MAJENE, MASALEMBO.ID — Annual Art Mammesa #3 Tahun 2026 resmi mematangkan arah artistik dan konseptualnya lewat presentasi kuratorial yang menghadirkan tiga kurator ternama, yakni Abdul Azis, Muhammad Gazali, dan Rahmat Pulonagau di Jens Cafe, Majene.
Ajang bergengsi yang dihadiri langsung oleh Kepala UPTD TBM Provinsi Sulawesi Barat, Irma Trisnawati, ini mengusung tema provokatif bertajuk “Desing of The De-sign”. Tema tersebut dirancang khusus untuk mendobrak kemapanan makna, membaca ulang tanda-tanda visual, serta memantik keberanian seniman lokal dalam melahirkan bahasa artistik baru yang relevan dengan perkembangan zaman.
Puncak perhelatan Annual Art Mammesa #3 sendiri dijadwalkan akan berlangsung megah pada 16 hingga 18 November 2026 mendatang di Galeri Marasa, Taman Budaya dan Museum Provinsi Sulawesi Barat, Buttu Ciping, Tinambung, Polewali Mandar.
Dalam pemaparannya, ketiga kurator sepakat bahwa seni rupa kontemporer hari ini tidak boleh lagi terjebak sekadar sebagai rutinitas penciptaan objek visual yang indah semata. Lebih dari itu, seni harus menjelma sebagai ruang kritis untuk mempertanyakan realitas sosial, mengeksplorasi material marginal, hingga mendekonstruksi simbol-simbol yang selama ini dianggap kebal kritik.
Kurator Abdul Azis menekankan pentingnya keberanian seniman Sulawesi Barat keluar dari zona nyaman artistik. Seniman dituntut untuk tidak sekadar mengulang bahasa visual lama, melainkan aktif menemukan diksi rupa baru yang mampu berbicara lantang tentang dinamika zamannya.
Senada dengan itu, Muhammad Gazali melihat gagasan De-sign sebagai jalan tol bagi seniman untuk mengolah ruang kosong, jejak, sisa material, hingga hal-hal remeh di sekitar kita menjadi daya ungkap estetika yang segar.
Sementara itu, Rahmat Pulonagau menyoroti bagaimana lokalitas—termasuk akar kebudayaan Mandar—tidak boleh dibiarkan beku dalam balutan tradisi kuno. Lokalitas harus diposisikan sebagai ruang dialog yang dinamis dan terbuka untuk berbenturan secara kreatif dengan modernitas, arus globalisasi, hingga isu-isu kontemporer seperti krisis ekologi dan digitalisasi.
Dukungan penuh turut disuarakan oleh Kepala UPTD Taman Budaya dan Museum Sulawesi Barat, Irma Trisnawati. Ia menilai proses kuratorial ini adalah fondasi krusial dalam merawat ekosistem seni rupa yang sehat. Berkat dukungan pendanaan DAK dari Kementerian Kebudayaan RI, Galeri Marasa diharapkan mampu menjadi rumah bertumbuh yang subur bagi eksperimen kreatif para seniman.
Bagi para seniman yang ingin ambil bagian, pendaftaran karya saat ini tengah dibuka secara terbuka melalui mekanisme kurasi ketat.
Pengumuman resmi kurasi dijadwalkan pada 8 November 2026, disusul batas akhir pengumpulan fisik karya pada 13 November 2026. Melalui gebrakan Desing of The De-sign, Annual Art Mammesa #3 diproyeksikan tidak hanya sekadar menjadi pameran seni biasa, tetapi menjadi tonggak sejarah baru kebangkitan pemikiran artistik dari Sulawesi Barat untuk dunia. (rur/har)













