Opini  

Batik dan Perempuan Nelayan, Membaca Kembali Wajah Pesisir Indonesia

Avatar photo
Syamsir Datuamas (Ist)

Oleh: Syamsir Datuamas

SETIAP 2 Oktober, kita memperingati Hari Batik Nasional. Batik dikenakan di kantor, sekolah, ruang-ruang pemerintahan, acara kebudayaan, hingga berbagai pertemuan resmi. Kita berbicara tentang warisan budaya, motif, warna, kreativitas dan identitas Indonesia.

Tetapi di balik perayaan itu, apakah kita sudah cukup melihat manusia yang membuat batik tetap hidup?

Sebab batik bukan hanya tentang selembar kain. Di balik setiap motif ada tangan yang bekerja, pengetahuan yang diwariskan, rumah tangga yang bertahan, dan dalam konteks batik pesisir, ada kehidupan masyarakat yang sejak lama menggantungkan hidupnya kepada laut.

Di sejumlah wilayah pesisir Indonesia, batik bahkan bersinggungan langsung dengan kehidupan keluarga nelayan. Kisah Batik Paoman di Indramayu adalah salah satu contohnya. Batik Dermayon yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Indonesia tercatat dikerjakan oleh para istri nelayan.

Penelitian sejarah mengenai Paoman juga menunjukkan bagaimana aktivitas membatik berkembang dalam kehidupan perempuan yang menunggu suaminya pulang melaut.
Di titik ini, batik menghadirkan cerita yang lebih dalam.

Laut menjadi ruang tempat nelayan mencari nafkah, sementara daratan menjadi ruang tempat perempuan menjaga keberlangsungan keluarga.

Ketika seorang nelayan pergi melaut, kehidupan keluarga tidak berhenti. Anak tetap membutuhkan biaya pendidikan. Rumah tangga tetap membutuhkan pangan. Kebutuhan kesehatan harus dipenuhi. Utang atau modal usaha harus dipikirkan. Ketika hasil tangkapan tidak menentu, keluarga membutuhkan sumber pendapatan lain.
Di sinilah peran perempuan pesisir menjadi penting.

Penelitian tentang istri nelayan di Kelurahan Sidoarjo, Kecamatan Baolan, Kabupaten Tolitoli, menunjukkan bahwa perempuan menjalankan peran domestik sekaligus produktif. Mereka terlibat dalam penjemuran dan pengolahan ikan, penjualan ikan, serta perdagangan kecil di sekitar pelabuhan.

Penelitian tersebut juga menemukan bahwa ketidakpastian hasil tangkapan, ketergantungan pada tengkulak, dan keterbatasan modal menjadi beberapa persoalan yang dihadapi keluarga nelayan.
Artinya, perempuan nelayan bukan sekadar (orang yang menunggu suami pulang). Mereka adalah bagian dari sistem ekonomi pesisir.

Baca Juga  Tinambung, Satu Mobil, dan Kabar yang Terus Bergerak

Mereka bekerja, mereka mengelola, mereka beradaptasi dan mereka ikut menjaga agar keluarga tetap bertahan ketika laut sedang tidak bersahabat.

Karena itu, ketika kita berbicara tentang batik dan perempuan nelayan, kita sebenarnya sedang berbicara tentang ketahanan ekonomi keluarga pesisir.
Batik pesisir lahir dari masyarakat yang hidup bersama laut.

Hubungan antara batik dan laut juga bukan sesuatu yang dibuat-buat. Penelitian tentang pengaruh kemaritiman terhadap batik Pekalongan menunjukkan bahwa kehidupan sosial ekonomi dan budaya maritim memberikan pengaruh terhadap perkembangan batik. Pengaruh itu terlihat pada kehidupan ekonomi, motif, karakter sosial dan sistem kepercayaan masyarakat.

Bahkan dalam sejarah Pekalongan, batik berkembang berdampingan dengan kehidupan perikanan dan masyarakat pesisir. Ini menunjukkan bahwa batik pesisir tidak dapat sepenuhnya dipisahkan dari lingkungan sosial tempat ia tumbuh.

Masyarakat pesisir adalah masyarakat yang terbiasa dengan perjumpaan. Kapal datang membawa barang, pedagang datang membawa komoditas dan orang-orang dari berbagai daerah bertemu di pelabuhan. Budaya saling memengaruhi.

Dari proses panjang itu lahir berbagai ekspresi kebudayaan, termasuk batik. Laut adalah jalan kebudayaan.

Membaca Tolitoli melalui laut, Kabupaten Tolitoli memiliki wilayah pesisir yang sangat luas. Dalam Peraturan Daerah Kabupaten Tolitoli Nomor 1 Tahun 2023 tentang RTRW, panjang garis pantai Tolitoli tercatat sekitar 366 kilometer. Kabupaten ini memiliki 10 kecamatan dan wilayah pesisir menjadi bagian penting dalam struktur ruang dan pengembangan wilayahnya.

Artinya, laut bukan sekadar latar belakang geografis Tolitoli. Laut merupakan bagian dari kehidupan sosial dan ekonomi masyarakatnya, Data BPS juga secara khusus menyediakan publikasi mengenai Usaha Pertanian Perorangan sektor Perikanan Kabupaten Tolitoli berdasarkan Sensus Pertanian 2023. Ini menunjukkan betapa pentingnya sektor perikanan sebagai bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat daerah tersebut.

Karena itu, pembangunan masyarakat pesisir seharusnya tidak hanya melihat nelayan sebagai individu yang pergi melaut. Kita harus melihat keluarga nelayan sebagai satu kesatuan sosial dan ekonomi.
Dari ikan, perempuan, hingga kain
Di sinilah gagasan tentang batik menjadi menarik bagi Tolitoli.

Baca Juga  Gerakan “Ayah Mengantar Anak ke Sekolah”: Antara Niat Baik dan Suara-suara yang Perlu Didengar

Pada Desember 2025, Pemerintah Kabupaten Tolitoli secara resmi meluncurkan Batik Daerah Kabupaten Tolitoli sebagai wastra daerah dan diharapkan menjadi salah satu ikon kebanggaan daerah. Pemerintah daerah juga menyebut pengembangan batik sebagai bagian dari peluang ekonomi bagi perajin dan UMKM.

Momentum tersebut penting. Sebab batik daerah tidak seharusnya berhenti sebagai identitas visual.
Ia dapat dikembangkan menjadi bagian dari ekosistem ekonomi kreatif masyarakat. Dan dalam konteks Tolitoli yang memiliki masyarakat pesisir dan kehidupan perikanan yang kuat, pengembangan wastra daerah dapat diarahkan untuk semakin dekat dengan cerita masyarakatnya, bukan berarti setiap batik harus dipaksa memiliki motif ikan, perahu atau ombak. Lebih jauh dari itu, yang penting adalah bagaimana batik dapat menjadi bagian dari cerita tentang manusia Tolitoli.

Tentang laut, tentang pesisir, tentang hasil bumi dan hasil laut, tentang sejarah masyarakat, tentang perempuan yang bekerja tentang keluarga nelayan, dan tentang pengetahuan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Dengan demikian, batik tidak hanya menjadi benda yang dikenakan ketika ada acara resmi. Ia dapat menjadi medium untuk menceritakan siapa kita.

Kebudayaan dapat menjadi bagian dari strategi ekonomi pesisir. Sebab yang diwariskan bukan hanya kain. Ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar batik.

Karena itu, ketika kita mengatakan batik adalah warisan budaya, kita sesungguhnya sedang berbicara tentang manusia yang menjadi pewaris sekaligus penjaganya.
Batik tidak akan bertahan hanya karena pemerintah menetapkan satu hari sebagai Hari Batik Nasional.

Dari Tolitoli kita belajar melihat pesisir secara lebih utuh. Tolitoli memberi kita alasan untuk melihat persoalan ini dari dekat. Wilayahnya memiliki garis pantai yang panjang. Kehidupan masyarakatnya bersentuhan dengan laut. Penelitian tentang istri nelayan di Baolan menunjukkan bahwa perempuan memiliki peran nyata dalam menopang ekonomi rumah tangga.

Baca Juga  Kebiasaan Positif untuk Indonesia Emas

Hari Batik Nasional akhirnya tidak harus selalu dirayakan dengan pertanyaan tentang motif mana yang paling indah. Kita juga perlu bertanya.

Apakah pembangunan kita sudah melihat keluarga nelayan secara utuh?

Sebab nelayan memang pergi ke laut.
Tetapi kehidupan keluarga nelayan tidak pernah ikut pergi seluruhnya ke laut.

Sebagian tetap tinggal di darat. Di rumah, di pasar, di pelabuhan, di tempat pengolahan ikan dan mungkin, suatu hari, di depan selembar kain yang digoreskan dengan canting.

Pada akhirnya, Hari Batik Nasional bukan hanya tentang memakai batik.
Ia adalah kesempatan untuk mengingat bahwa di balik sebuah kain ada manusia, ada perempuan, ada keluarga, ada masyarakat pesisir, ada sejarah dan ada harapan.

Jika laut adalah ruang tempat nelayan mempertaruhkan hidup untuk mencari penghidupan, maka daratan adalah tempat keluarga menjaga agar penghidupan itu tetap memiliki arti.

Dan jika suatu saat batik Tolitoli ingin menjadi identitas daerah yang kuat, ia tidak cukup hanya menjadi kain yang indah. Ia harus mampu bercerita tentang masyarakat yang melahirkannya.

Tentang tanah, tentang laut, tentang kerja, tentang perempuan, tentang nelayan, tentang kebudayaan dan tentang masa depan. Sebab pada akhirnya, kita tidak sedang menjaga selembar kain. Kita sedang menjaga cerita manusia yang tertulis di atasnya.

Dan di antara suara ombak, perahu nelayan yang pulang, serta tangan perempuan yang terus bekerja di daratan, mungkin di sanalah kita menemukan wajah lain dari batik Indonesia, wajah pesisir yang selama ini tidak selalu terlihat, tetapi sesungguhnya ikut menjaga kebudayaan negeri ini tetap hidup. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *