan, yang sempat mengunjungi lokasi proyek pada Februari lalu, mengungkapkan kekagumannya atas hasil yang dicapai. Ia menyebut proyek ini sebagai contoh ideal dari sebuah ekosistem riset yang aktif dan berdampak langsung.

“Mahasiswa mendapatkan pengalaman nyata, petani mendapatkan hasil ekonomi lebih baik, dan masyarakat memperoleh air bersih serta energi murah. Ini adalah wajah baru pendidikan tinggi yang berpihak pada rakyat,” ungkapnya. (Red/TH)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *