MAMASA, MASALEMBO.ID – Untuk pertama kalinya sejak Kabupaten Mamasa resmi berdiri pada 11 Maret 2000, pemerintah daerah menggelar musyawarah bersama seluruh elemen masyarakat guna memperkuat kembali nilai-nilai kearifan lokal yang menjadi fondasi kehidupan bermasyarakat di daerah ini.
Pertemuan penting tersebut berlangsung di Rumah Jabatan Bupati Mamasa, dan dihadiri oleh berbagai unsur penting, di antaranya Forkopimda, Lembaga Adat Mamasa, tokoh agama, Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB), organisasi mahasiswa, ormas, serta Aliansi Masyarakat Adat Kabupaten Mamasa.
Mengangkat semangat persatuan melalui semboyan adat “Mesakada Dipotuo, Pantan Kada Dipomate, Sitayuk Sipakasalle, Sirande Mayamaya” (Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh, saling menghargai dan menghormati dalam jalinan kasih sayang), pertemuan ini dipimpin langsung oleh Wakil Bupati Mamasa, Drs. H. Sudirman.
Dalam musyawarah tersebut, para pemangku kepentingan – mulai dari unsur Pemerintah Daerah, Kapolres, Dandim, Kajari, hingga perwakilan lembaga adat dan organisasi masyarakat – diberikan ruang untuk menyampaikan pandangan mereka terkait situasi nasional dan daerah saat ini.
Semua pihak menyampaikan keprihatinan atas kondisi bangsa yang dinilai tengah mengalami krisis, baik secara ekonomi maupun moral. Kebijakan-kebijakan yang dianggap tidak lagi berpihak kepada rakyat memicu keresahan dan kemarahan masyarakat, terutama di tengah tekanan hidup yang semakin berat.
Sebagai simbol aksi damai dan seruan moral, disepakati bahwa akan diselenggarakan penyalaan ribuan lilin pada tanggal 3 September 2025 bertempat di Lapangan Kondosapatak Mamasa. Aksi damai ini difasilitasi oleh Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Mamasa, dengan mengedepankan prinsip keamanan dan ketertiban masyarakat.
Aksi ini diharapkan menjadi momentum untuk membangun kembali semangat kebersamaan dan menghidupkan kembali nilai-nilai luhur budaya Mamasa dalam menghadapi tantangan zaman.
Pemerintah dan masyarakat sepakat untuk terus mendorong terwujudnya Mamasa yang damai, maju, dan bermartabat – atau yang kini dikenal dengan semangat “Mamasa Mamase”.
Laporan: Angsar












