Budaya Hidup, Indonesia Berdaya: MTsN 1 Polewali Mandar Hubungkan Hari Kebudayaan dengan Penguatan Literasi Siswa

Avatar photo
Formasi "Budaya Hidup Indonesia Berdaya" yang dibentuk siswa MTsN 1 Polewali Mandar untuk memperingati Hari Kebudayaan 2026. (Foto: Muhammad Ridwan Alimuddin)

TINAMBUNG, MASALEMBO.ID— Tema Hari Kebudayaan 2026, “Budaya Hidup, Indonesia Berdaya”, memperoleh bentuk penerapan yang menarik dalam kegiatan MTsN 1 Polewali Mandar. Madrasah tersebut memperingati Hari Kebudayaan dengan melibatkan sekitar 600 siswa yang membawa buku pada penutupan Kemah Akbar, Jumat (16/10/2026).

Kegiatan ini memperlihatkan salah satu cara menghubungkan kebudayaan dengan pendidikan, terutama melalui penguatan kebiasaan membaca di kalangan pelajar.

Kepala MTsN 1 Polewali Mandar, Ismail Saleh, menyampaikan bahwa perayaan Hari Kebudayaan dilaksanakan sehari lebih awal karena bertepatan dengan puncak kegiatan perkemahan yang telah berlangsung empat hari.

“Kami sudah lakukan seremoni tadi pagi sebagai bagian dari rangkaian acara kami, sebagai perayaan Hari Kebudayaan,” kata Ismail.

Menurutnya, seluruh siswa dilibatkan karena madrasah ingin menjadikan kegiatan tersebut sebagai bagian dari upaya membangun generasi yang mempunyai kemampuan dan pengetahuan untuk masa depan.
Ia mengatakan kegiatan yang berkaitan dengan literasi akan terus dikembangkan di madrasah.

Baca Juga  SDK di Hadapan Alumni PMII: Ada Karakter Anak Muda yang Belum Perang Sudah Kalah

Budayawan Mandar, Muhammad Ridwan Alimuddin, melihat adanya hubungan kuat antara tema Hari Kebudayaan dan upaya memperkuat budaya membaca di sekolah.
Ridwan yang juga dikenal sebagai penulis, pendokumentasi kebudayaan, dan Duta Baca Sulawesi Barat, menilai bahwa kata “berdaya” dalam tema tersebut perlu dimaknai secara luas.

Menurutnya, manusia yang berdaya bukan hanya manusia yang mempunyai keterampilan praktis atau kemampuan ekonomi, tetapi juga mampu memahami informasi dan menggunakannya secara tepat dalam kehidupan.

“Berdaya tidak hanya berarti memiliki kemampuan ekonomi. Masyarakat yang berdaya adalah masyarakat yang memiliki literasi dasar yang kuat, sehingga mampu memahami informasi, menggunakan teknologi secara kritis, membuat keputusan, dan menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupan sehari-hari,” ujar penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia 2025 itu.

Baca Juga  Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi Tingkatkan Kompetensi Operator SPBU melalui Upskilling Bersama Hiswana Migas Pare-Pare

Ia menekankan bahwa pengembangan literasi baca-tulis merupakan dasar penting yang mendukung penguasaan berbagai kecakapan lain.

Di tengah perkembangan teknologi, misalnya, siswa membutuhkan literasi digital untuk memilah informasi dan menggunakan media secara bertanggung jawab. Literasi numerasi dan keuangan juga diperlukan untuk memahami persoalan yang berkaitan dengan angka, perencanaan, dan pengelolaan sumber daya.

Begitu pula literasi sains serta budaya dan kewargaan yang membantu siswa memahami lingkungan, masyarakat, dan tanggung jawab sosialnya. Karena itulah, Ridwan berharap kegiatan membawa buku dalam peringatan Hari Kebudayaan dapat menjadi pintu masuk pengembangan budaya membaca yang berkelanjutan.

Camat Tinambung, Muhammad Rifai, yang juga merupakan pekerja seni, menyambut positif kegiatan tersebut. Ia menilai keterlibatan madrasah dalam peringatan Hari Kebudayaan memperlihatkan bahwa aktivitas kebudayaan di Tinambung tidak hanya berlangsung dalam komunitas seni, tetapi juga melibatkan lembaga pendidikan.

Baca Juga  Adaq Tuho dan Adaq Mate: Falsafah Hukum yang Menjaga Harmoni dan Martabat

“Kami sangat bangga dan sangat senang mengapresiasi kegiatan ini,” kata Rifai.

Menurutnya, Tinambung memiliki kehidupan kesenian dan kebudayaan yang aktif. Keterlibatan MTsN 1 Polewali Mandar menjadi bagian dari dinamika tersebut. Rifai juga menyampaikan ucapan selamat Hari Kebudayaan 2026 dengan tema “Budaya Hidup, Indonesia Berdaya”.

Bagi Ridwan, tema tersebut mengandung pesan bahwa kebudayaan perlu terus dihidupkan dalam tindakan sehari-hari. Salah satu langkah yang dapat dilakukan sekolah adalah memastikan kegiatan membaca menjadi kebiasaan, bukan sekadar aktivitas yang dilaksanakan ketika ada peringatan tertentu.

Dengan kebiasaan membaca yang kuat, menurutnya, siswa akan memiliki fondasi pengetahuan untuk mengembangkan berbagai kemampuan literasi dasar, sehingga lebih siap menghadapi perubahan dan berkontribusi bagi masyarakat. (ril/har)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *