SUMENEP, MASALEMBO.ID – Dalam kegiatan Sosialisasi dan Edukasi Sinergi dengan Jurnalis dalam Mengawal Ketahanan Energi Nasional yang digelar di Batu, Manager Public Government Affair Kangean Energi (KEI), Kampoi Naibaho mengklaim kegiatan survei seismik 3D lepas pantai di Kepulauan Kangean, Kabupaten Sumenep ramah lingkungan.
Survei seismik 3D sendiri adalah metode eksplorasi bawah permukaan yang menggunakan gelombang seismik untuk memetakan struktur geologi, biasanya dilakukan dalam kegiatan eksplorasi minyak dan gas.
“Kegiatan survei seismik tidak melibatkan pengeboran, tetapi menggunakan teknologi akustik untuk memetakan struktur geologi bawah permukaan. Pendekatan ini bersifat non-invasif, sehingga tidak menimbulkan kerusakan atau gangguan terhadap ekosistem laut,” ujarnya.
Dalam paparannya PT KEI menjelaskan survei seismik 3D dilakukan dengan cara mengirimkan gelombang getar dari permukaan laut, lalu merekam pantulannya dari lapisan batuan di bawah dasar laut. Data pantulan itu kemudian diolah menjadi gambar tiga dimensi (3D) yang menggambarkan kondisi geologi secara detail.
“Prinsipnya mirip seperti foto rontgen bumi, tapi yang digunakan bukan sinar, melainkan gelombang bunyi. Dari situ kami bisa mengetahui lapisan batuan dan potensi sumber daya energi yang terkandung di dalamnya,” jelasnya.
Kampoi menegaskan bahwa teknologi yang digunakan KEI saat ini sudah modern dan ramah lingkungan. Perusahaan menggunakan perangkat nirkabel (wireless nodes) yang tidak lagi memakai kabel panjang (streamer) seperti metode lama.
“Dengan sistem nirkabel, alat kami tidak menyentuh dasar laut dan tidak melewati terumbu karang. Jadi, dampaknya terhadap biota laut sangat minimal. Kami juga mengikuti seluruh standar lingkungan yang berlaku,” tegasnya.
Ilusi Ramah Lingkungan
Klaim PT KEI dihadapan para jurnalis tidak ubahnya ilusi yang hendak di kapitalisasi untuk mencederai kewarasan publik. Sebab survei seismik 3D yang saat ini dilakukan oleh PT KEI secara teknis menggunakan air gun (meriam udara) yang menghasilkan gelombang suara berfrekuensi tinggi.
Akibatnya, terjadi disorientasi dan stres pada mamalia laut seperti lumba-lumba, paus, dan dugong. Selain itu akan terdapat gangguan sistem komunikasi dan navigasi hewan laut yang mengandalkan gelombang suara.
Kegiatan tersebut juga akan berpotensi pengusiran biota laut dari habitatnya, dampaknya secara sosial ekonomi masyarakat akan kesulitan melakukan tangkapan ikan dan berpotensi kehilangan sumber mata pencaharian selama ini.
Tidak hanya itu gelombang frekuensi tinggi juga akan berakibat terhadap kerusakan terumbu karang dan organisme bentik akibat gelombang tekanan kuat.
Dalam sebuah penelitian eksperimental pada ikan dan invertebrata (termasuk cumi, udang, larva) menunjukkan beragam respons dari perubahan perilaku (menghindar, penurunan kepadatan lokal), gangguan pencernaan dan fisiologi, hingga kerusakan struktur pendengaran pada ikan tertentu bila terpapar dekat sumber kegiatan seismik.
McCauley, R. dalam studinya yang berjudul “al Marine seismic surveys: analysis and propagation of air-gun signals”, dalam studi lapangan melaporkan penurunan kepadatan ikan pelagis sementara di area survei. Hasil penelitian terbaru juga menunjukkan bahwa respons dapat berbeda antar spesies, tergantung pada akustik dan sensitivitas biologis masing-masing.
Suara berenergi tinggi yang dihasilkan oleh survei seismik 3D dapat memengaruhi zooplankton dan organisme bentik sensitif lain, yang dapat memengaruhi rantai makanan. Selain itu, aktivitas darat yang menyertai survei diantaranya pembuatan jalur, kendaraan berat yang dapat menyebabkan fragmentasi habitat, erosi, dan polusi bahan bakar, oli, memperburuk tekanan terhadap ekosistem pesisir dan darat.
Literatur menunjukkan bahwa dampak kumulatif dari kebisingan ditambah tekanan lain seperti penangkapan ikan, polusi, perubahan iklim berpotensi mengurangi resilien ekosistem.
Ilusi Kesejahteraan
Pada kegiatan bersama jurnalis Kabupaten Sumenep di Kota Batu, Jawa Timur itu seperti yang sudah dilakukan sebelumnya PT KEI kembali mempropagandakan janji tentang kesejahteraan.
Manager Public Government Affair Kangean Energi (KEI), Kampoi Naibaho
menyebut manfaat kegiatan eksplorasi tidak berhenti di tahap survei. Hasilnya akan memberi dampak jangka panjang bagi daerah melalui dana bagi hasil (DBH) migas dan program pengembangan masyarakat (PPM) yang selama ini telah dijalankan KEI di bawah pengawasan SKK Migas.
“Selama ini program PPM kami fokuskan di Pulau Pagerungan sebagai area operasi aktif. Dengan adanya survei di Kangean, kami akan memperluas program sosial agar masyarakat setempat juga merasakan manfaatnya,” paparnya.
Padahal faktanya sejak sejak akhir 1993 oleh PT Kangean Energy Indonesia (KEI) Ltd, tidak mengubah apa-apa jalan-jalan di Pulau Kangean masih saja rusak parah. Bahkan satu sekolah SD Batu Putih di Desa Batu Putih, Kecamatan Kangayan, Pulau Kangean roboh, tanpa perhatian sedikitpun dari PT KEI.
Rusaknya fasilitas publik ini terjadi di halaman depan aktivitas usaha migas PT KEI, menyatu dengan deru mesin kapal survei seismik 3D dan hilang bersama kepulan asap. Kesejahteraan tidak ubahnya seperti ilusi yang terus dikapitalisasi oleh PT KEI dan elite lokal untuk menginabobokan masyarakat Pulau Kangean.
Lebih jauh seperti dikutip dari Mongabay Susan Herawati Romica, Sekjen Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (Kiara), mengatakan, pembangunan tambang migas sudah pasti punya dampak lingkungan. Pembangunan fasilitas pendukung di daratan pulau pun akan punya dampak tersendiri karena pasti skala besar.
Pelabuhan yang mungkin terbangun pun, katanya, akan bersifat eksklusif. Aksesnya hanya terbuka untuk perusahaan, bukan untuk masyarakat umum.
Bahaya lagi, kalau terjadi tumpahan minyak (oil spill) seperti di Karawang, Jawa Barat. Catatan Kiara, setidaknya terjadi lima kali penumpahan minyak di Karawang. Penumpahan minyak berdampak buruk bagi ekosistem laut, karena akan terjadi kerusakan terumbu karang, pencemaran, dan migrasi ikan-ikan ke tempat lain. Akibatnya, nelayan kesusahan menangkap ikan.
Bukan kesejahteraan yang didapat masyarakat Kepulauan Kangean yang selama ini menggantungkan hidupnya terhadap laut, berlahan tapi pasti akan kehilangan sumber kehidupan utamanya.
“Tidak menutup kemungkinan ada tumpahan minyak yang jatuh ke perairan tersebut. Itu sebenarnya yang bahaya.” tegasnya (Red/TH)












