SUMENEP, MASALEMBO.ID – Menjaga warisan budaya bukan sekadar retorika di SMA Darud Da’wah wal Irsyad (DDI) Ra’as II, Kecamatan Masalembu, Kabupaten Sumenep. Sekolah ini membuktikan komitmennya melalui penyelenggaraan pameran batik yang berlangsung selama tiga malam, mulai Selasa 27 Mei hingga Kamis 29 Mei 2025, di halaman sekolah mereka.
Pameran tersebut menjadi ajang istimewa yang menampilkan karya-karya membatik dari para siswa, sekaligus wujud konkret pendidikan berbasis budaya yang digelorakan di tengah tantangan zaman modern. Di tengah terpencilnya Pulau Masalembu, semangat untuk mengenalkan dan merawat kekayaan budaya Indonesia justru tumbuh kuat.
Kepala Sekolah SMA DDI Ra’as II, Saiful Islam, menuturkan bahwa kegiatan ini merupakan upaya sekolahnya dalam membumikan nilai-nilai budaya nusantara kepada para siswa yang hidup jauh dari pusat-pusat kebudayaan nasional.
“Kegiatan membatik dan pameran ini adalah wujud dari komitmen SMA DDI Ra’as II, memberikan pelajaran budaya kepada peserta didik, agar tidak lupa dengan warisan para leluhur,” tegasnya melalui sambungan telepon pada Selasa (27/05).
Ia menyebutkan bahwa sekolah memiliki tanggung jawab moral dalam menanamkan rasa cinta terhadap budaya kepada siswa. Dengan derasnya arus digitalisasi dan pengaruh budaya asing, generasi muda saat ini dinilai menghadapi tantangan besar dalam mempertahankan jati diri bangsa.
“Memberi pengajaran membatik kepada siswa ialah jalan kebudayaan yang harus ditempuh, untuk memberikan penyadaran akan kebudayaan kepada siswa,” tambahnya.
Batik bukan sekadar materi keterampilan di SMA DDI Ra’as II, melainkan juga menjadi medium penting untuk menanamkan nilai-nilai luhur serta memperkenalkan identitas lokal. Menurut Saiful, membatik memberikan pengalaman langsung kepada siswa dalam memahami filosofi dan kekayaan budaya Indonesia yang sangat luas.
Pameran ini merupakan bagian dari perayaan tasyakuran kelulusan siswa akhir tahun yang digelar oleh seluruh lembaga pendidikan di bawah Yayasan DDI Ra’as. Tak hanya sebagai bentuk apresiasi terhadap kerja keras siswa, kegiatan ini juga bertujuan menciptakan ruang kreasi dan ekspresi seni yang menyatu dengan nilai-nilai tradisional.
Sunandar, guru pendamping kegiatan seni membatik, menyampaikan bahwa karya-karya yang ditampilkan dalam pameran merupakan hasil kreativitas siswa kelas XI yang tergabung dalam komunitas seni bernama Garis. Menurutnya, setiap kain batik yang dibuat siswa memiliki nuansa lokal yang kuat, mencerminkan kekhasan Pulau Masalembu.
“Semangatnya ada batik yang khas Pulau Masalembu, yang dapat menggambarkan identitas Masalembu lewat sebuah karya,” katanya.
Ragam motif yang dituangkan dalam kain batik tersebut banyak mengangkat elemen laut, tumbuhan lokal, serta simbol-simbol budaya yang akrab dengan kehidupan masyarakat pesisir. Pewarnaan yang digunakan pun disesuaikan untuk memperkuat nuansa etnik khas Masalembu.
Tak hanya batik, pameran juga menghadirkan berbagai karya seni lain seperti lukisan dan kerajinan tangan siswa dari seluruh jenjang. Hal ini sekaligus menjadi refleksi dari komitmen SMA DDI Ra’as II dalam mendukung tumbuh kembang siswa melalui pendekatan pendidikan yang holistik dan humanis.
“Kami berkomitmen untuk membantu siswa mengekspresikan kesukaannya, sehingga tumbuh kembang siswa berjalan sesuai tujuannya,” tandas Sunandar.
Melalui pameran ini, SMA DDI Ra’as II membuktikan bahwa meskipun berada di wilayah yang jauh dari keramaian kota, mereka mampu menjadi motor penggerak pelestarian budaya di kalangan generasi muda. Batik yang dipamerkan bukan hanya sekadar karya seni, tapi juga menjadi pengingat bahwa identitas budaya adalah kekuatan yang harus dijaga bersama. (Red/TH)













