SUMENEP, MASALEMBO.ID – Dalam acara Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “NgomBe (Ngobrol MBG): Program Berdampak, Lanjut atau Tidak?” yang digelar oleh DPC Persatuan Wartawan Republik Indonesia (PWRI) Sumenep, Anggota Komisi I DPRD Sumenep Hairul Anwar memaparkan arti penting program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi kehidupan berbangsa.
Menurutnya, MBG merupakan investasi jangka panjang yang tidak hanya berdampak pada sektor pendidikan, tetapi juga memiliki efek luas yang menyentuh secara langsung dalah mengggerakkan perekonomian masyarakat.
Ia menegaskan program MBG memiliki landasan kuat, yakni amanat konstitusi dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Pada posisi ini MBG memiliki posisi yang strategis dan penting dalam hal pemenuhan gizi sejak dini sebagai bagian penting dalam membentuk generasi yang unggul dan berdaya saing.
“Program ini merupakan salah satu instrumen untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Anak-anak dipersiapkan sejak dalam kandungan hingga usia sekolah agar menjadi generasi penerus yang berkualitas,” ujarnya (09/07).
Menurutnya, perhatian terhadap gizi tidak boleh dipisahkan dari upaya peningkatan mutu pendidikan. Ia mengingatkan bahwa fasilitas pendidikan yang baik tidak akan maksimal apabila kondisi dasar siswa, terutama kebutuhan gizi, tidak terpenuhi.
“Percuma membangun sekolah yang bagus kalau anak-anak belajar dalam keadaan lapar. Pemenuhan gizi menjadi modal utama agar mereka dapat mengikuti proses belajar dengan baik,” ucapnya.
Hairul juga menjelaskan bahwa sumber pembiayaan MBG bukan berasal dari anggaran baru, melainkan hasil efisiensi belanja pemerintah di berbagai kementerian dan lembaga. Dana yang sebelumnya digunakan untuk kegiatan yang dinilai kurang prioritas, dialihkan untuk program yang berdampak langsung pada masyarakat.
“Anggaran MBG berasal dari hasil efisiensi belanja pemerintah. Dana yang sebelumnya digunakan untuk kegiatan yang kurang prioritas kemudian dialihkan agar manfaatnya lebih dirasakan masyarakat,” katanya.
Meski begitu, ia tidak menampik bahwa pelaksanaan program ini sempat memunculkan beragam tanggapan di tengah masyarakat. Perdebatan yang muncul, menurutnya, lebih dipengaruhi oleh persepsi dan narasi yang berkembang, bukan pada substansi program itu sendiri.
“Program yang baik sekalipun bisa dipersepsikan negatif apabila narasi yang berkembang tidak utuh. Karena itu masyarakat perlu mendapatkan informasi yang benar mengenai tujuan dan manfaat MBG,” tuturnya.
Lebih jauh, Hairul menilai bahwa MBG memiliki potensi besar dalam menggerakkan roda perekonomian daerah. Program ini melibatkan banyak pihak dalam rantai pasok, mulai dari petani, peternak, nelayan, hingga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
“Program ini membangun ekosistem ekonomi. Petani, peternak ayam, peternak telur, nelayan hingga UMKM ikut merasakan manfaat karena kebutuhan bahan baku terus meningkat,” jelasnya.
Dengan dampak yang luas tersebut, ia menegaskan bahwa langkah yang tepat bukan menghentikan program, melainkan melakukan evaluasi berkala guna memastikan pelaksanaannya semakin efektif dan tepat sasaran.
“Yang harus diperbaiki adalah sistem pelaksanaannya, bukan programnya. Kalau ada kekurangan, lakukan evaluasi sehingga pelaksanaannya semakin baik dan manfaatnya semakin dirasakan masyarakat,” tegasnya.
Di sisi lain, Hairul juga memberikan apresiasi terhadap penyelenggaraan diskusi oleh PWRI Sumenep. Ia menilai forum tersebut menjadi wadah penting untuk menyatukan pandangan antara pemerintah, legislatif, media, dan masyarakat dalam merumuskan langkah perbaikan program.
“Diskusi publik seperti ini, perlu terus didorong agar kebijakan yang dijalankan benar-benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat serta mendapat dukungan luas dari berbagai pihak,” tandasnya. (Red/TH)













