Membaca Fenomena Sosial di Majene dari Perspektif Sosiologi dan Budaya Mandar
Oleh: Muhammad Irfan
(Dosen STAI DDI Majene)
BEBERAPA waktu terakhir, masyarakat Majene dikejutkan oleh sejumlah peristiwa tragis yang silih berganti hadir di ruang publik. Mulai dari peningkatan kasus bunuh diri, pembunuhan, hingga kematian tragis yang menyisakan banyak pertanyaan sekaligus kegelisahan sosial di Sulawesi Barat.
Fenomena ini penting dibaca bukan hanya dari sudut pandang hukum atau psikologi individual, melainkan juga melalui pendekatan sosiologi dan budaya lokal. Secara sosiologis, berbagai tragedi tersebut memperlihatkan adanya tekanan hidup yang meningkat, rapuhnya relasi antarmanusia, dan hilangnya ruang aman bagi seseorang untuk didengar. Tragedi sosial tidak pernah lahir secara tiba-tiba; ia tumbuh perlahan dari relasi sosial yang melemah.
Hari ini, kita hidup di zaman yang sangat terkoneksi secara digital, tetapi semakin jauh secara emosional. Banyak orang memiliki ribuan teman di media sosial, tetapi tidak memiliki satu pun tempat bersandar dalam kehidupan nyata. Banyak yang terlihat baik-baik saja di permukaan, padahal sedang rapuh secara batin. Ketika modernisasi perlahan menggeser nilai-nilai lokal, individualisme meningkat dan ruang kebersamaan nyata tergantikan oleh dunia maya. Akibatnya, sebagian orang merasa sendirian dan kehilangan pegangan saat menghadapi tekanan hidup.
Menghidupkan Kembali Fondasi Budaya Mandar
Padahal, dalam falsafah hidup masyarakat Mandar, terdapat nilai-nilai sosial yang sangat kuat untuk membentengi manusia dari keterasingan tersebut. Dalam budaya Ada’ Tuho, misalnya, dikenal konsep sikalemui, yakni semangat saling merangkul, memanusiakan, dan menjaga sesama dalam kehidupan sosial.
Nilai sikalemui lahir dari kesadaran mendalam bahwa manusia tidak dapat hidup sendiri. Seseorang yang sedang mengalami kesulitan hidup tidak boleh dibiarkan menghadapi persoalannya sendirian; harus ada ruang sosial yang menghadirkan perhatian, pendampingan, dan kepedulian.
Filosofi ini tercermin kuat dalam ungkapan:
“Namanya bai tau toa’ kena namala”
Ungkapan tersebut dapat dimaknai sebagai upaya memberi kehidupan atau kekuatan kepada sesuatu yang mulai rapuh. Nilai ini mengajarkan masyarakat untuk tetap merawat dan menguatkan sesama, terutama mereka yang sedang berada dalam kondisi lemah secara sosial maupun emosional.
Selain sikalemui, masyarakat Mandar juga mewarisi nilai palluluareang, yaitu semangat kekeluargaan yang tinggi dan rasa saling peduli antaranggota masyarakat. Dalam masyarakat Mandar tradisional, relasi sosial bukanlah sekadar hubungan formal, melainkan ikatan emosional yang dijaga bersama. Nilai ini mewujud nyata dalam tradisi gotong royong dan kebersamaan saat menghadapi musibah, di mana masyarakat hadir bukan sebagai penonton, melainkan sebagai bagian dari keluarga sosial.
Refleksi Bersama
Oleh karena itu, penguatan kembali nilai-nilai seperti sikalemui dan palluluareang hari ini menjadi sangat mendesak. Ini bukan lagi sekadar urusan pelestarian budaya atau nostalgia masa lalu, melainkan sebuah pendekatan kemanusiaan dan instrumen sosial yang nyata untuk mengatasi meningkatnya fenomena bunuh diri, kekerasan, dan krisis mental di tengah masyarakat.
Majene dan Sulawesi Barat secara historis dikenal sebagai masyarakat yang kaya akan solidaritas. Rentetan peristiwa tragis hari ini harus menjadi refleksi bersama agar kita tidak kehilangan kemanusiaan di tengah arus modernisasi. Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, sikalemui dan palluluareang adalah kompas yang mengingatkan kita bahwa tugas manusia adalah saling menghidupkan, saling menjaga, dan saling menguatkan. (*)













