Lebaran Ketupat, Simpul Persaudaraan Warga Sumenep

Avatar photo
Ilustrasi Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kabupaten Sumenep (Masalembo.id/Istimewa)

SUMENEP, MASALEMBO.ID – Tradisi Tellasan Topa’ kembali menjadi denyut kehidupan masyarakat Kabupaten Sumenep usai perayaan Idulfitri. Momentum yang dikenal sebagai lebaran ketupat ini bukan sekadar perayaan kuliner khas, melainkan ruang sosial yang mempertemukan kembali hati-hati yang sempat berjauhan.

Di berbagai sudut desa hingga perkotaan, masyarakat tampak saling berkunjung, membawa ketupat dan hidangan pelengkap sebagai simbol kebersamaan. Suasana hangat terasa begitu kental, memperlihatkan bahwa tradisi ini masih hidup dan mengakar kuat di tengah arus modernisasi.

Bagi Ketua Fraksi Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan DPRD Sumenep Hosnan, Tellasan Topa’ adalah momen sarat makna, di mana masyarakat diajak untuk kembali merajut silaturahmi yang mungkin sempat terurai.

Saling membuka hati dengan kesadaran penuh dan kerendahan hati untuk saling merangkul satu sama lain dalam bingkai persaudaraan, sesama anak bangsa. Ia melihat tradisi Tellasan Topa’ harus menjadi simpul persaudaraan.

Baca Juga  Pasien Apresiasi Pelayanan Humanis RSUD Moh Anwar

“Di momen seperti ini, kita tidak hanya berkumpul, tetapi juga saling membuka hati, memaafkan, dan menguatkan kembali persaudaraan,” tuturnya, Sabtu (28/3).

Secara esensi Tellasan Topa’ lebih dari sekadar tradisi turun-temurun. Ia menjadi ruang refleksi sosial, di mana nilai-nilai kemanusiaan kembali ditegaskan melalui interaksi sederhana antarwarga. Ketupat yang tersaji di meja makan bukan hanya simbol pangan, tetapi juga perlambang keterikatan sosial yang saling menguatkan.

Menurut Hosnan, di balik anyaman ketupat yang tersaji, ada filosofi tentang kesederhanaan, kebersamaan, dan rasa syukur. Tradisi ini, menjadi pengingat bahwa kebahagiaan tidak selalu hadir dalam hal besar, tetapi justru dalam kebersamaan yang sederhana.

Baca Juga  Efisiensi Anggaran, BPKAD Integrasikan Aplikasi SIPAMANDAR dengan Layanan Tanda Tangan Elektronik BsrE

Fenomena ini terlihat jelas dari antusiasme masyarakat yang tetap mempertahankan kebiasaan tersebut, meskipun gaya hidup modern terus berkembang. Generasi tua dan muda berbaur dalam satu ruang budaya yang sama, memperlihatkan kesinambungan nilai dari masa ke masa. Hosnan pun mengajak generasi muda untuk tidak sekadar merayakan, tetapi juga memahami makna di balik tradisi tersebut.

“Tellasan Topa’ adalah warisan nilai. Jika tidak kita jaga, bukan hanya tradisinya yang hilang, tetapi juga makna kebersamaan di dalamnya,” ungkapnya.

Ajakan ini menjadi penting di tengah tantangan globalisasi yang kerap menggerus identitas lokal. Tanpa kesadaran kolektif, tradisi seperti Tellasan Topa’ berpotensi hanya menjadi seremoni tanpa makna. Padahal, di dalamnya terkandung nilai sosial yang relevan sepanjang zaman, seperti gotong royong, empati, dan solidaritas.

Baca Juga  Kemarau Basah, Warga Sumenep Menikmati Penundaan Ancaman Kekeringan

Selain itu, Tellasan Topa’ juga memiliki dimensi ekonomi dan budaya. Banyak pelaku usaha kecil yang turut merasakan dampak positif dari meningkatnya aktivitas masyarakat, mulai dari penjualan bahan makanan hingga kerajinan anyaman ketupat. Dengan demikian, tradisi ini tidak hanya memperkuat hubungan sosial, tetapi juga mendukung perputaran ekonomi lokal.

Di tengah perubahan zaman, Tellasan Topa’ tetap menjadi ruang hangat yang menyatukan keluarga, tetangga, dan masyarakat luas. Menjadi pengikat harmoni sosial yang tak lekang oleh waktu. (Red/TH)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *