SURABAYA, MASALEMBO.ID– Kematian tragis seorang pelajar SMK Raden Rahmat Mojosari, Muhammad Afan, yang ditemukan tak bernyawa di Sungai Brantas pada 5 Mei lalu, kini memasuki babak baru. Setelah satu bulan lebih tanpa kejelasan, keluarga korban resmi menunjuk Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Ansor Jawa Timur sebagai kuasa hukum untuk mengawal proses pencarian keadilan. Keterlibatan LBH Ansor membuka lembaran baru dalam pengusutan perkara yang penuh dengan titik gelap ini.
Peristiwa yang awalnya dianggap sebagai insiden biasa kini mulai menarik perhatian publik. Sejumlah kejanggalan dari kronologi versi keluarga korban mulai mencuat, menggugah simpati sekaligus amarah masyarakat. Sang ibu, yang kini hanya bisa memeluk kenangan tentang anaknya, menuntut penjelasan yang lebih dari sekadar formalitas aparat.
“Anak saya tidak punya masalah. Dia bukan anak yang suka berkelahi, apalagi bertindak kriminal. Tapi saya justru diberi kabar bahwa dia meninggal begitu saja, tanpa ada keterangan yang meyakinkan,” tuturnya pilu Selasa 10/06.
LBH Ansor Jawa Timur memandang kasus ini bukan sekadar musibah pribadi, melainkan persoalan serius dalam penegakan hukum dan perlindungan anak. Dalam keterangan resminya, Ketua LBH Ansor menyatakan bahwa negara tidak boleh abai ketika nyawa seorang pelajar hilang dalam situasi misterius.
“Kami melihat adanya sejumlah hal yang belum terang. Fakta-fakta di lapangan harus dibuka, bukan ditutupi. Jika dibiarkan, ini akan menjadi preseden buruk bagi penegakan hukum dan perlindungan warga negara, terutama anak-anak yang semestinya mendapat perlindungan maksimal,” ujar Ketua LBH Ansor Jawa Timur Mohammad Sahid Selasa 10/06.
Pihaknya meminta, agar Kepolisian Resor Mojokerto membuka kembali penyelidikan kasus ini dengan menghadirkan mekanisme pengawasan independen, termasuk keterlibatan Bidpropam dan pengawasan publik. Transparansi, menurut mereka, adalah harga mati agar keadilan tidak menjadi hak eksklusif bagi yang kuat atau berkuasa.
Kronologi Mencekam dari Versi Keluarga
Peristiwa bermula dari pertandingan sepak bola antar kelas pada Jumat, 2 Mei 2025. Insiden kecil antara dua siswa, Rifqi dan Syamsul, memicu pertikaian yang berujung tantangan duel di luar sekolah. Muhammad Afan, yang saat itu turut menemani Syamsul, ikut hadir di lokasi duel. Meski tidak terlibat secara langsung, Afan menjadi saksi dari pertarungan tersebut.
Konflik ini mereda sementara usai kesepakatan damai antara pihak Rifqi dan Syamsul pada malam harinya. Namun, suasana mencekam kembali muncul keesokan harinya. Syamsul dan Afan dibawa oleh seorang pria bernama Rio ke rumah Rifqi, dengan narasi intimidatif yang didengar langsung oleh keduanya. Ketakutan membuat mereka melarikan diri secara terpisah, Syamsul ke arah utara, dan Afan ke selatan, ke arah Sungai Brantas.
Syamsul berhasil selamat setelah bersembunyi selama beberapa jam. Namun nasib berbeda dialami oleh Afan. Dua hari kemudian, jasadnya ditemukan di sungai dalam kondisi yang menimbulkan tanya besar: mengapa rambutnya dicukur? Bagaimana tubuhnya bisa sampai di sana, dan dalam kondisi seperti itu?
Desakan untuk Audit Investigasi dan Partisipasi Publik
Ketua LBH Ansor Jawa Timur Mohammad Sahid menegaskan bahwa penyelidikan yang menyeluruh bukan hanya hak keluarga korban, tapi juga kewajiban moral negara dalam menjamin perlindungan warga. Mereka meminta keterlibatan berbagai unsur dari pengawas internal kepolisian hingga pengacara independen, untuk memastikan bahwa kebenaran tidak dikaburkan oleh prosedur yang formalistik.
“Kami ingin polisi buka-bukaan. Proses autopsi, hasil penyelidikan, dan semua bukti harus transparan. Ini bukan lagi soal satu keluarga, ini tentang bagaimana kita menjaga nilai keadilan di negeri ini,” tegasnya.
LBH Ansor juga mengajak masyarakat, khususnya kalangan pelajar dan orang tua, untuk menyuarakan pentingnya keamanan di lingkungan sekolah. Mereka menegaskan bahwa tak seorang pun, apalagi seorang siswa, boleh menjadi korban kekerasan tanpa kejelasan dan tanggung jawab hukum yang tegas.
Tragedi Afan telah menjadi alarm bagi semua pihak. Di balik kematiannya, tersimpan pertanyaan yang menanti jawaban. Dan selama itu belum terungkap, perjuangan keluarganya, dengan dukungan LBH Ansor akan terus menyuarakan satu hal: kebenaran tidak boleh tenggelam bersama jasad korban. (Red/TH)












