MAMUJU,MASALEMBO.ID– Di balik aroma lezat Program Makan Bergizi (MBG), tersimpan potensi yang jarang diperhatikan, yakni limbah makanan. Sebagian orang melihatnya sebagai sampah, namun bagi generasi muda di Sulawesi Barat limbah itu bisa menjadi peluang untuk berinovasi, berwirausaha, dan berkontribusi bagi lingkungan.
Kordinator Limbah MBG Yayasan As’Adiyah, Rahman (Bang Karca) sekaligus pemerhati lingkungan itu.
Ia mengolah limbah dapur MBG
menjadi Bahan Pupuk Organik (Kompos) dan budidaya maggot untuk pakan ternak dan budidaya ikan yang berada di Desa Tadui Kabupaten Mamuju.
Menurutnya efisiensi pengolahan limbah dapur MBG adalah solusi yang semakin populer dalam mengelola limbah rumah tangga dengan cara yang lebih efisien dan ramah lingkungan.
Dimana limbah dapur yang sering kali mengandung lemak, minyak, dan sisa makanan. Sehingga menjadi masalah besar dalam kehidupan sehari-hari, terutama bagi rumah tangga dan industri makanan.
“Pengolahan limbah yang tidak tepat dapat menyebabkan pencemaran lingkungan, bau tidak sedap, dan bahkan penyumbatan pada saluran pembuangan,” kata Rahman, Selasa (27/1/2026).
Untuk mengurangi penumpukan ia menyulap limbah-limbah itu
menjadi Bahan Pupuk Organik (Kompos) dan budidaya maggot untuk pakan ternak dan budidaya Ikan. Sehingga sebagai alternatif tak lagi bergantung pada pakan pellet buatan pabrik yang harganya relatif tinggi yang selama ini dikeluhkan.
Limbah-limbah itu dicampurkan
bakteri pengurai proses ini dapat mengurangi dampak negatif dari limbah organik secara signifikan.
“Alhamdulillah saya tak lagi tergantung pada pelet, karena sudah ada alternatif lain yakni, maggot untuk pakan ternak dan ikan saya,” pungkasnya.(Dion)












